Puisi-puisi Raodatunsyarifah : Rindu Kembali Berpuisi, Kamu adalah Duka

Rindu

Di sudut Kota Singaraja

ku lambungkan rinduku untukmu

yang jauh jika luput mata

 pertengahan September

 menjadikan hembusan angin

 lebih dingin dari biasanya

kepada Angin Malam ku coba

sampaikan rinduku padamu

Berharap,,,,

setiap hembusannya sampai

kepadamu

bagiku rindu ini adalah candu

yang selalu membayangi

setiap detik dari hari ku

kamu tahu,,,???

setiap bangunan di sudut kota ini

akan menjadi saksi

Bahwa aku pernah melambungkan

namamu di sini

Aku sangat berharap,,,

waktu berlalu dengan cepat

agar semua rinduku ini berujunga

pada temu

Kembali Berpuisi

Kembali berpuisi dengan kenyataan

Bait demi bait tersusun dengan rapi

Malamku semakin larut

Inspirasi pun semakin rapuh

Sunyi… semakin mencekam

Suara riuh jalanan seakan ikut terkunci

Gelap mencekam,,,

tanpa sinar bulan dan tanpa kerlipnya bintang

Aku coba bersenandung dengan pilu

Berharap,,, bisa melebur dan bersatu

Renungan malamku,,,

kembali terusik dengan kenyataan dalam genggaman

Tubuhku menggigil hebat,,,

Sehelai kain yang melapisi, tak mampu menjadi penghangat

Dan sehelai kapas putih di tangan,,, tak mampu membendung air mata

Apa,,,

Apa yang sedang mengganggu lelapku,,,

Sehingga,,, mataku terjaga tanpa kedipan

Pikiranku kembali pada 5 tahun silam

Saat dewasa belum menjadi racun bagi lelapku

Kembali ku saksikan,,,

Sebuah bait yang seakan menjadi tamparan

Yang menggiring ku semakin menjauh dari kenyamanan

Aku mulai capek,,,

Yah,,,  aku capek dengan segala kenyataan

Yang menekan hasrat ku untuk tetap diam,

Dingin bagai tak tersentuh hangat.

Langkah kakiku kembali ku pijak, 

Pada tanah tandus tak berpenghuni

Menembus setiap lorong hampa,

Untuk mencari secercah inspirasi

Kembali ku arungi samudra,,,,

Sampai sang sinar jingga menyapa dan mampir memberikan ilusi bahagia

Kemudian,,, kembali pergi menyisihkan duka

Kamu adalah Duka

Ku buka lembaran usang yang tersimpan empat tahun silam

Ku baca kembali setiap lembarnya

Saking usangnya sampai

sebagian tinta hitam itu telah pudar termakan usia

Begitu rapinya,,,,

Sehingga setiap arsip tentang Mu masih tersimpan jelas Tuan

Yang terlintas sekarang adalah

Mengapa bisa sampai seperti ini?

Aku baru menyadari bahwa,,,,,

Menyayangi Mu adalah candu bagiku

akan tetapi,,, jelas Kau jua tak akan percaya

bahwa menyayangi Mu merupakan duka bagiku

Ia,,, harus aku katakan sekali lagi

Bahwa menyayangi Mu adalah duka bagiku

Karena meski aku sudah tahu bahwa Kau bencana,

Akan tetapi aku masih terjebak dengan rasa sayang ini

Ah,,,,

Sungguh ini hanya tipuan ilusi ku semata

Tapi percayakah engkau,,,

Bahwa kau pernah ku buang jauh

Ternyata,,, itu hanya sesaat

Tuan,,,

Harus aku katakan bahwa

Kau mengajarkan ku bagaimana menyayangi Mu dengan tulus.

Akan tetapi Kau lupa Tuan,,,

Mengajarkan kepadaku bagaimana cara melupakan Mu dengan ikhlas

Tentang Penulis

Raodatunsyarifah lahir di Ncera, Bima, NTB, 22 September 1999. Selain menulis puisi, ia juga menulis cerpen. Pendidikan yang pernah ditempuhnya antara lain MA Muhammadiyah Kota Bima Jurusan Bahasa (2015-2018), lantas melanjutkan ke Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja dengan mengambil Jurusan Teknologi Industri (2018-2022). Ifa -begitu sapaan akrabnya, pernah dan aktif di sejumlah organisasi, seperti PR IPM Kota Bima, Komisariat Ganesha, PMM Al-Hikmah Undiksha, dan kini menjabat sebagai Ketua Umum PC Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Buleleng. Di Singaraja, Ifa tinggal di Jl. Pattimura, Kampung Bugis.

Desain oleh Yoka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *