- Penulis : Putu Shinta Aiswarya
SELAIN dikenal dengan wisata baharinya yang apik, ternyata Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak memiliki salah satu UMKM yang unik, yakni Bali Salt Artisanal yang memiliki beragam jenis garam dengan berbagai manfaatnya. Usaha ini berada di bawah naungan CV. Bali Artisan Salt yang kantornya berada di Desa Pemuteran dan Jakarta.
Garam ini diproduksi menjadi berbagai jenis, yakni pyramid salt atau garam pyramid yang dibuat dari garam laut yang mengandung banyak mineral dari pesisir pantai Bali Timur. Garam ini dibuat dengan konvensional dan masih mengedepankan sisi tradisional yang akhirnya menghasilkan garam berbentuk piramid. Dalam UMKM ini, garam piramid merupakan garam yang paling dikenal dan laris di pasar internasional.
Disamping itu, jenis garam lainnya yakni Rock Sea Salt atau garam laut batu dengan bentuknya yang kotak dan terkesan seperti batu, Coarse Sea Salt atau garam laut kasar, Fleur De Sel atau bunga dari garam, Fine Grain Sea Salt, Flake Salt, dan yang unik lainnya adalah Black Salt dengan tambahan charcoal atau arang hitam serta Smoked Salt yang melalui proses pembakaran sehingga garam menghasilkan aroma asap hasil pembakaran. Semua garam yang dihasilkan dari produksi tersebut dapat dibedakan berdasarkan bentuk dari garam yang dihasilkan.

Sejarah Produksi Garam
Berdasarkan penuturan Wayan Kanten, selaku tim pemasaran dan pengelola dari Bali Salt Artisanal, UMKM ini memberdayakan warga lokal Desa Pemuteran yang dengan setulus hati mengabdi untuk membangun sektor ekonomi di Pemuteran. Hal ini bermula juga ketika rekan dari Wayan Kanten memberikan tantangan untuk membuat garam, sehingga dengan kerja sama dan ketekunan yang dimiliki oleh tim produksi, menghasilkan garam yang unik dengan berbagai bentuk yang telah dihasilkan. Tentunya garam tersebut berbeda dengan garam biasa yang produksinya monoton sesuai dengan yang dilihat sehari-hari, dan garam yang paling terkenal yakni Garam Piramid.
“Garam piramid tentunya yang populer, karena dia terbentuk tanpa menggunakan mesin atau cetakan. Jadi dia lahir sendiri dengan bentuk seperti itu”, ujar Kanten.
Proses Pembuatan Garam
Salah satu tim produksi yakni Bapak Made Gelgel secara jelas memaparkan terkait dengan alur pembuatan dari garam unik ini, beliau berkata bahwa bahan baku garam akan dicuci terlebih dahulu dengan satu kali pencucian, namun penyaringan yang dilakukan hingga tiga kali.
“Pencuciannya menggunakan air tawar hingga garam benar-benar bersih nantinya”, kata Gelgel.
Kemudian setelah adanya pencucian, dilanjutkan dengan proses filter atau penyaringan. Proses ini lalu beralih ke tahap pengendapan yang didiamkan selama 3-4 hari hingga endapan kotoran akan terkumpul di dasar wadah.
Hasil dari filterisasi akan dituangkan pada meja penjemuran yang dilakukan dalam rumah kaca, sehingga akan terbentuk kristal garam dari proses pengeringan yang terjadi. Setelah itu, dilakukan proses pengeringan yang dipanen secara manual menggunakan scoop yang selanjutnya dilakukan proses sortasi jenis garam yang berbeda bentuk dan keunikan.
Konsistensi dari kualitas garam ini tentunya terjamin, karena terdapat proses reprocessing dan pengeringan dalam rumah kaca yang sangat steril.
Kanten juga turut menyatakan bahwa produksi garam ini dilakukan sepanjang hari dan tingkat percepatan produksi garam dipengaruhi oleh iklim atau cuaca yang ada di Pemuteran.
Jika produksi garam dilakukan ketika musim hujan, maka garam akan terbentuk sekitar satu minggu penjemuran, namun jika pembuatan garam dilakukan pada musim kering atau panas, maka suhu rumah kaca akan meningkat dan penjemuran akan lebih singkat yakni dengan waktu kurang lebih tiga hari.

Manfaat Konsumsi Garam Pemuteran
Tentunya kegunaan garam sangat penting bagi dunia kuliner, namun tidak hanya itu. Kanten menjelaskan bahwa khususnya garam Pemuteran yang diproduksi ini memiliki keunggulan yakni bebas pemutih, mikroplastik, kadar air rendah, kaya mineral, dan tentunya bebas cemaran logam.
Hal ini dikarenakan pembuatan garam yang sangat ketat meskipun masih menggunakan metode konvensional, sehingga nilai tambah dari garam ini dapat diperhitungkan di kancah dunia. Adapun manfaat dari garam tersebut adalah untuk memasak, berendam atau spa, obat kumur, hingga berguna di bidang kesehatan. Jadi, selain dari bentuknya yang unik, manfaat dari garam ini sangat beragam dan dapat dijadikan pilihan untuk kebutuhan konsumen.
Garam-garam tersebut juga dikemas dengan unik dan sesuai dengan permintaan dari klien yang mayoritas berasal dari luar Indonesia, karena mereka cinta akan budaya Bali dan menginginkan bentuk tertentu sesuai dengan adat Bali. Garam ini sudah diekspor hingga ke luar negeri seperti Belanda, Swedia, dan negara-negara lainnya.
Namun sayangnya masyarakat lokal belum mengetahui secara menyeluruh bahwa produk lokal Bali sangat unik dan bermanfaat yang harusnya masyarakat konsumsi selain garam dapur biasa. Selain itu, sulitnya menembus pasar masyarakat juga turut menjadi alasan atas kurang populernya garam ini, karena harga yang cukup tinggi membuat masyarakat mempertimbangkan kembali untuk membeli garam ini.
Padahal, harga yang ditawarkan sudah sangat sesuai dengan kualitas yang dihasilkan dari garam tersebut serta kerumitan dari pembuatan garam yang menjadi tolak ukur harga. Adapun kisaran harga garam ini dimulai dari Rp 60.000,00 hingga Rp 180.000,00.
Sebagai ranah UMKM yang ingin mengembangkan bisnisnya hingga mendunia, tentunya garam Pemuteran ini dapat menjadi salah satu solusi dalam permasalahan tersebut. Terlebih lagi dengan keunikan dari bentuk yang dihasilkan dan tangan tim produksi yang senantiasa tulus hati untuk membuat garam tersebut, seharusnya tidak membuat masyarakat merasa garam tersebut hanya harus diekspor saja, namun penggunakan produk lokal dalam negeri adalah wujud dari pengembangan sektor UMKM dan wujud cinta tanah air. (bs)


Can I buy any of these products and have it delivered to the UK