Pentingnya Pemberian Motivasi dalam Mengembangkan Kualitas Belajar Anak

Esai Dr. Surayanah *)

Akibat Pandemi, 40 Persen Pelajar Indonesia Kehilangan Motivasi Belajar

SELAMA pandemi Covid-19 di Indonesia, temuan Save the Children mengungkapkan bahwa sebanyak 646.000 sekolah ditutup, menyebabkan lebih dari 60 juta anak terdampak. Anak-anak ini terpaksa harus melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring.

Namun, setelah hampir 9 bulan pandemi, 40 persen orangtua melaporkan bahwa motivasi belajar anak semakin menurun. Penyebab utama kehilangan motivasi belajar tersebut adalah karena anak merasa bosan, tugas yang terlalu banyak, metode belajar yang kurang menyenangkan, kurangnya interaksi, dan berebut fasilitas.

Keterbatasan ekonomi juga menjadi faktor penting, dimana tidak setiap anak memiliki ponsel dan harus meminjam dari orangtua. Masalah lain yang ditemukan adalah kesulitan menyediakan bahan belajar dan minimnya pemantauan kegiatan belajar oleh guru. Akibatnya, 80 persen anak mengalami kesulitan dalam pembelajaran dari rumah.

Waktu belajar anak juga berkurang drastis selama pandemi, dengan 70 persen orangtua dan 73 persen anak melaporkan bahwa waktu belajar di rumah jauh lebih sedikit. Bahkan ada data yang menunjukkan bahwa 1 persen dari 60 juta pelajar di Indonesia merasa tidak belajar sama sekali selama proses PJJ. (SUARA.COM)

Motivasi adalah suatu unsur yang tidak kalah penting dalam mendukung proses belajar seorang anak. Anak yang termotivasi dalam belajar cenderung lebih lancar dalam menjalani proses belajar. Sebaliknya siswa yang tidak termotivasi dalam belajar cenderung sering mendapat kesulitan dalam menjalani proses belajar karena pada dasarnya motivasi seseorang menentukan tinggi rendahnya semangat seseorang dalam melakukan suatu hal.

Dengan adanya semangat dalam diri seseorang tentunya dapat mendukung terlaksananya suatu kegiatan seseorang. Jadi secara tidak langsung, Motivasi juga menentukan keberhasilan suatu perbuatan atau kegiatan seseorang.

Motivasi sendiri merupakan suatu bentuk dorongan yang akan timbul dari dalam diri seseorang untuk melakukan ataupun berfikir yang memiliki tujuan tertentu baik itu dalam keadaan sadar maupun dalam kondisi tidak sadar. Sedangkan motivasi belajar merupakan suatu bentuk dorongan yang akan timbul dari dalam diri seseorang untuk melakukan suatu bentuk tindakan yang khususnya belajar.

Ada beberapa faktor yang dapat mendukung atau membuat seorang peserta didik menjadi termotivasi, faktor tersebut antara lain faktor internal atau dalam dan faktor eksternal atau luar. Faktor internal merupakan faktor atau pengaruh yang dapat mnumbuhkan motivasi dan akan timbul dari dalam diri sendiri. Faktor internal bisa berupa keinginan untuk berhasil melakukan sesuatu atau berhasil mencapai cita-cita yang diinginkan.

Sedangkan faktor eksternal adalah faktor atau pengaruh yang dapat menumbuhkan motivasi seseorang dan pengaruhnya berasal dari luar diri sendiri. Faktor eksternal bisa berupa pemberian penghargaan, kegiatan yang menarik dan asyik, serta lingkungan kondusif dan mendukung.

Pada model pembelajaran konvensional, guru sering tidak memperhatikan pentingnya motivasi belajar ini, sehingga dalam penerapan pembelajaraannya mereka banyak mengajar dengan metode yang dinilai kurang tepat seperti banyak memberikan tugas, memberikan materi yang terlalu banyak dalam satu waktu, menekan siswa dalam kegiatan pembelajaran, dan masih banyak lagi.

Alhasil siswa banyak yang mengalami penurunan prestasi bahkan tidak jarang yang malas untuk sekolah. Oleh karena itu, pada model pembelajaran yang baru di setiap pelaksanaan pembelajaran selalu menggunakan metode yang membuat siswa senang, tidak jenuh, dan dapat belajar dengan aman dan nyaman tanpa tertekan, sehingga siswa menjadi termotivasi untuk belajar.

Motivasi memiliki pengaruh penting dalam pada suatu proses pembelajaran sehingga perlu adanya motivasi belajar dalam diri setiap siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar. Adapun pola-pola dalam motivasi. Pola motivasi di sini dimaknai sebagai sikap yang mempengaruhi cara pandang seseorang pada suatu pekerjaan, dan menjalani kehiduoan mereka.

Ada empat pola dalam motivasi, yaitu prestasi, afiliasi, kompetensi, dan kekuasaan. Prestasi di sini dimaknai sebagai dorongan dengan tujuan untuk menaklukkan suatu tantangan dan untuk maju serta berkembang. Selanjutnya ada afiliasi yang bermakna dorongan untuk dapat berhubungan dengan orang lain secara efektif.

Yang ketiga ada kompetensi yang berarti dorongan dengan tujuan untuk mencapai suatu pencapaian dalam kualitas tinggi. Yang keempat adalah kekuasaan yang berarti dorongan dengan tujuan untuk mempengaruhi orang lain dan juga situasi tertentu (Davis & Newstrom, 1994: 87).

Adapun macam-macam motivasi dari pembelajaran yang bisa digolongkan menjadi 2 penggolongan yakni motivasi jenis intrinsik serta motivasi jenis ekstrinsik.  Motivasi jenis intrinsik dapat didefiniskan sebagai dorongan-dorongan yang dapat menjadi aktif dari dalam diri sendiri atau dengan kata lain dapat berfungsi tanpa perlu adanya rangsangan dari luar dikarenakan dari dalam individu tersebut sudah ada dorongan atau kemauan untuk melakukan sesuatu. Jadi motivasi ini muncul dari dalam diri sendiri.

Sedangkan, motivasi jenis ekstrinsik bisa didefinisikan sebagai dorongan-dorongan yang dapat menjadi aktif atau fungsinya dapat aktif melalui rangsangan dari luar. Bisa diambil contoh seseorang mau belajar dikarenakan besoknya ada ujian agar mendapat hasil  yang baik. Jadi seseorang tersebut bukan belajar karena ingin menambah pengetahuannya namun karena adanya dorongan dari luar agar dirinya bisa berhasil ujian dan memperoleh nilai yang bagus.

Jadi dapat disimpulkan bahwa orang tersebut mau belajar bukan karena keinginan mutlak ingin menambah pengetahuan namun dari rangsangan luar berupa nilai yang bagus saat ujian. (Sardiman, 2011:89).

Adapun beberapa motivasi-motivasi yang banyak diberikan kepada siswa-siswanya di sekolah sekolah. Yaitu berupa memberi angka, pujian, hadiah, memberikan tugas, dan gerakan tubuh.

Pemberian angka juga bisa disebut sebagai pemberian nilai. Pemberian angka atau nilai ini merupakan pemberian simbol sebagai hasil dari aktivitas peserta didik. Dalam pemberian nilai ini diberikan kepada peserta didik secara bervariasi berdasarkan  tingkatan kualitas pekrjaan yang telah dikerjakan.

Peserta didik yang melaksanakan aktivitas atau pekerjaan dengan baik akan diberikan nilai yang baik. Sebaliknya peserta didik yang melaksanakan aktivitas atau pekerjaannya dengan kualitas kurang baik akan diberikan nilai yang kurang baik pula. Dengan begitu siswa akan termotivasi untuk meningkatkan kualitas diri mereka agar mendapat nilai yang baik.

Pemberian hadiah merupakan pemberian sesuatu berupa benda yang berfungsi sebagai kenang-kenangan kepada siswanya yang memiliki prestasi. Dengan diberikannya hadiah kepada siswa, siswa tersebut akan termotivasi untuk melakukan usaha lebih dengan tujuan mendapatkan hadiah dari gurunya.

Pujian akan senantiasa diharapkan oleh siswa yang memiliki prestasi. Dengan adanya pujian, maka menandakan guru tersebut memberikan respon atau perhatian kepada peserta didiknya. Hal tersebut akan mengakibatkan peserta didik menjadi termotivasi untuk ikut bersaing dengan peserta didik lainnya dalam meningkatkan kualitas diri.

Guru yang mengajar dengan melakukan gerakan tubuh misalnya dengan memberikan mimik wajah, gerakan tangan, gerakan tubuh, dsb, dapat menciptakan suasana yang dapat menjadikan siswa lebih mudah memahami materi yang diberikan.

Memberikan tugas. Tugas merupakan suatu pekerjaan yang menuntut suatu penyelesaian, sehingga dengan diberikannya tugas tersebut, siswa harus segera menyelesaikannya. Dengan demikian siswa dapat belajar demi menyelesaikan tugas. Namun tugas yang berlebihan justru dapat membebani siswa sehingga pemberian tugas tidak perlu berlebihan. []

*) Penulis adalah Dosen Universitas Negeri Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *