Komunitas Muslim di Kampung Pabean Sangsit, Buleleng (4-Habis)

Kesenian Serone, Rumah Panggung, dan Misteri Al Qur’an Kuno

Jumat (16/6/2023), pengurus Forum Pemerhati Sejarah Islam (FPSI), yakni Amoeng Abdurrahman, Ketut Muhammad Suharto, Nyoman Dodi Irianto dan Yahya Umar mengunjungi Kampung Muslim Pabean Sangsit. FPSI Buleleng diterima sesepuh dan tokoh Kampung Muslim Pabean Sangsit, yakni Sa’dan, Abdul Kadir dan Arifin. Dari cerita sesepuh dan tokoh tersebut terkuak sejarah keberadaan masyarakat Muslim Kampung Pabean, Desa Sangsit, Buleleng, Bali ini. Berikut laporan keempat (terakhir) dari kunjungan silaturahmi tersebut.

WARGA Muslim Kampung Pabean Sangsit, Buleleng, Bali memiliki warisan seni. Namanya kesenian serone. Namun, kesenian ini kini sudah jarang bahkan tidak ada warga yang memainkannya. Di kampong Muslim ini konon juga ditemukan Al Qur’an kuno yang diduga tersimpan di Masjid Agung Jami Singaraja.

Tokoh Kampung Muslim Pabean Sangsit, Abdul Kadir, ditemani tokohnya, Arifin, menuturkan, di kampungnya dulu ada grup seni serone. Setiap ada acara, misalnya dalam pernikahan, biasanya grup ini tampil. Bahkan, kata dia, kelompok serone ini dulu ikut mengiringi ngaben warga Hindu Sangsit.

“Kalau tidak ada gendang serone, wadah sing mejalan (ngaben tidak berlangsung-red). Harus ada nyame selam (saudara beragama Islam-red) dalam iring-iringan ngaben tersebut,” jelasnya.

Menurut Abdul Kadir, sekarang kelompok serone ini sudah tidak aktif lagi. “Gendangnya masih ada. Serulingnya juga masih ada. Tapi sudah tidak ada yang main lagi. Dulu yang biasanya memainkan serone ini adik saya,” katanya.

Selain kesenian serone, Kampung Muslim Pabean Sangsit punya warisan rumah panggung. Namun, rumah panggung tersebut masih terisa satu, milik kakek Abdul Kadir. “Anak cucunya semua lahir di rumah panggung ini,” kata Abdul Akdir ketika menunjukkan rumah panggung tersebut.

Warga Muslim Kampung Pabean Buleleng juga punya warisan Al Qur’an kuno. Abdul Kadir mengaku melihat sendiri Al Qur’an kuno tersebut. Kata dia, yang membawa Al Qur’an tersebut adalah Wak Dulgani, anak dari Datuk Tul.

“Waktu bongkar-bongkar rumah Wak Dulgani ditemukan dua Al Qur’an kuno. Satu ada di dalam peti, dan satu lagi di luar. Yang di luar peti itu sudah rusak. Itu terjadi (bongkar-bongkar rumah) tahun 1985. Saya ikut bongkar-bongkar di rumah itu, dan melihat sendiri Al Qur’an kuno tersebut,” kata Abdul Kadir.

Waktu itu, Abdul Kadir masih SMP. “Waktu Wak Dulgani masih hidup, saya tanyakan di mana Al Qur’an itu. Katanya sudah dibawa ke Singaraja,” jelasnya. Ia menanyakan Al Qur’an itu ketika melihat Al Qur’an yang mirip di Masjid Agung Jami’ Singaraja.

Abdul Kadir menduga kalau Al Qur’an di Masjid Jami’ Singaraja itu “punya” warga Sangsit. “Itu kayaknya Al Qur’an kuno yang pernah ditemukan di rumah Wak Dulgani. Sampulnya dari kulit kambing atau unta,” jelasnya.

Dari penjelasan Wak Dulgani, Al Qur’an kuno Sangsit itu diserahkan kepada keluarga di Kampung Kajanan. Rumahnya di dekat Masjid Agung Jami’ Singaraja.

Apakah benar Al Qur’an kuno di Masjid Agung Jami’ Singaraja adalah Al Qur’an kuno yang ditemukan di Kampung Pabean Sangsit? Kalau bukan di mana Al Qur’am kuno yang ditemukan di Kampung Muslim Pabean Sangsit tersebut? Semua masih misteri yang perlu penelitian lebih lanjut. (bs)  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *