
MASJID Kuno Keramat Singaraja menyimpan legenda yang fenomenal di zamannya. Legenda itu bernama “Sumpah Bedug” atau “Sumpah Yeh (air) Bedug”. Sumpah ini menjadi pilihan penyelesaian terakhir setiap ada perkara atau perselisihan antarawarga di Kampung Kajanan dan sekitarnya. Konon, yang kena “Sumpah Yeh Bedug” ini perutnya bisa menjadi sebesar bedug.
Dalam diskusi terbatas yang digelar Takmir Masjid Kuno Keramat, Kamis, 3 November 2022, sejumlah sesepuh dan tokoh Kampung Kajanan menceritakan apa dan bagaimana “Sumpah Yeh Bedug” tersebut.
Begini tata cara “Sumpah Yeh Bedug” yang biasa digelar di Masjid Kuno Keramat. Warga yang berselisih, dan memohon “Sumpah Yeh Bedug” dikumpulkan di masjid. Sebelum memasuki pelaksanaan “Sumpah Yeh Bedug”, Pelaksana “Sumpah Bedug” terlebih dulu memberikan wejangan dan nasihat. Intinya, yang akan ikut sumpah diminta mengaku dulu, sebelum terlanjur bersumpah. Sebab, risikonya sangat besar bagi kehidupan orang yang bersumpah, jika memang dia bersalah.
Jika mereka tetap bersikukuh, pelaksana “Sumpah Bedug” lantas melanjutkan. Ia melaksanakan sholat sunnah dua rakaat (Sholat Hajat). Setelah itu, pelaksana “Sumpah Bedug” mengambil air di kolam (tambak) yang dulu ada di selatan belakang masjid. (Tambak/kolam ini merupakan tempat jamaah Masjid Kuno Keramat mengambil wudhu). Air dimasukkan ke ceretan tanah (kendi).
Berikutnya, air tersebut dialirkan ke bedug, khususnya di kulit bedug. Sambil mengalirkan air, bedug dipukul datar. Sementara air yang dialirkan ke bedug tersebut ditampung dengan baskom. Lantas pelaksana “Sumpah Bedug” membacakan doa-doa tertentu di air yang ada dalam baskom tersebut.
Usai itu, air dimasukkan ke gelas kecil-kecil sebanyak orang yang melakukan sumpah. Sebelum diminum, sekali lagi pelaksana “Sumpah Bedug” lebih dulu memberikan wejangan dan meminta mereka yang bersumpah untuk mempertimbangkan kembali apakah akan meneruskan sumpahnya atau mengaku. Agar setelah minum air bedug tersebut nantinya tidak ada penyesalan.
Jika yang bersumpah tetap ngotot, akhirnya diminta untuk meminum air bedug tersebut. Biasanya, “Sumpah Yeh Bedug” terlihat reaksinya di hari pertama, kedua, ketiga, hari ketujuh, hari ke-40 hingga hari ke-100. Tandanya, perut orang yang bersumpah itu akan menjadi sebesar bedug.

Beberapa peristiwa “Sumpah Yeh Bedug” yang pernah terjadi diceritakan sesepuh Kampung Kajanan. Abdurrahman Johan, misalnya. Ia menyaksikan langsung pelaksanaan “Sumpah Bedug”. Itu terjadi tahun 1956. Saat itu, ia masih kecil, tepatnya kelas V SRI. Abdurrahman Johan lahir 1948.
Menurutnya, Masjid Kuno Keramat merupakan masjid satu-satunya yang menggelar “Sumpah Yeh Bedug”. Ia mengaku tak mendengar ada masjid lain di Singaraja yang melaksanakan sumpah ini. Abdurrahman Johan tidak tahu alasannya kenapa Masjid Kuno Keramat seakan-akan ditunjuk sebagai tempat sumpah bedug.
Ia menuturkan, ketika kelas V SRI itulah, orangtuanya mengikuti “Sumpah Yeh Bedug”. Ayahnya bekerja sebagai tukang potong sapi. Suatu ketika ada suatu kejadian, majikan tempat ayahnya bekerja kehilangan sesuatu. Majikan itu menuduh beberapa orang yang mengambil barangnya yang hilang tersebut.
Lantas ada sesepuh yang menyarankan agar dilaksanakan “Sumpah Yeh Bedug”. Sebab, beberapa kali dilakukan musyawarah tidak tercapai kesepakatan. Beberapa orang yang dituduh mencuri barang majikannya itu tidak ada yang mau mengaku. Akhirnya dicarikan jalan alternatif, yaitu dilakukan “Sumpah Yeh Bedug”.
Abdurrahman Johan menceritakan, saat itu sebagian dari yang dituduh mencuri itu belum memahami apa itu “Sumpah Bedug”. Sebagian lagi ada juga yang memahami, bahwa “Sumpah Bedug” itu berisiko tinggi.
Pelaksana “Sumpah Bedug” saat itu adalah H. Sueb. Ada lima orang yang dituduh mengambil barang majikan ayahnya. Mereka dikumpulkan di Masjid Kuno Keramat. Mereka ditanya satu per satu bahwa sebelum disumpah sebaiknya mengaku saja. Sebab, bahayanya sangat besar jika terlanjur mengikuti “Sumpah Bedug”.
Namun, lanjut Abdurrahman Johan, saat itu tidak ada yang mau mengaku. Akhirnya diambil keputusan untuk dilaksanakan “Sumpah Bedug”.
“Yang saya lihat, cara pelaksanaan sumpah bedug itu yakni Pak Haji Sueb ini mengambil dulu air dari tambak (kolam). Kalau cerita kakek saya. Diambil air dari tambak itu pada malam hari. Ditaruh di ceretan dari tanah satu malam. Karena diisi doa-doa oleh H. Sueb ini, katanya ada tuah dari air tersebut,” cerita Abdurrahman Johan.
Ia masih ingat, saat akan melaksanakan sumpah, bedugnya dicuci. Cara mencucinya, pertama dicuci dengan air biasa dulu kulit bedugnya. Setelah itu, air di ceretan tanah (kendi) dituang ke bedug, lantas ditampung dengan baskom. Bedug dipukul, namun cara memukulnya berbeda dengan cara memukul bedug saat memasuki adzan sholat lima waktu. Pukulan bedug untuk pelaksanaan “Sumpah Bedug” datar.
Menurut Abdurrahman Johan, setelah itu, air yang ditampung di baskom dibacakan doa-doa dan dimasukkan ke gelas kecil-kecil, sejumlah orang yang bersumpah. Sebelum air di gelas diminum, kembali H. Sueb memberikan wejangan dan memberikan pilihan apakah sumpah akan diteruskan. Siapa tahu, ada yang berubah pikiran untuk mengaku. Jangan sampai air bedug terminum, nanti ada penyelesalan.
Namun, dari kelima orang yang bersumpah itu tidak ada yang mau mengaku. Akhirnya sumpah dilaksanakan, air tetesan bedug di gelas kecil-kecil itu diminum oleh kelima orang yang bersumpah.
Abdurrahman Johan, mengutip cerita kakeknya, menuturkan, reaksi dari “Sumpah Bedug’ itu biasanya dirasakan di hari pertama, hari kedua, hari ketiga, hari ketujuh, hari ke-40, hari ke-100. Yang paling sering, kata dia, terjadi hari pertama, yang kena sumpah biasanya gelisah, kebingungan.
Menurut Abdurrahman Johan, misalnya di hari ketujuh, ada yang berubah pikiran, dan dia mengaku, dia bisa datang ke masjid lagi untuk diberikan air kembali sebagai penawarnya. “Dalam kasus ayah saya, pada hari keenam, ada yang mengaku. Bilang bahwa dia yang mengambil. Akhirnya dia datang ke Masjid Kuno Keramat lagi, dikasih air penawar. Selamat dia. Padahal perutnya sudah mulai kaku,” jelas Abdurrahman Johan.

