Puisi-puisi Raodatunsyarifah : Yang Tersiksa Menahan Rindu

Piala Kebanggaan

Sinar mentari memancar

Menembus setiap lorong kesunyian

Di bibir pintu rumah itu

Kau mengantarkanku menjemput cita

Ungkapan bahasa ketegaran

Mengantarku menuju penantian

Dengan sikap tegap

Belaian kasih dari tangan kasar

Angkasa ikut melambai

Dengan gemuruh riang

Suara deburan ombak

Ikut mengantarkan ku pergi

Hentakan kaki ketegasan

Ikut meneguhkan sedihku

Suara riuh anak pelabuhan

Menjadi alunan kepergianku

Sang nakhoda telah

Memberikan isyarat

Bahwa aku akan

Dibawa berlayar jauh

Angin semilir dari samudra lepas

Ikut membawa janjiku

Untuk pulang kembali

Dan menjadi piala kebanggaan

Dengan anganku mengukir cita

Menghitung jejak buih lautan

Hingga sampai tiba masa

Aku kembali meniti jejak buih itu.

Hanya Sebatas Raga

Dunia dewasaku

Sedang membuat lelucon

Membungkam pemikiran kolot

Dari anak negeri

Resah yang berujung risih

Tongkrongan yang semula hangat

Berganti dengan suasana acuh

Tak saling bertegur sapa

Yang ku lihat

Hanya sebalok benda asing

Yang menghibur para pujangga

Membuat tawa dari nyanyian

Potret meja-meja cafe

Yang sudah penuh terisi

Suara riuh nyanyian

Bercampur dengan riuh jalanan kota

Begitu banyak raga

Yang berkumpul di sana

Akan tetapi sunyi bak mencekam

Mereka disibukkan dengan cerita

Di dalam genggaman.

Ketika kebersamaan

Hanya sebatas raga

Omong kosong pun

Menjadi tidak bernilai

Semua terlena dengan tarian

Yang tersaji dalam genggaman

Tatapan mata tanpa kedipan

Menjadi penanda bahwa

Dunia sedang tidak baik-baik saja.

Rembulan di Awal Januari

Ku ingin bercerita tentang

Sesuatu yang ku temui malam ini

Yang disajikan oleh alam

Tanpa menjanjikan kepalsuan

Segala pilu ku seakan

Menghilang walau untuk sejenak

Aku terhanyut dengan keindahan

Sang sinar rembulan

Yang bulat sempurna

Dikelilingi oleh awan hitam pekat.

Ada yang sedang ku resahkan

Di tengah suara riuh kendaraan kota

Alunan lagu dari cafe

Tidak cukup membuat ku tenang

Ada rindu yang sedang

Ku tepis dengan pilu

Berharap bulan yang kita

Tatap masih sama

Angin malam ku jadikan

Perantara

Untuk meleburkan rinduku

Dan doa besarku

Semoga kamu ikut tersiksa

Sama seperti ku

Yang tersiksa menahan rindu Untuk mu.

Tentang Penulis

Raodatunsyarifah lahir di Ncera, Bima, NTB, 22 September 1999. Selain menulis puisi, ia juga menulis cerpen. Pendidikan yang pernah ditempuhnya antara lain MA Muhammadiyah Kota Bima Jurusan Bahasa (2015-2018), lantas melanjutkan ke Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja dengan mengambil Jurusan Teknologi Industri (2018-2022). Ifa -begitu sapaan akrabnya, pernah dan aktif di sejumlah organisasi, seperti PR IPM Kota Bima, Komisariat Ganesha, PMM Al-Hikmah Undiksha, dan kini menjabat sebagai Ketua Umum PC Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Buleleng. Di Singaraja, Ifa tinggal di Jl. Pattimura, Kampung Bugis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *