“Santun”, Antara Tradisi dan Mitos

KOTA Negara dibelah sebuah sungai Ijogading. Mengarungi belahan sungai  dari hulu sampai ke hilir, akan melewati dua perkampungan masyarakat Bugis yang telah bertempat tinggal sejak ratusan tahun yang lalu di pulau Bali ini.

Banyak cerita menarik untuk diangkat dari adat dan kebiasaan masyarakat ini karena menyimpan peradaban yang masih terpelihara hingga saat kini. Pada setiap tahun di bulan Rabiul Awal merupakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW (Maulud Nabi) selalu diperingati dengan keriahan selama sebulan penuh oleh masyarakat setempat.

Bulan itu dijadikan hari baik untuk melaksanakan hajatan, seperti gunting rambut si bayi, aqiqah, khitanan anak laki dan perempuan sampai pada acara pernikahan.

Mengikuti berbagai acara hajatan seperti ada yang luput dari perhatian kita selama ini. Mengapa selalu tersedia di atas talam kain rantasan atau lebih lengkap lagi disebut santun, yang sesungguh tidak sekadar pelengkap hiasan, tetapi konon dipercaya tersimpan makna sebagai isyarat agar tidak terjadi sesuatu yang akan merubah suasana selama prosesi berlangsung.

Bagi masyarakat Bugis, sebutan santun adalah kelengkapan setiap peristiwa hajatan untuk seseorang dengan sebuah talam berisi kain songket, sebilah keris, beras kuning, tepung kuning, kelapa gading, air bunga, mangkok berisi uang receh dan sebuah gunting kecil untuk potong rambut hingga buah kebun (pisang). Beberapa rupa tersebut peruntukannya tidak ada yang sama sesuai dengan niat awal dari hajatan itu sendiri.

Keharusan membuat setalam santun tidak dilihat dari besar atau kecil keluarga yang akan menyelenggarakan hajatan, tetapi ini diyakini akan memberi rasa aman sejak dimulainya prosesi sampai berakhir acara tersebut, terutama terhadap anak yang akan dikhitan, aqiqah, potong rambut dan sampai kepada pasangan mempelai pada acara pernikahan.

Santun bukanlah sebuah simbol keberadaan seseorang, tetapi disiapkan dengan maksud lain, yakni menghindari kemungkinan kejadian kecil sebagaimana tidak diharapkan seperti anak kecil selalu menangis, anak yang telah dikhitan kulit kulub (kelamin) tak hentinya mengeluarkan darah atau ada yang kesurupan. Dan apabila terjadi maka dugaan pertama begitu mudahnya orang mengaitkan ada atau tidaknya kelengkapan santun telah dipenuhi atau belum.

Mitologi media santun sangat berkaitan erat dengan asal muasal masyarakat Loloan. Ada sebagian meyakini tentang moyangnya dahulu pernah berteman dengan siluman buaya atau macan yang selalu datang menengok cucu ketika melaksanakan hajatan. Namun sebaliknya akan menjadi masalah apabila pihak keluarga tidak ‘memberi tahu’ melalui media santun.

Di Sungai Ijogading sering terjadi orang dimangsa atau digigit buaya dan kebanyakan korbannya adalah perempuan di saat mandi. Melihat keresahan masyarakat, kemudian para tokoh mendatangkan pawang buaya untuk menangkap buaya-buaya yang berkeliaran di sepanjang sungai.

Disaksikan beberapa tokoh masyarakat, sang pawang melakukan ritual di tepi sungai sambil berdiri membacakan mantra dan doa. Tangannya memegang sepotong kayu ditekan ke tanah, sambil menarik-narik membuat garis lurus dan garis itu dimaknai sebagai pintu penutup arah masuknya buaya dari laut. Kemudian jika kelak ada orang keturunan Bugis yang kesurupan melata seperti buaya atau macan agar segera dipenuhi permintaannya dengan membuat santun atau kelakat.

  • Kelakat dibuat dari batang pisang persegi empat dihiasi dengan nasi putih, nasi kuning, nasi hitam dan nasi merah. Semua berbentuk kerucut, telur ayam ditambah tembakau dilinting daun pisang kering menyerupai rokok dan pelita dari kerang laut diisi minyak kelapa dan sumbu kapas. Perangkat itu selanjutnya dilarung ke sungai pada waktu malam hari dan bersamaan dengan itu pula salah satu pihak keluarga yang sedang mengalami kusurupan akan sadar dengan sendirinya.

  • Orang yang sedang mengalami kebuayaan tingkahnya seperti buaya melata. Begitu juga kemacanan kedua kaki dan tangan menyentuh tanah, tingkahnya mirip macan yang akan menerkam. Ucapannya sulit dipahami seperti menggunakan bahasa Bugis. Kelakat yang dibuat untuk mengusir pengaruh buruk bedanya tidak dilarung ke sungai tetapi ditempatkan dalam rumah.

Kedatangan pawang buaya ke kampung Loloan merupakan saat berakhirnya habitat dari populasi binatang buaya. Namun demikian, hal tersebut tidak menghilangkan mitos kebuayaan dan kemacanan yang selalu menjadi cerita masyarakat hingga sampai saat ini.

Bersamaan dengan itu pula, media santun merupakan bagian kelengkapan di setiap hajatan keluarga yang telah diwarisi sejak kedatangan suku Bugis mendiami perkampungan Loloan. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *