Oleh Umar Ibnu Alkhatab *)
MASALAH kepemimpinan haruslah menjadi isu yang patut dibicarakan terus menerus dalam berbagai forum demi menemukan kriteria dan sosok yang tepat guna menerima dan meneruskan estafeta kepemimpinan, baik nasional maupun daerah, sehingga apa yang menjadi tujuan bernegara, yakni memajukan kesejahteraan umum, bisa dicapai dengan optimistik melalui sosok dengan kriteria yang tepat itu.
Pentingnya kesinambungan kepemimpinan ini telah mendorong Presiden Jokowi, saat memberikan arahan dalam peluncuran rancangan akhir Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025-2045 oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) pada pertengahan Juni 2023 yang lalu, menekankan betapa kepemimpinan yang berkesinambungan merupakan aspek penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Apa yang disampaikan Presiden di atas menunjukkan betapa estafeta kepemimpinan adalah sebuah keharusan demi menjaga stabilitas pembangunan dan demi merawat keberlanjutan akan gagasan yang berdimensi kemaslahatan masyarakat. Dalam konteks ini, estafet kepemimpinan perlu disiapkan dengan baik agar peralihan kepemimpinan dapat berjalan mulus dan harapan akan keberlanjutan pembangunan dapat terjaga.
Prasyarat utama estafeta kepemimpinan adalah adanya penyiapan sumber daya kepemimpinan yang dilakukan secara berkesinambungan. Di antara lembaga yang bisa menyiapkan sumber daya itu adalah partai politik dan organisasi kemahasiswaan atau kemasyarakatan melalui kaderisasi dan latihan-latihan kepemimpinan yang dibuatnya.
Baik partai politik maupun organisasi kemahasiswaan atau kemasyarakatan merupakan dua kawah candradimuka yang bisa diharapkan untuk melahirkan calon pemimpin yang pada gilirannya akan menerima tongkat estafet kepemimpinan yang ada. Kedua lembaga ini memiliki instrumen yang lengkap untuk mendidik calon-calon pemimpin dan kemudian membuka peluang bagi mereka untuk terlibat dalam sirkulasi kepemimpinan nasional maupun daerah.
Sebagai lembaga yang par excellence, baik partai maupun organisasi kemahasiswaan atau kemasyarakatan, kedua lembaga ini mampu menghasilkan figur-figur intelektual dan organisatoris yang kuat sekaligus. Itu sebabnya mengapa di dalam rekrutmen kepemimpinan nasional dan daerah kita selalu menaruh harapan kepada kedua lembaga tersebut sebagai penyedia sumber daya manusia yang mumpuni.
Kedua lembaga ini telah ditahbiskan menjadi semacam pabrik yang secara terus menerus mencetak produk unggulan untuk bersaing di pasar politik guna menjadi pemimpin-pemimpin yang memiliki visi yang unggul dan jauh ke depan.
Tetapi secara terpisah kita perlu memberikan apresiasi khusus kepada organisasi kemahasiswaan atau kepemudaan yang berada di luar kampus yang secara sukarela menggodok dan menempa para anggotanya agar memiliki kapasitas yang mumpuni sebagai kader yang kelak yang akan menerima tongkat estafet kepemimpinan baik nasional maupun daerah.
Organisasi kemahasiswaan atau kepemudaan adalah wadah di mana kesadaran dan tanggung jawab sosial diasah dan ditumbuhkan melalui beragam kegiatan baik politik, ekonomi, sosial dan budaya. Organisasi ini bekerja secara kreatif, dinamis, inovatif dan produktif sehingga mampu melahirkan sosok-sosok yang visioner yang kelak diperlukan
untuk kemajuan bangsa dan negara.
Secara faktual, peran organisasi kemahasiswaan atau kepemudaan eksternal ini sangat terasa terutama saat terjadi rekrutmen kepemimpinan pada semua level oleh karena munculnya persaingan di antara calon-calon pemimpin muda yang enerjik dan visioner hasil tempaan organisasi kemahasiswaan eksternal tersebut.
Pentingnya peran organisasi kemahasiswaan atau kepemudaan eksternal itu telah mendorong Pak Koster, dalam kapasitasnya sebagai Gubernur Provinsi Bali, hadir dalam kegiatan Kursus Kepemimpinan Lanjut (KKL) I Pemuda Katolik, yang dihelat di Denpasar pada hari Jumat tanggal 2 Desember 2022.
Di hadapan para peserta KKL I yang datang dari berbagai provinsi di tanah air ini, Pak Koster mengapresiasi dan menilai kegiatan KKL I sangatlah penting untuk menggembleng karakter para calon pemimpin bangsa. Bagi Pak Koster, sebagai sebuah organisasi mahasiswa dan kepemudaan yang bernafaskan agama, Pemuda Katolik harus menjadi pilar utama yang memperjuangkan nilai-nilai kebhinekaan dan Pancasila.
Lebih dari itu, menurut Pak Koster, Pemuda Katolik pada gilirannya harus mampu mengimplementasikan nilai-nilai keyakinan yang dianutnya itu di dalam lingkup organisasinya sehingga para mahasiswa dan pemuda yang berhimpun di dalamnya bisa terbentuk karakternya dan mampu menjadi pemimpin yang bisa membawa kemajuan bagi bangsanya.
Pak Koster berharap agar Pemuda Katolik bisa menginternalisasikan nilai-nilai yang diyakininya itu di dalam KKL I sehingga bisa menginspirasi para peserta dan membentuk karakter mereka sebagai calon pemimpin dengan kualitas rohani yang kuat dan memiliki sifat dan sikap altruistik yang kuat pula di dalam kehidupannya. Pak Koster juga berharap agar para peserta bisa mengemban amanah organisasinya dengan baik dan menyiapkan diri menjadi pemimpin yang bisa mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemajuan.
Secara khusus Pak Koster mengajak Pemuda Katolik secara bersama-sama untuk membangun dan menjaga Bali dengan penuh keharmonisan agar Bali semakin beranjak kelasnya di mata dunia, dan pertumbuhan ekonominya menjadi semakin baik. Menyambut ajakan Pak Koster itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Stefanus Asat Gusma, menyebutkan bahwa kader Pemuda Katolik memiliki komitmen yang kuat untuk berbuat demi Gereja (ecclesia) dan Negara (patria).
Menurutnya, selain aspek kepemimpinan, tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk merumuskan segala upaya pemulihan ekonomi bangsa, termasuk merumuskan bagaimana memulihkan ekonomi Bali khususnya akibat krisis pandemi Covid-19. Gusma memastikan bahwa ajakan Pak Koster itu akan menjadi spirit bagi para kadernya ketika menjalankan perannya sebagai anggota masyarakat dan sebagai pemimpin pada masa yang akan datang.
Tentu saja, estafeta kepemimpinan merupakan suatu yang alamiah. Tetapi peralihan kepemimpinan perlu dipersiapkan dengan baik agar kesinambungan pembangunan dapat berjalan dengan baik dan dapat mencapai pada apa yang dicita-citakan bersama sebagai sebuah bangsa.
Oleh karena itu, kita perlu menggerakkan semua lembaga, baik politik maupun kemahasiswaan, kepemudaan dan kemasyarakatan agar tetap setia menggodok para calon pemimpin di dalam lembaganya masing-masing sehingga bangsa ini tidak kehabisan stok pemimpin yang visioner dan memiliki kapasitas rohani yang kuat.
Apa yang dilakukan oleh Pemuda Katolik harus mendapatkan sokongan dari kita semua karena melalui organisasi semacam Pemuda Katolik inilah kita bisa memiliki optimisme bahwa masa depan kita akan dipimpin oleh mereka yang dilahirkan dari organisasi kader yang kuat dan karena itu mereka memiliki visi yang bagus tentang masa depan bangsanya.
Ketersediaan calon pemimpin harus dijamin agar terhubung antara satu kepemimpinan dengan kepemimpinan yang lain dalam soal mencapai cita-cita bangsa. Bagaimana pun, masa depan sebuah bangsa dan sekaligus peradabannya sangat ditentukan oleh generasi muda yang saat ini berada di kampus-kampus dan organisasi-organisasi yang ada. Baik-buruknya sebuah bangsa dapat dilihat dari bagaimana generasi mudanya mendapatkan sosialisasi pengetahuan dan pengalamannya saat ini.
Karena itulah kita memahami mengapa generasi muda yang terlibat di dalam pengkaderan menjadi tumpuan utama di dalam upaya kita membawa bangsa ini lebih maju lagi. Kader muda yang ditempa dalam organisasi akan mampu memunculkan optimisme kita sebagai bangsa karena mereka telah menyerap semua nilai kebaikan berikut dengan nilai patriotisme yang didapatkan dari arena pengkaderan dan pelatihan.
Akhirnya, tantangan besar kita adalah bagaimana menumbuhkan semangat berorganisasi di kalangan generasi muda sehingga bersedia berhimpun dan terlibat di dalam organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan. Pada saat yang sama kita juga dihadapkan pada soal bagaimana menyuburkan lembaga kemahasiswaan dan kepemudaan yang ada sehingga bersedia secara getol mengadakan pengkaderan yang kemudian bisa menghasilkan sosok-sosok pemimpin yang akan mengisi kepemimpinan di masa depan.
Sebagian dari tantangan itu telah dijawab oleh Pak Koster dengan cara memberikan dukungan langsung pada acara yang digelar oleh Pemuda Katolik di Bali beberapa waktu yang lalu. Kita optimis jika makin banyak orang yang ikut mendukung kegiatan pengkaderan oleh lembaga manapun, maka sosok-sosok pemimpin memiliki kapasitas intelektual dan organisasional akan muncul bagaikan cendawan di musim hujan.
Itu artinya kita tak perlu khawatir dengan masa depan bangsa karena kita memiliki banyak calon pemimpin yang visioner dan mumpuni yang lahir dari lembaga kemahasiswaan dan kepemudaan yang memiliki tradisi pengkaderan yang kuat. Wassalam.
Jogjakarta, 4 Oktober 2023
*) Penulis adalah Analis Kebijakan Publik

