Rindu
Di sudut Kota Singaraja
ku lambungkan rinduku untukmu
yang jauh jika luput mata
pertengahan September
menjadikan hembusan angin
lebih dingin dari biasanya
kepada Angin Malam ku coba
sampaikan rinduku padamu
Berharap,,,,
setiap hembusannya sampai
kepadamu
bagiku rindu ini adalah candu
yang selalu membayangi
setiap detik dari hari ku
kamu tahu,,,???
setiap bangunan di sudut kota ini
akan menjadi saksi
Bahwa aku pernah melambungkan
namamu di sini
Aku sangat berharap,,,
waktu berlalu dengan cepat
agar semua rinduku ini berujunga
pada temu

Kembali Berpuisi
Kembali berpuisi dengan kenyataan
Bait demi bait tersusun dengan rapi
Malamku semakin larut
Inspirasi pun semakin rapuh
Sunyi… semakin mencekam
Suara riuh jalanan seakan ikut terkunci
Gelap mencekam,,,
tanpa sinar bulan dan tanpa kerlipnya bintang
Aku coba bersenandung dengan pilu
Berharap,,, bisa melebur dan bersatu
Renungan malamku,,,
kembali terusik dengan kenyataan dalam genggaman
Tubuhku menggigil hebat,,,
Sehelai kain yang melapisi, tak mampu menjadi penghangat
Dan sehelai kapas putih di tangan,,, tak mampu membendung air mata
Apa,,,
Apa yang sedang mengganggu lelapku,,,
Sehingga,,, mataku terjaga tanpa kedipan
Pikiranku kembali pada 5 tahun silam
Saat dewasa belum menjadi racun bagi lelapku
Kembali ku saksikan,,,
Sebuah bait yang seakan menjadi tamparan
Yang menggiring ku semakin menjauh dari kenyamanan
Aku mulai capek,,,
Yah,,, aku capek dengan segala kenyataan
Yang menekan hasrat ku untuk tetap diam,
Dingin bagai tak tersentuh hangat.
Langkah kakiku kembali ku pijak,
Pada tanah tandus tak berpenghuni
Menembus setiap lorong hampa,
Untuk mencari secercah inspirasi
Kembali ku arungi samudra,,,,
Sampai sang sinar jingga menyapa dan mampir memberikan ilusi bahagia
Kemudian,,, kembali pergi menyisihkan duka

Kamu adalah Duka
Ku buka lembaran usang yang tersimpan empat tahun silam
Ku baca kembali setiap lembarnya
Saking usangnya sampai
sebagian tinta hitam itu telah pudar termakan usia
Begitu rapinya,,,,
Sehingga setiap arsip tentang Mu masih tersimpan jelas Tuan
Yang terlintas sekarang adalah
Mengapa bisa sampai seperti ini?
Aku baru menyadari bahwa,,,,,
Menyayangi Mu adalah candu bagiku
akan tetapi,,, jelas Kau jua tak akan percaya
bahwa menyayangi Mu merupakan duka bagiku
Ia,,, harus aku katakan sekali lagi
Bahwa menyayangi Mu adalah duka bagiku
Karena meski aku sudah tahu bahwa Kau bencana,
Akan tetapi aku masih terjebak dengan rasa sayang ini
Ah,,,,
Sungguh ini hanya tipuan ilusi ku semata
Tapi percayakah engkau,,,
Bahwa kau pernah ku buang jauh
Ternyata,,, itu hanya sesaat
Tuan,,,
Harus aku katakan bahwa
Kau mengajarkan ku bagaimana menyayangi Mu dengan tulus.
Akan tetapi Kau lupa Tuan,,,
Mengajarkan kepadaku bagaimana cara melupakan Mu dengan ikhlas

Tentang Penulis
Raodatunsyarifah lahir di Ncera, Bima, NTB, 22 September 1999. Selain menulis puisi, ia juga menulis cerpen. Pendidikan yang pernah ditempuhnya antara lain MA Muhammadiyah Kota Bima Jurusan Bahasa (2015-2018), lantas melanjutkan ke Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja dengan mengambil Jurusan Teknologi Industri (2018-2022). Ifa -begitu sapaan akrabnya, pernah dan aktif di sejumlah organisasi, seperti PR IPM Kota Bima, Komisariat Ganesha, PMM Al-Hikmah Undiksha, dan kini menjabat sebagai Ketua Umum PC Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Buleleng. Di Singaraja, Ifa tinggal di Jl. Pattimura, Kampung Bugis.
Desain oleh Yoka