Kisah lain dipaparkan sesepuh Kampung Kajanan, Hasan bin Ibrahim. Ia mengalami langsung disumpah, “Sumpah Yeh Bedug”. Waktu itu, Hasan bin Ibrahim kelas 3 SR. Ia dituduh memperkosa anak. Orangtua anak perempuan itu marah, menuduh Hasan bin Ibrahim yang melakukan pemerkosaan terhadap anaknya.
Tentu ia tidak terima. Orangtua anak perempuan itu menantang Hasan bin Ibrahim untuk bersumpah. “Sumpah Yeh Bedug’ di Masjid Kuno Keramat. Tentu saja Hasan menyetujui tantangan sumpah tersebut. Sebab, ia memang tidak melakukan pemerkosaan.
“Saya diingatkan. Kalau kamu salah, bisa kayak bedug perut kamu. Berani? Saya jawab berani. Sebab, saya terus dituduh oleh keluarganya memperkosa anaknya,” tutur Hasan bin Ibrahim.
Maka dilaksanakan “Sumpah Bedug”. Pelaksana “Sumpah Bedug” mengambil air di tambak memakai ceretan (kendi). Lantas kulit bedugnya disiram dengan air. Bedugnya dibunyikan juga. Di bawahnya air ditampung dengan baskom.
“Saya minum air bedug itu. Beberapa hari kemudian, anak perempuan itu diperiksakan ke dokter. Waktu itu, dokter bilang, bukan anak-anak yang memperkosa anak perempuan tersebut, tetapi orang dewasa. Akhirnya hancur-hancuranlah keluarga tersebut,” ujar Hasan bin Ibrahim.
Sementara Ustadz Abdurahman Alawi menjelaskan, yang melaksanakan “Sumpah Yeh Bedug” adalah almarhum Haji Sueb. Haji Sueb punya putra mahkota, namanya Ahmad Komang Syah, yang meneruskan ayahnya, H. Sueb, sebagai pelaksana “Sumpah Bedug”. Ahmad Komang Syah merupakan teman bermain Ustadz Abdurrahman Alawi.

Ustadz Abdurrahman Alawi mengaku termasuk yang penasaran terhadap kekeramatan Masjid Kuno Keramat. Termasuk tentang “Sumpah Bedug”. Kebetulan almarhum Ahmad Komang Syah merupakan temannya, maka ia menanyakan bagaimana tata cara “Sumpah Bedug”.
Cerita dari almarhum Ahmad Komang Syah yang diterima dari ayahnya, H. Sueb, bahwa pelaksanaan “Sumpah Bedug” yang pertama, sholat sunah dua rakaat, seperti sholat hajat. “Lantas didatangkanlah warga yang berperkara,” papar Ustadz Abdurrman Alawi.
Berikutnya, seperti dipaparkan di atas, pelaksana “Sumpah Bedug” mengambil air di tambak, dengan ceretan. Lalu air dialirkan ke bedug. Air dari tetesan dari bedug ditampung di baskom. Dan dengan menggunakan gelas kecil air diberikan kepada warga yang bersumpah untuk diminum. (y)

