Piala Kebanggaan
Sinar mentari memancar
Menembus setiap lorong kesunyian
Di bibir pintu rumah itu
Kau mengantarkanku menjemput cita
Ungkapan bahasa ketegaran
Mengantarku menuju penantian
Dengan sikap tegap
Belaian kasih dari tangan kasar
Angkasa ikut melambai
Dengan gemuruh riang
Suara deburan ombak
Ikut mengantarkan ku pergi
Hentakan kaki ketegasan
Ikut meneguhkan sedihku
Suara riuh anak pelabuhan
Menjadi alunan kepergianku
Sang nakhoda telah
Memberikan isyarat
Bahwa aku akan
Dibawa berlayar jauh
Angin semilir dari samudra lepas
Ikut membawa janjiku
Untuk pulang kembali
Dan menjadi piala kebanggaan
Dengan anganku mengukir cita
Menghitung jejak buih lautan
Hingga sampai tiba masa
Aku kembali meniti jejak buih itu.

Hanya Sebatas Raga
Dunia dewasaku
Sedang membuat lelucon
Membungkam pemikiran kolot
Dari anak negeri
Resah yang berujung risih
Tongkrongan yang semula hangat
Berganti dengan suasana acuh
Tak saling bertegur sapa
Yang ku lihat
Hanya sebalok benda asing
Yang menghibur para pujangga
Membuat tawa dari nyanyian
Potret meja-meja cafe
Yang sudah penuh terisi
Suara riuh nyanyian
Bercampur dengan riuh jalanan kota
Begitu banyak raga
Yang berkumpul di sana
Akan tetapi sunyi bak mencekam
Mereka disibukkan dengan cerita
Di dalam genggaman.
Ketika kebersamaan
Hanya sebatas raga
Omong kosong pun
Menjadi tidak bernilai
Semua terlena dengan tarian
Yang tersaji dalam genggaman
Tatapan mata tanpa kedipan
Menjadi penanda bahwa
Dunia sedang tidak baik-baik saja.

Rembulan di Awal Januari
Ku ingin bercerita tentang
Sesuatu yang ku temui malam ini
Yang disajikan oleh alam
Tanpa menjanjikan kepalsuan
Segala pilu ku seakan
Menghilang walau untuk sejenak
Aku terhanyut dengan keindahan
Sang sinar rembulan
Yang bulat sempurna
Dikelilingi oleh awan hitam pekat.
Ada yang sedang ku resahkan
Di tengah suara riuh kendaraan kota
Alunan lagu dari cafe
Tidak cukup membuat ku tenang
Ada rindu yang sedang
Ku tepis dengan pilu
Berharap bulan yang kita
Tatap masih sama
Angin malam ku jadikan
Perantara
Untuk meleburkan rinduku
Dan doa besarku
Semoga kamu ikut tersiksa
Sama seperti ku
Yang tersiksa menahan rindu Untuk mu.

Tentang Penulis
Raodatunsyarifah lahir di Ncera, Bima, NTB, 22 September 1999. Selain menulis puisi, ia juga menulis cerpen. Pendidikan yang pernah ditempuhnya antara lain MA Muhammadiyah Kota Bima Jurusan Bahasa (2015-2018), lantas melanjutkan ke Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja dengan mengambil Jurusan Teknologi Industri (2018-2022). Ifa -begitu sapaan akrabnya, pernah dan aktif di sejumlah organisasi, seperti PR IPM Kota Bima, Komisariat Ganesha, PMM Al-Hikmah Undiksha, dan kini menjabat sebagai Ketua Umum PC Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Buleleng. Di Singaraja, Ifa tinggal di Jl. Pattimura, Kampung Bugis.

