Menggali Bukti-bukti Sejarah Asal Usul Muslim Tegallinggah (2)

  • Ciri Khas Bugis dalam Masyarakat Muslim Tegallinggah Bali

BAGI Koordinator FPSI Buleleng, Amoeng Abdurrahman, keberadaan Muslim Tegallinggah tergolong aneh. Bagaimana mungkin sebuah komunitas Muslim yang minoritas berada di tengah-tengah mayoritas Hindu. “Ini agak aneh. Dan dari mana orang-orang (Muslim) Tegallinggah ini, selalu menjadi pertanyaan kami selama ini,” kata Amoeng dalam FGD Temuan Awal Penelusuran Sejarah Islam Tegallinggah di Masjid Jami’ Al Miftah Tegallinggah, Jumat (6/1/2023).

Jika dikatakan Muslim Tegallinggah dari Bugis, apa bukti-buktitnya? Adakah ciri khas dan budaya Bugis dalam masyarakat Muslim Tegallinggah?

Menurut Amoeng, orang-orang Bugis masuk ke Buleleng diduga karena situasi perkembangan politik di daerahnya, di mana Raja Hassanudin kalah berperang dengan penjajah VOC (Belanda). Orang-orang Bugis melarikan diri menyebar ke berbagai daerah, termasuk di Bali. Di Buleleng, orang-orang Bugis menyebar dari pesisir Sumberkima di sebelah barat hingga ke Sangsit di timur Buleleng.

Pemerhati sejarah yang juga Anggota FPSI Buleleng, Drs. Ketut Muhammad Suharto, juga mengatakan, orang-orang Bugis menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, ketika Raja Hassanudin kalah perang dengan VOC. Itu terjadi antara 1667-1670-an Masehi.

Suharto berpendapat, untuk mengetahui identitas sebuah komunitas, dari mana mereka berasal, bisa digunakan beberapa teori. Demikian juga jika ingin mencari jati diri Muslim Tegallinggah. Pertama, bisa dari folklore atau cerita rakyat yang berkembang di Tegallinggah. Yang paling kuat folklore di Tegallinggah itu dari mana leluhur mereka.

Cerita tersebut harus digali dari berbagai pihak. Tidak saja dari sesepuh Muslim Tegallinggah, tetapi juga menggali cerita dari para tetangga yang beragama Hindu. Para sesepuh Hindu bisa jadi mengetahui cerita-cerita tentang Muslim Tegallinggah, termasuk asal usulnya.

Kedua, dari budaya yang berkembang. Suharto menjelaskan, jika dikatakan Muslim Tegallinggah berasal dari Bugis, adakah budaya Tegallinggah yang mirip atau bahkan sama dengan budaya Bugis? Misalnya, apakah Muslim Tegallinggah suka membawa badik? “Itu budaya orang Bugis. Orang Bugis selalu membawa badik,” kata Suharto.

Contoh lainnya, orang Bugis itu senang meboreh atau memakai masker. Apakah Muslim Tegallinggah juga suka meboreh? Alat untuk membuat borehnya berbeda antara di Bugis dengan di Bali. Cobek untuk membuat boreh di Bugis biasanya panjang seperti perahu. Sementara di Bali cobeknya biasanya kecil.

Ketiga, adakah peninggalan seperti lontar atau prasasti yang menjelaskan asal usul Tegallinggah? Kalau ada, tentu menjadi bukti kuat tentang sejarah Muslim Tegallinggah.

Apa yang disampaikan Suharto dijawab langsung oleh sesepuh Muslim Tegallinggah, H. Syahrudin, M.Pd. Ia sendiri merasa keturunan Bugis. Ciri khasnya, ia memanggil orangtuanya datuk. “Sampai sekarang anak memanggil orangtuanya datuk,” kata mantan Dosen Undiksha ini.

Selain itu, menurut H. Syahrudin, mentalitas orang Islam Tegallinggah sangat keras, sama seperti orang Bugis. Pada nama-nama Muslim Tegallinggah banyak menggunakan ‘din’. Seperti Syahrudin, Khairudin, Mashudin, dan seterusnya. Di Tegallinggah juga ditemukan alat-alat cantok, yang merupakan budaya Bugis. Juga ditemukan pisau khas Bugis yang disebut badik.

Sementara menurut Sopian Hadi, sejumlah ciri khas Bugis ada dalam masyarakat Muslim Tegallinggah. Seperti penanaman pohon jepun di kuburan. Ini merupakan budaya dari Sulawesi, khususnya Bugis.

Selain itu, kata Sopian Hadi, yang juga Ketua MUI Kecamatan Sukasada ini, ada tradisi penggunaan telur dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam referensi yang ia ketahui, penggunaan telur saat Maulid Nabi SAW identik dengan budaya Bugis. Menurutnya, di Jawa tidak ada penggunaan telur saat maulidan, kecuali di titik-titik yang ada komunitas Bugis-nya. “Jadi budaya di Tegallinggah dan Bugis itu ada hubungan,” kata Sopian.

Tokoh Muslim Tegallinggah lainya, Mashudin, S.Pd.I, punya cerita tentang kerasnya dan peninggalan Bugis. Misalnya, ia selalu diwanti-wanti agar jangan macam-macam dengan beberapa tokoh Tegallinggah, seperti Datuk Arsyad, Datuk Makruf. Dilukiskan tokoh-tokoh tersebut mempunyai tipikal orang Bugis, “serem” dan “menakutkan”.

Mashudin juga menyebutkan orangtuanya mempunyai senjata orang Bugis, yakni badik. Menurut cerita orangtuanya, badik tersebut merupakan warisan dari kakeknya. Bahkan Mashudin mempunyai pengalaman menarik tentang badik tersebut.

Waktu Mashudin duduk di bangku sekolah dasar, ia selalu diingatkan agar tidak menyentuh badik tersebut, apalagi untuk main-main. Sebab, kalau kena badik tersebut, bisa melayang nyawanya. Orangtuanya mengatakan badik tersebut mengandung racun.

Bukan anak-anak namanya kalau tidak ingin mencoba sesuatu yang dilarang. Pada saat kelas IV SD, Mashudin mencoba badik milik orangtuanya. Ia goreskan badik itu dengan membentuk huruf X di batang pohon santan. Apa yang terjadi?

“Ternyata memang betul sakti badik itu. Besoknya semua daun pohon santan tersebut berguguran (rontok),” tuturnya. Tak ayal, akibat perbuatannya tersebut, ia dimarahi habis-habisan oleh orangtuanya. Saat itu, ia merasa bersalah menggunakan badik untuk menggores batang pohon santan.

Mashudin juga menuturkan bahwa temannya, Sahawi, juga mempunyai badik. Tiap malam Jumat, badik temannya tersebut selalu diasapi.

Sementara tokoh Muslim Tegallinggah lainnya, Jaelani, mengungkapkan, selain panggilan datuk, di Tegallinggah juga ada panggilan encik untuk orangtua perempuan. Panggilan encik atau cik juga merupakan ciri khas Bugis. (Yahya UmarBersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *