Masjid Kuno Keramat, dan Jejak Akulturasi Multi Etnik di Singaraja (1)

TAKMIR Masjid Kuno Keramat dalam rentang Oktober-November 2022 menggelar diskusi terbatas menggali sejarah Masjid Kuno Keramat. Sejumlah pemerhati sejarah dan tokoh atau sesepuh Kampung Kajanan diundang dalam diskusi yang dilaksanakan di masjid tersebut.

Dari pemerhati sejarah, hadir dari Forum Pemerhati Sejarah Islam (FPSI) Buleleng, Drs. Amoeng Abdurrahman, dan Drs. Ketut Muhammad Suharto. Sementara sesepuh dan tokoh Kampung Kajanan hadir Ustadz H. Abdurrahman Alawi, M. Mustafa Umar, Abdurrahman Johan, Hasan Bin Ibrahim, Kamalok Daeng, Agus Darmawan, serta beberapa tokoh lainnya.

Berikut catatan Ketua Takmir Masjid Kuno Keramat Singaraja, Muhammad Hisam, M.Pd., bersama Sekretaris Muhammad Mujib, tentang bagaimana kekayaan sejarah dan jejak peradaban Islam di Masjid Kuno Keramat Singaraja.

MASJID Kuno Keramat Singaraja menyimpan kekayaan sejarah yang luar biasa. Jejak akulturasi multi etnik bisa ditemukan di masjid ini.

Masjid Kuno Keramat terletak di Jl. Hasanuddin Singaraja. Tepatnya, masjid ini berada di Kelurahan Kampung Kajanan, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali. Dari Jalan Hasanuddin, jaraknya sekitar 10 meter, masuk gang kecil. Masjid ini berada di tengah pemukiman padat penduduk, di sebelah barat Tukad Buleleng.

Dalam sejarahnya, keberadaan Masjid Kuno tidak bisa dilepaskan dengan Pelabuhan Buleleng, dan segala aktivitasnya. Pelabuhan ini sangat ramai dikunjungi oleh para pedagang pada zamannya. Mereka datang dari segala penjuru daerah, dengan berbagai latar belakang etnis. Baik pada era kejayaan Kerajaan Buleleng maupun pada masa Kolonial Belanda.

Di sela-sela aktivitasnya, para pedagang di Pelabuhan Buleleng tersebut tentu butuh istirahat. Untuk melepaskan penat. Juga butuh beribadah. Bagi yang Muslim, butuh sholat lima waktu. Di sekitar Pelabuhan Buleleng, arah selatan, ada tempat yang berbentuk persegi (sekepat).

Sekepat ini jaraknya dekat dengan Pelabuhan Buleleng. Bisa dijangkau lewat darat dari Pelabuhan Buleleng atau dengan perahu lewat Tukad Buleleng. Berada di sisi atau pinggir sungai atau Tukad Buleleng. Sekepat inilah yang dijadikan tempat untuk istirahat, sekaligus tempat beribadah (sholat). Sekepat inilah yang menjadi cikal bakal Masjid Kuno Keramat Singaraja.    

Seperti namanya, masjid ini tergolong salah satu masjid tertua yang ada di Pulau Bali. Masjid ini menjadi kebanggaan masyarakat Kampung Kajanan, khususnya dan kota Singaraja pada umumnya. Keberadaan masjid ini menjadi saksi keberadaan umat Islam di Buleleng saat itu.

Dari namanya saja, yakni menggunakan kata ‘kuno’, menandakan bahwa masjid ini berdiri sudah cukup lama. Namun, siapa yang mendirikan pertama kali masih harus digali sejarahnya. Masih harus dipastikan sosok-sosok yang berada dibalik pendirian Masjid Kuno Keramat tersebut.

Ada yang menyebutkan Masjid Kuno Keramat didirikan oleh seorang Muslim asal Banten, bernama Ki Surati. Setidaknya itu menurut cerita dari beberapa sesepuh Kampung Kajanan.

Kapan berdirinya Masjid Kuno Keramat Singaraja bisa dikaitkan dengan keberadaan Kerajaan Buleleng. Kerajaan Buleleng didirikan I Gusti Anglurah Panji Sakti pada 1620 M. Juga dihubungkan dengan adanya Al Qur’an kuno yang ada di salah satu warga Singaraja yang bertahun 1625 M maupun Al Qur’an yang ada di Masjid Agung Jami’ Singaraja yang diperkirakan ditulis pada 1820 M.

Berdasarkan penelitian seorang arkeolog, Dr. Ali Fadilah, Masjid Kuno Keramat diperkirakan didirikan sekitar tahun 1654 M. Saat meneliti ornamen di Masjid Kuno Keramat pada tahun 1980-an, arkeolog Dr. Ali Fadilah menemukan kayu yang berbentuk candrasangkala di atas mimbar masjid. Kayu tersebut kondisinya sudah rapuh. Di kayu tersebut tertulis angka tahun dalam huruf Arab (tahun Hijriah) yang jika dikonversi ke tahun masehi berangka 1654.

Jika benar Masjid Kuno Keramat didirikan pada tahun 1654 M, menurut Pemerhati Sejarah Islam, Drs. Amoeng Abdurrahman, berarti itu di masa kekuasaan Raja Buleleng, I Gusti Anglurah Panji Sakti (memerintah sejak 1620 M). Bisa jadi, Raja Panji Sakti ikut memberi sumbangan dalam pembangunan Masjid Kuno Keramat.

Ornamen di pintu Masjid Kuno Keramat Singaraja

Berarti Masjid Kuno Keramat ada jauh sebelum adanya warga yang bermukim di sekitar masjid atau sekarang disebut Kampung Kajanan. Kisah Kampung Kajanan sendiri ada beberapa versi yang berkembang di masyarakat.

Versi pertama, seperti diceritakan sesepuh Kampung Kajanan, Moh. Mustafa Umar, bahwa Kampung Kajanan muncul setelah Pemerintahan Belanda meminta Raja Buleleng untuk menggeser warga Kampung Muslim di pinggir pantai ke daerah selatan. Pada saat itu, Raja Buleleng sempat menolak. Bahkan Raja Buleleng mengingatkan Belanda untuk tidak mengusik semeton Muslim-nya.

Akibatnya, Raja Buleleng dibuang oleh Belanda keluar Bali. Konon ada yang menyebutkan dibuang ke wilayah Sumatra Barat. Ada tokoh Kampung Muslim yang ikut serta saat itu, yakni Abdullah Mascaty.

Meskipun Raja Buleleng menolak, Belanda tetap mencari celah untuk memindahkan warga Kampung Muslim di pinggir pantai ke arah selatan. Termasuk mengasingkan Raja Buleleng dan mencari penggantinya. Akhirnya warga Muslim di pinggir pantai digeser ke daerah selatan (ngajanang). Daerah pindahan tersebut kemudian dikenal sebagai Kampung Kajanan.

Versi lainnya, seperti cerita yang berkembang di masyarakat, menyebutkan, pada suatu saat, terjadi eksodus atau perpindahan secara besar-besaran masyarakat keturunan Bugis yang tinggal di pesisir pantai (Kampung Bugis) akibat adanya bencana besar berupa banjir dan abrasi pantai. Banyak warga yang tadinya bermukim di pesisir pantai, pindah mengungsi menuju arah ngajanang. Ngajanang merupakan bahasa Bali yang berarti ke selatan.

Merasa aman di tempat selatan, warga pindahan dari pesisir pantai (Kampung Bugis) akhirnya menetap dan tinggal di daerah Ngajanang itu atau yang kemudian dikenal sebagai Kampung Kajanan.

Dikisahkan, warga pindahan yang mau menetap di Kampung Kajanan tersebut terlebih dahulu harus membersihkan semak belukar sepanjang tukad Buleleng, sebelum membangun tempat tinggalnya. Di antara semak belukar itulah ditemukan sebuah bangunan tinggi berbentuk sekepat atau persegi berukuran 15 m x 15 m dengan atap meru. Bangunan itu mirip dengan masjid yang ada di Jawa.

Sekepat tersebut ternyata sebuah surau kecil, tempat orang Islam untuk melaksanakan ibadah. Ini tergambar dari isi bangunan tersebut. Saat ditemukan sudah ada mihrab tempat imam dan mimbar antik/kuno. Mimbar ini berornamen atau berisi ukiran yang menggambarkan pepatraan, yaitu visualisasi flora sebagai bentuk kedamaian dan kekayaan pulau Bali.

Bentuk ornamen atau ukiran di mimbar itu terkesan kasar, yang memperlihatkan ciri khas seni pahat daerah Bali utara. Selain di mimbar, ornamen atau ukiran juga terdapat pada pintu dan jendela yang bernuansa masa Kerajaan Buleleng. Itulah jejak akulturasi budaya yang ada di Masjid Kuno Keramat.

Ruang utama dan mihrab Masjid Kuno Keramat

Keunikan lain dari sekepat tersebut adalah bangunan ini ditopang oleh empat kayu pohon kelapa sebagai penyangga ruang utama. Empat pilar utama (soko guru) dari pohon kelapa ini diambil dari pohon kelapa yang saat itu banyak tumbuh di sepanjang pinggir Tukad Buleleng. Tukad Buleleng tepat berada di belakang sekepat tersebut.

Namun, saat ini empat pohon kelapa tersebut sudah direnovasi. Empat tiang tersebut diganti dengan beton permanen karena kayu kelapa sebagai penyangga aslinya sudah lapuk dimakan usia. Sekarang dapat dilihat bentuk empat tiang Masjid Kuno sudah berdiri kokoh dan mengikuti zaman dan sesuai dengan bentuk batang pohon kelapa itu sendiri.

Tukad Buleleng merupakan sungai besar dan dalam, yang bermuara di Pelabuhan Buleleng. Karena itu, sangatlah memungkinkan jika Masjid Kuno ini menjadi persinggahan bagi pedagang-pedagang yang beragama Islam karena masjid tepat berada di pinggir sungai tersebut.

Hal itu sangat dikuatkan dengan adanya pernik-pernik keramik yang berasal dari Cina maupun papan hiasan ukiran dari luar maupun dari lokal yang saat ini masih tersisa sebagian dan tersimpan dengan baik di Masjid Kuno Keramat.

Keramik-keramik Cina di Masjid Kuno Keramat

Sampai tahun 1971, seperti dalam catatan A. Mustafa Kamal, di sebelah timur belakang Masjid Kuno Keramat ada tanah lapang, tempat kegiatan masyarakat. Misalnya melaksanakan acara Maulidan (maulid Nabi Muhammad SAW), pencak silat, dan kegiatan lainnya. Tanah lapang tersebut berbatasan dengan Sungai (Tukad) Buleleng.

Tukad Buleleng itu sangat dalam dan dipenuhi pepohonan sampai ke sebelah utara masjid. Antara lain pohon gatep, timbul, sotong, jambu, sirsak, mangga, Nangka. Karena itu, bakda maghrib suasana sangat sepi dan menyeramkan.

Di sebelah selatan masjid, di bawah pohon nangka, ada tambak (kolam) untuk berwudhu dengan ukuran 4 x 4 m. Untuk berwudhu, ada jalan naik-turun bertangga yang berjumlah 5 tangga. Tangga terakhir di tambak terbuat dari kayu. Namun, sejak 1974, tambak tempat wudhu itu ditimbun, dan dipinjam untuk lokasi pembangunan SDN 1 Kampung Kajanan.

Salah satu peninggalan sejarah ini perlu dikembalikan pada kondisi semula. Kolam atau tambak tempat wudhu itu perlu ‘dihadirkan’ lagi.

Sedangkan di dalam masjid, di sebelah timur selatan ruang sholat jamaah wanita yang bersebelahan dengan keranda (katil) untuk bawa jenazah lantainya belum bersemen. Tembok Masjid Kuno Keramat saat itu dibuat dari tanah bercampur kapur (karang). Sementara tiangnya terbuat kayu kelapa yang dibungkus kapur dan tumpukan karang. Atap masjid sudah berganti dari seng bertumpuk sesuai aslinya yaitu berbentuk meru. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *