Panji Landung, dan Makna Filosofi Sumpah Ki Barak Panji Sakti

RASA bangga dan takzim, itulah yang akan muncul ketika kita paham pada apa yang telah diukir oleh Raja Buleleng, I Gusti Anglurah Panji Sakti dalam membangun wilayah Denbukit, yaitu wilayah Buleleng, sebagai wilayah kerajaannya dan sampai mencapai Jawa Timur. Tepatnya, ekspansi ke wilayah Kerajaan Blambangan dan bekerja sama dengan Kerajaan Mataram Islam di tahun 1647/1648 M.

Kejayaan dan beradaan I Gusti Anglurah Panji Sakti sebagai seorang raja yang bijaksana dan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Dengan bukti-bukti yang ada sampai sekarang, tidak bisa dilepaskan dari perjalanan beliau, ketika beliau berusia 12 tahun di tahun 1611 M. (Dalam tulisan dr. Sugianto Sastrodiwiryo dalam buku I Gusti Anglurah Panji Sakti 1599-1680).

Dalam buku induk itu sangat lengkap diceritakan tentang kisah perjalanan I Gusti Anglurah Panji Sakti dari masa kanak-kanak, sampai akhir usia beliau.

I Gusti Anglurah Panji Sakti lahir di tahun 1599 di bumi Kerajaan Gelgel, dari Raja Gelgel Dalem Sagening dengan ibundanya Ayu Pasek yang berasal dari Desa Panji di wilayah Denbukit. Di usia anak-anak, I Gusti Anglurah Panji Sakti sempat bermain dengan saudara-saudara seusianya.

Ketika I Gusti Anglurah Panji Sakti beranjak usia 12 tahun, beliau diperintahkan oleh ayahnya, Dalem Segening, untuk menetap di asal rumah ibundanya, Ayu Pasek, di wilayah Desa Panji, kawasan Denbukit.

Perjalanan I Gusti Anglurah Panji Sakti yang didampingi oleh 40 pasukan inti. Mereka ditugaskan sebagai pengawal dan pendamping dengan dilengkapi persenjataan sebagai pasukan pengawal putra raja. Ki Barak, itulah julukan beliau pada saat itu. Ia dibekali juga dua senjata berupa keris yang bernama “Ki Bayu Semang” dan sebuah tulup yang bernama “Ki Tunjung Tutur”.

Dalam perjalanan Ki Barak menuju Denbukit, bisa dibayangkan itu terjadi lima abad yang lalu. Kondisi alam dengan segala keganasannya mampu dilalui oleh Ki Barak yang notabene pada saat itu berusia 12 tahun. Tentunya dalam hal ini kita jangan lupa juga peran para pengawal yang telah teruji keahliannya sebagai abdi dan laskar bela tindih terhadap perintah raja. Yang dipimpin oleh dua orang Ki Dosot dan Ki Dumpyung.

Jejak-jejak dari perjalanan Ki Barak yang sampai sekarang terukir indah dan penuh makna serta mengandung nilai sakral terutama adalah jejak yang berada di wilayah Pegayaman. Yaitu jejak Ki Barak ketika membuka bekal untuk makan bersama pengawal dan ibundanya, Ayu Pasek, di Tirta Ketipat.

Kisah Tirta Ketipat ini pun melegenda sampai sekarang. Dalam kisah itu diceritakan, Ki Barak bersama rombongan hendak membuka takilannya seusai menapaki jalan bertangga yang bernama Batu Mejan, tepat berada di belakang Pura Tirta Ketipat sekarang.

Jalan setapak yang berupa undakan batu yang bertangga mirip tangga, kalau bahasa Bali-nya tangga itu “jan”, maka jalan menanjak itu diberi nama “Batu Mejan”. Sebelum adanya jalan raya seperti sekarang, jalan ini banyak digunakan sebagai jalur lintas untuk cepat sampainya di wilayah Benyahe, atau Desa Pancasari sekarang.

Ketika rombongan Ki Barak membuka takilan, dan hendak minum, ternyata bekal minumnya sudah habis. Maka di antara rombongannya ada yang diperintahkan untuk mengambil air ke Danau Buyan. Akan tetapi sebelum anggota rombongan yang diperintahkan mengambil air di Danau Buyan balik, ibunda Ki Barak, Ayu Pasek, menancapkan keris Ki Bayu Semang ke tanah paras. Ketika keris itu dicabut kembali, seketika itu juga mengeluarkan air dari tanah paras, di bekas tancapan keris Ki Bayu Semang. Maka, sampai sekarang, karena di tempat itu dibangunkan pura, maka disebut Pura Tirta Ketipat.

Dalam perjalanan lanjutannya disebutkan juga bahwa Ki Barak beserta rombongan menuruni lembah dan menikam gundukan di ketinggian. Melalui tempat itulah Ki Barak melihat nuansa alam yang sangat indah dan terhampar luas yang tidak lain tempat itu adalah wilayah Denbukit.

Wilayah ini terhampar luas dengan eloknya, bak permadani yang dihiasi hamparan bunga-bunga. Dari ketinggian ini juga dilihat wilayah seberang laut sampai ke sebuah gunung yang menjulang. Gunung tersebut adalah Gunung Raung yang ada di wilayah Banyuwangi, Jawa Timur.

Dalam kondisi seperti itu, hal yang sangat luar biasa terjadi. Dalam tutur mitos legenda dan menjadi cerita rakyat Buleleng, bahwa Ki Barak diangkat oleh sosok raksasa yang bernama Ki Panji Landung. Melalui genggaman Ki Panji Landung, Ki Barak semakin jelas melihat wilayah Denbukit.

Dan pada saat itu, Ki Barak masih berusia 12 tahun. Saat itulah, Ki Barak mengucapkan sumpah bahwa akan menguasai semua wilayah yang dilihatnya dari ketinggian. Ketinggian ini sangat jelas menuntun Ki Barak untuk menata keinginannya menguasai wilayah di sebelah utara gunung yang berada di atas Danau Buyan. Dan pandangan Ki Barak menembus sampai ke wilayah timur dan barat, sampai ke sesuatu yang samar tampak di seberang laut yaitu Gunung Raung. Kelak semua wilayah yang terjangkau dalam pandangan Ki Barak saat itu, menjadi wilayah perluasan kekuasaannya ketika menjadi Raja Buleleng, yakni hingga ke wilayah Blambangan, Banyuwangi.

Dalam konteks ini, jelas secara kesejarahan, bahwa ketika Ki Barak Panji Sakti mengucapkan ‘Sumpah Panji Landung’-nya menghadap ke laut, dan hamparan wilayah yang berada di wilayah Denbukit sampai ke Blambangan, Jawa Timur. Bukan menghadap ke Gunung Batukaru.

Dikisahkan juga, usai Ki Barak bersumpah untuk menguasai wilayah Denbukit, beliau berbalik mengarah ke arah Gunung Batukaru. Diceritakan, saat itu ibunda Ki Barak, Ayu Pasek, berteriak mengingatkan Ki Barak agar jangan mengucapkan sumpah ke arah selatan. Juga diceritakan, Ki Barak melihat ke arah Gunung Batukaru dengan situasi gelap. Kemudian ibundanya, Ayu Pasek, memerintahkan Ki Barak untuk turun dari genggaman Ki Panji Landung.

Perjuangan Ki Barak sampai mendapat gelar I Gusti Anglurah Panji Sakti menjadikan dinamika perjalanan perjuangannya membangun Bumi Buleleng menjadi sebuah kerajaan yang disegani. Baik oleh rakyatnya, sahabat-sahabatnya, dan apalagi para musuh-musuh kerajaannya. Semua ini dibuktikan dalam catatan babad, register, dan cerita-cerita rakyat yang berkembang.

Salah satu konsep yang ditularkan oleh Ki Barak Panji Sakti, yaitu konsep menyama braya, yang di awal dibentuk melalui Laskar Teruna Goak-nya. Dalam laskar ini dibangun dengan sejumlah komunitas, baik komunitas Islam Jawa, Islam Bugis, Cina, dan warga masyarakat Bali Hindu.

Dalam komunitas Laskar Teruna Goak inilah dibangun keutuhan konsep menyama braya, yang sampai sekarang sangat dirasakan. Seperti penduduk Pegayaman, sebagai sebuah komunitas muslim yang berasal dari rekrutmen Ki Barak Panji Sakti laskar tentara dari Blambangan sebanyak 100 orang, hingga sekarang mampu bertahan, sejak awal berdirinya Kerajaan Buleleng dan tindih bela mati terhadap Kerajaan Buleleng serta sangat besar maknanya dalam berdirinya Kabupaten Buleleng.

Pemberian wilayah yang sangat luas mencapai 2.000 hektar oleh Raja I Gusti Anglurah Panji Sakti kepada 100 laskar Muslim yang direkrut dari Blambangan, yang diberikan sebagai wilayah garapan dan hak milik, juga sekaligus difungsikan sebagai wilayah benteng pertahanan Kerajaan Buleleng dari arah selatan.

Ini juga diungkapkan Penglingsir Puri (Kanginan) Buleleng, AA Purwata Panji, di sela-sela acara silaturrahim dengan warga muslim Buleleng pada 22 Oktober 2022. M saat diadakan peringatan dan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan sekaligus Hari Santri, serta Hari Saraswati di puri tersebut.

Kenyataan sejarah inilah yang menuntun penulis untuk mengkritisi patung Panji Landung yang sekarang didirikan di wilayah Pegayaman. Tepatnya di jalur shortcut 5 dan 6 Desa Pegayaman. Pembangunan patung Panji Landung sekarang sudah hampir selesai.

Penulis agak sedikit kaget dengan telah hampir rampungnya bangunan patung tersebut. Sebab, penulis melihat patung tersebut menghadap ke arah Gunung Batukaru, tidak menghadap ke laut wilayah Denbukit.

Dari cerita sejarah yang penulis tulis di atas, seharusnya patung tersebut menghadap ke laut, bukan menghadap ke gunung. Sebab, cerita Panji Landung ini adalah cerita awal sebuah perencanaan penguasaan wilayah (blue print) untuk Denbukit. Seharusnya sebelum membangun patung Panji Landung, dikuasai lebih dulu konsep sejarah dan maknanya. Agar apa yang dilihat dan dipahami oleh generasi saat ini, adalah sebuah pemandangan yang valid secara sejarah.

Selain itu, patung Ki Barak yang digenggam oleh Panji Landung, tampak wajahnya terlalu tua. Kalau dilihat di patung tersebut, wajah Ki Barak lebih mengesankan wajah umur 25 tahun. Sedangkan Ki Barak saat ke Bali utara dan berada di lokasi itu ketika berumur 12 tahun. Penulis melihat wajah Ki Barak tersebut dalam video beredar yang men-zoom patung wajah Ki Barak.

Melalui tulisan ini, penulis sebagai warga Pegayaman asli yang tahu sejarah, ingin minta konfirmasi, bagaimana menyikapi berdirinya patung Panji Landung yang sudah hampir selesai ini. Karena sedikit menyimpang dari cerita sejarah yang berkembang.

Disamping itu, penulis juga sebenarnya punya analisa sendiri tentang Panji Landung ini. Dalam pikiran penulis, kisah Panji Landung ini adalah kisah sebuah konsep sumpah yang bernama ‘Sumpah Panji Landung’. Panji Landung diambil dari dua kata, yaitu ‘Panji’ dan ‘Landung’. ‘Panji’ adalah bendera, dan ‘Landung’ adalah tinggi. Jadi Panji Landung adalah bendera di ketinggian.

Makna filosofi dari ini adalah bahwa Panji Landung adalah sebuah sumpah yang diungkapkan sebagai sebuah janji penguasaan untuk Bali utara atau Denbukit. Artinya di ketinggian wilayah Pegayaman sekarang, Ki Barak Panji Sakti membuat sebuah sumpah untuk menguasai semua yang dilihat dari wilayah bebukitan Pegatepan (Pegayaman) dengan nama ‘Sumpah Panji Landung”.

Dan sumpah tersebut dibuktikan dan menjadi kenyataan. Sampai sekarang tempat bersumpahnya Ki Barak Panji Sakti menjadi wilayah Pegayaman, yang sejak awal diperintahkan sebagai penjaga wilayah keamanan Kerajaan Buleleng. Juga sebagai tempat hunian dan garapan, sampai di perbatasan Tabanan, yakni Desa Kembang Merta.

Semoga tulisan mendapat tanggapan dari pihak-pihak yang punya kapasitas untuk hal tersebut. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *