- Menjaga Keseimbangan Antara Otoritas dan Empati
Esai Dr. Surayanah *)
2 Anak di Jaksel Nekat Kabur dari Rumah gegara Anggap Ortu Diktator
DUA anak berusia 13 tahun dengan inisial DE dan BF di Tebet, Jakarta Selatan, kabur dari rumah karena merasa orang tuanya diktator. Orang tua mereka melaporkan kejadian ini ke Polsek Tebet.
Kapolsek Tebet, Kompol Chitya Intania, menyatakan bahwa kedua anak itu kabur pada Sabtu, 6 Mei 2023, sekitar pukul 23.00 WIB. Orang tua khawatir karena usia DE dan BF masih di bawah umur. Pihak kepolisian langsung mencari keberadaan mereka, namun sinyal ponsel tidak terdeteksi.
Akhirnya, DE dan BF ditemukan di Kebumen, Jawa Tengah, dan keluarga menjemput mereka untuk kembali ke Jakarta pada Kamis, 10 Mei 2023. Setelah kembali, pihak kepolisian mengunjungi rumah mereka dan mengimbau agar mereka tidak mengulangi perbuatan tersebut.
DE dan BF mengaku kabur karena menganggap orang tua mereka diktator. Polisi meminta orang tua mereka untuk menjalin komunikasi yang lebih baik untuk memahami perasaan dan keinginan kedua anak tersebut. DE dan BF telah meminta maaf atas perbuatan mereka dan berjanji untuk tidak melarikan diri lagi. (detiknews)
Perilaku siswa di lingkungan sekolah sangat penting dan melibatkan interaksi dengan guru, teman sebaya, serta keterlibatan dalam kegiatan akademik dan non-akademik. Perilaku bisa positif atau negatif, dan mengelola masalah perilaku dengan bijak sangat penting karena memiliki dampak signifikan pada lingkungan belajar, perkembangan siswa, dan keseluruhan proses pendidikan.
Guru yang mengelola masalah perilaku dengan bijak dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, aman, nyaman, dan fokus pada pembelajaran. Lingkungan belajar yang tidak kondusif dapat terjadi jika masalah perilaku siswa tidak ditangani dengan bijak.
Mengelola masalah perilaku siswa dengan bijak adalah hal yang penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Perilaku siswa mencakup berbagai tindakan dan interaksi di lingkungan sekolah, seperti interaksi dengan guru dan teman sebaya, respons terhadap aturan dan instruksi, serta keterlibatan dalam kegiatan akademik dan non-akademik.
Perilaku siswa dapat positif atau negatif dan memiliki dampak signifikan terhadap lingkungan belajar, perkembangan pribadi siswa, dan keseluruhan proses pendidikan. Guru yang mengelola masalah perilaku dengan bijak dapat membangun hubungan yang positif dengan siswa, memperkuat ikatan antara guru dan siswa, serta membantu siswa mengembangkan keterampilan sosial yang penting.
Dengan mengelola masalah perilaku siswa secara bijak, kita dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik, membantu siswa tumbuh dan berkembang, membangun hubungan yang positif, dan membekali mereka dengan keterampilan sosial yang penting, sehingga mendukung tujuan pendidikan yang holistik dan menyediakan fondasi yang kuat bagi perkembangan siswa secara menyeluruh.
Perilaku siswa memainkan peran penting dalam proses pendidikan, dan dapat mempengaruhi interaksi sosial, suasana di dalam kelas, dan proses pembelajaran. Mengelola masalah perilaku siswa dengan bijak merupakan tantangan yang dihadapi oleh para pendidik di semua tingkat pendidikan.
Pendekatan yang terlalu otoriter atau terlalu berfokus pada empati dapat mengorbankan keseimbangan antara otoritas dan empati yang penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Mengelola perilaku siswa dengan bijak membutuhkan keseimbangan yang tepat antara otoritas dan empati, yang dapat memastikan aturan dipatuhi, membangun hubungan yang baik dengan siswa, dan memperkuat ikatan antara guru dan siswa. Setiap situasi memiliki kompleksitas dan beragamnya masalah, sehingga pendidik perlu mengembangkan pendekatan dan strategi yang tepat untuk menjaga keseimbangan antara otoritas dan empati dalam menghadapi masalah perilaku siswa.
Dengan pendekatan yang tepat, pendidik dapat menciptakan lingkungan kondusif dan memfasilitasi perkembangan pribadi siswa. Hal ini akan membantu siswa mengembangkan keterampilan sosial yang penting dan membangun hubungan yang positif dengan pendidik. Namun, untuk mencapai tujuan tersebut, memahami dan menangani masalah perilaku siswa dengan bijak sangat penting dalam mengembangkan lingkungan belajar yang positif.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menjaga keseimbangan antara otoritas dan empati dalam mengelola perilaku siswa. Otoritas perlu memiliki aturan jelas dan terstruktur serta menetapkan pembatasan dan disiplin yang konsisten, namun demikian pendekatan empati juga perlu dipertimbangkan untuk memperhatikan kebutuhan individu siswa dan memberikan dukungan yang sesuai. Kombinasi antara otoritas yang bijaksana dan empati yang mendalam berkontribusi pada lingkungan belajar yang kondusif dan perkembangan siswa yang optimal.
Pentingnya menjaga keseimbangan antara otoritas dan empati dalam mengelola perilaku siswa terkait dengan pembentukan keterampilan sosial dan pengembangan emosi yang sehat. Otoritas membantu siswa memahami pentingnya mematuhi aturan dan menghormati hak orang lain, sementara empati memperkuat keterampilan sosial siswa. Ini menciptakan kesempatan bagi siswa untuk berkembang secara pribadi dan akademik.
Otoritas memberikan struktur dalam lingkungan belajar, memungkinkan siswa fokus pada pembelajaran dan mencapai tujuan akademik mereka. Empati membantu mendukung kebutuhan individu siswa, memotivasi mereka untuk mencapai potensi penuh.
Empati membantu pendidik memahami latar belakang dan motivasi siswa, serta membangun hubungan yang baik antara guru dan siswa. Otoritas memberikan struktur dan batasan yang diperlukan, sementara empati memastikan bahwa siswa merasa didengar, dihargai, dan dipahami.
Melalui pendekatan yang seimbang antara otoritas dan empati, pendidik dapat menciptakan lingkungan belajar yang teratur, efektif, inklusif, dan mendukung perkembangan siswa secara pribadi dan akademik. Pentingnya menjaga keseimbangan antara otoritas dan empati dalam mengelola perilaku siswa tidak dapat diragukan lagi. Otoritas yang bijaksana memberikan struktur, aturan, dan disiplin yang diperlukan dalam lingkungan belajar.
Tanpa otoritas, kelas bisa menjadi kacau dan tidak efektif. Aturan yang jelas dan konsekuensi yang adil membantu siswa memahami batasan dan bertanggung jawab atas perilaku mereka. Ini menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran dan membantu siswa mengembangkan keterampilan sosial yang penting.
Namun, jika otoritas tidak seimbang dengan empati, risiko terjadinya ketidaknyamanan dan disengagement siswa. Siswa perlu merasa didengar, dihargai, dan dipahami agar mereka merasa aman dan termotivasi untuk belajar. Empati memungkinkan pendidik untuk merespon kebutuhan dan perasaan siswa secara efektif, dan menciptakan iklim yang inklusif dan positif di dalam kelas.
Pendidik memiliki peran penting dalam mengelola perilaku siswa di dalam kelas. Untuk berhasil dalam mengelola perilaku siswa, pendidik harus menjaga keseimbangan antara otoritas dan empati. Otoritas dapat membantu mempertahankan kedisiplinan di dalam kelas, sementara empati dapat membantu memahami kebutuhan siswa secara individual.
Dengan membangun hubungan yang kuat dengan siswa dan menggunakan pendekatan partisipatif dalam pembuatan aturan, siswa dapat merasa lebih terlibat dalam proses pembelajaran dan menjaga perilaku yang baik. Selain itu, menggunakan strategi pengajaran yang beragam seperti pembelajaran kooperatif, pengajaran berbasis proyek, atau penggunaan teknologi dapat membantu mencegah atau mengatasi perilaku yang bermasalah dengan memberikan tantangan dan keterlibatan yang lebih tinggi bagi siswa.
Dengan demikian, otoritas yang bijaksana memberikan kerangka kerja yang diperlukan untuk belajar yang efektif, sementara empati memperkuat keterampilan sosial siswa dengan mengajarkan mereka tentang pengertian, toleransi, dan kerjasama. Pendidik harus ingat bahwa setiap siswa adalah individu yang unik, dengan latar belakang, kebutuhan, dan tantangan yang berbeda.
Dalam proses ini, siswa belajar mengenali dan mengelola emosi mereka sendiri serta memahami perasaan dan perspektif orang lain. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan antara otoritas dan empati adalah kunci untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif.
Dengan mempraktekkan kedua aspek ini secara harmonis, pendidik dapat menciptakan lingkungan yang mendukung dan positif, membentuk keterampilan sosial dan pengembangan emosi yang sehat, dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi siswa.
Mari kita berkomitmen untuk mengimplementasikan pendekatan holistik ini dalam mengelola perilaku siswa dan menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, inspiratif, dan memberi manfaat bagi siswa kita. []
*) Penulis adalah Dosen di Universitas Negeri Malang

