Masjid Kuno Keramat, dan Kejayaan Literasi Al Quran di Nusantara (2)

TAKMIR Masjid Kuno Keramat Singaraja dalam rentang Oktober-November 2022 menggelar diskusi terbatas menggali sejarah Masjid Kuno Keramat. Sejumlah pemerhati sejarah dan tokoh atau sesepuh Kampung Kajanan diundang dalam diskusi yang dilaksanakan di masjid tersebut.

Dari pemerhati sejarah, hadir dari Forum Pemerhati Sejarah Islam (FPSI) Buleleng, Drs. Amoeng Abdurrahman, dan Drs. Ketut Muhammad Suharto. Sementara sesepuh dan tokoh Kampung Kajanan hadir Ustadz H. Abdurrahman Alawi, M. Mustafa Umar, Abdurrahman Johan, Hasan Bin Ibrahim, Kamalok Daeng, Agus Darmawan, serta beberapa tokoh lainnya.

Berikut catatan edisi kedua dari Ketua Takmir Masjid Kuno Keramat Singaraja, Muhammad Hisam, M.Pd., bersama Sekretaris Muhammad Mujib, tentang bagaimana kekayaan sejarah dan jejak peradaban Islam di Masjid Kuno Keramat Singaraja.

MASJID Kuno Keramat diyakini sebagai salah satu pusat literasi Al Qur’an, tidak saja di Buleleng, melainkan di Nusantara. Sejumlah Al Qur’an tua (kuno) ditemukan di rumah beberapa warga di sekitar Masjid Kuno Keramat.

Penulis beberapa buku sejarah, termasuk sejarah Islam di Bali, dr. Soegianto Sastrodiwiryo, pernah menyatakan, bahwa Masjid Kuno mempunyai peranan yang sangat besar dalam penulisan Al Qur’an tertua di Nusantara. Dr. Soegianto Sastrodiwiryo mempunyai keyakinan, sejumlah Al Qur’an yang tergolong tua, besar kemungkinan sebagian isinya ditulis di masjid ini.

Misalnya Al Quran tertua di Idnonesia yang ber-titi mangsa 1625 M yang ada di rumah keluarga Bapak Muhamad Zein yang kini tinggal di Kampung Islam Dangin Puri, Buleleng. Al Qur’an tersebut diperkirakan ditulis di Masjid Kuno Keramat atau ditulis ulama yang aktif di Masjid Kuno Keramat saat itu.

Demikian juga ditemukannya Al Qur’an tua yang ditulis pada 1820 M oleh I Gusti Ngurah Djelantik Tjelagie, keturunan Raja Buleleng yang masuk Islam. Al Qur’an tersebut dihiasi dengan ornamen ukiran khas Bali dan penulisan ayat-ayat Al-quran pun menggunakan pewarna alamiah dari bahan pewarna dedaunan lokal.

Bertolak dari adanya hiasan ornamen Bali dalam Al-Quran tersebut sangatlah erat kaitannya antara umat Muslim dengan Kerajaan Buleleng saat itu. Al-Quran tua tersebut saat ini masih disimpan di Masjid Agung Jami’ Singaraja. Diyakini Al Qur’an-Al Qur’an tersebut ditulis di Masjid Kuno Keramat. Karena pada tahun 1820 M, Masjid Agung Jami’ Singaraja belum berdiri. Di Singaraja saat itu hanya ada satu masjid, yakni Masjid Kuno Keramat.

Belum lagi ditemukan Al Qur’an tua yang sudah rapuh yang dimiliki warga sekitar Masjid Kuno Keramat Singaraja. Bisa diprediksi, Masjid Kuno Keramat dulunya menjadi pusat literasi Al Qur’an.

Berdirinya Masjid Agung Jami’ Singaraja sendiri sangat erat hubungannya dengan Masjid Kuno. Kenapa Masjid Agung Jami’ harus didirikan. Masjid Jami’ mulai dibangun pada tahun 1846 M, atas permintaan pemuka agama dari Kampung Kajanan, Kampung Bugis dan Kampung Baru kepada Raja Buleleng agar diberikan sebidang tanah untuk mendirikan masjid baru. Sebab, Masjid Kuno, yang merupakan satu-satunya masjid di Singaraja kala itu, sudah penuh sesak dan tidak dapat menampung jamaah pada saat dilaksanakannya sholat Jum’at.

Permintaan tersebut dikabulkan oleh Raja Buleleng. Pembangunan Masjid Agung Jami‘ ditangani langsung oleh Raja Buleleng I Gusti Ngurah Ketut Djelantik. Namun, dalam pengaturan pelaksanaannya diserahkan kepada I Gusti Ngurah Ketut Djelantik Tjelagie, yaitu salah seorang keturunan Raja Buleleng yang telah memeluk agama Islam.

Penyelesaian Masjid Agung Jami’ berdasarkan catatan di pintu gerbang masuk itu bertarikh 1260 H yang berarti tahun 1850 M. Pada tahun itu telah selesai pembangunan Masjid Agung Jami’. Pintu gerbang Masjid Agung Jami’ merupakan hadiah Raja Buleleng yang diambil dari bekas pintu gerbang Puri Kerajaan Buleleng sebagai bentuk terjalinnya kerjasama dan rasa toleransi antara agama Islam dengan agama Hindu. Berdasarkan uraian di atas, jelas keberadaan Masjid Kuno jauh sebelum adanya Masjid Agung Jami’.

Ornamen yang ditemukan di Masjid Kuno Keramat

Di Masjid Kuno Keramat banyak ditemukan peninggalan sejarah yang berkaitan dengan Puri Buleleng. Bentuk asli dari Masjid Kuno banyak dihiasi ukiran seni Bali. Juga ada kesamaan antara ukiran pintu gerbang Puri Buleleng dengan ukiran di pintu-pintu dan mimbar Masjid Kuno. Semuanya mirip. Karena itu, dipastikan bahwa keberadaan Masjid Kuno ini ada kaitannya dengan masa berdirinya Kerajaan Buleleng.

Masjid Kuno menjadi bukti adanya akulturasi kebudayaan Hindu dengan ajaran agama Islam pada masa itu. Besar kemungkinan bahwa adanya Masjid Kuno tidak terlepas dari penyebaran agama Islam oleh para penyebar agama Islam, baik dari kalangan ulama maupun pedagang Islam yang berasal dari Bugis, Jawa maupun pedagang dari China dan Persia yang mewarnai keberadaan Masjid Kuno.

Masjid Kuno adalah Masjid Keramat. Kisah Masjid Kuno dengan tambahan kata keramat/karomah tidak lepas dari pesan maupun petuah yang disampaikan oleh para sepuh/ulama sekaligus sebagai pengurus pertama yang mengetahui asal usul Masjid Kuno sebelum adanya perubahan dasar pada masjid. Karomah secara harfiah artinya kemuliaan atau penghormatan, yakni kemuliaan (penghormatan) dari Allah SWT. Arti lainnya adalah suci dan bertuah yang dapat memberikan efek magis dan psikologis kepada pihak lain.

Masjid Kuno selain sebagai tempat suci bagi umat muslim juga dipercaya oleh umat muslim sendiri maupun warga umat Hindu akan kekeramatannya. Kekeramatan Masjid Kuno yang terletak persis di bantaran Sungai (Tukad) Buleleng juga sangat disakralkan dan disucikan masyarakat Hindu. Umat Hindu biasanya melakukan ritual tertentu. Jika tidak dilakukan ritual kepada leluhurnya, maka mereka percaya malapetaka akan terjadi dan menimpa masyarakat, khususnya warga di petang desa (empat desa) di sekitar Masjid Kuno.

Ini terbukti dengan adanya upacara ritual bagi warga desa adat di petang desa yang akan melewati jalan atau melintasi Tukad Buleleng. Maka saat melewati Masjid Kuno mereka harus berhenti (singgah) untuk berpamitan sekaligus melaksanakan upacara ritual sederhana sebelum menuju Pura Segara, tempat suci umat Hindu yang kebetulan satu jalur dengan masjid.

Sampai sekarang keturunannya yang masih ada tetap menganggap adanya hubungan kekerabatan para leluhurnya dengan tempat di Masjid Kuno.

Masjid Kuno juga terkenal sebagai tempat untuk melakukan sumpah, yakni sumpah minum air bedug. Jika terjadi perselisihan (sengketa) antar warga yang tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan, maka biasanya dilakukan sumpah minum yeh bedug. Caranya, dengan cara minum air bedug. Air bedug diambil dari tambak/kolam (tempat wudlu) yang ada di sekitar masjid yang terkenal bersih dan angker. Namun, saat ini keberadaan kolam tersebut telah ditutup dan dijadikan bangunan SDN 1 Kampung Kajanan.

Bukti adanya tambak/kolam tersebut dapat dilihat dengan adanya tangga menurun pada sisi selatan belakang masjid.

Sementara karomah Masjid Kuno banyak dipercayai orang. Menurut sesepuh Kampung Kajanan, Ustadz Abdurrahman Alawi, pernah ada Kapolda yang datang ke Masjid Kuno. Kapolda tersebut berdoa di Masjid Kuno agar sukses menjalankan tugas.

Masih cerita dari Ustadz Abdurrahman Alawi, suatu saat pernah ada seorang pemuda yang rajin sholat di Masjid Kuno. Ketika ditanya, ia berdoa di Masjid Kuno karena tempat karomah agar cita-citanya menjadi tentara terkabul. Ternyata memang pemuda tersebut akhirnya diterima sebagai tentara. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *