Nyoman Parta Hadiri Pemotongan Sapi Hasil Penggemukan di RPH Mambal

  • Penggemukan Sapi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan, Sapi Bali untuk Dunia

BADUNG – Anggota DPR RI, Nyoman Parta, menyaksikan pemotongan sapi hasil penggemukan di RPH Mambal, Kabupaten Badung, Rabu (5/10/2022). Sapi yang dipotong merupakan hasil penggemukan dengan memberikan pakan khusus.

Ada dua ekor sapi yang dipotong. Kedua sapi tersebut mencatat kenaikan ADG 1,4 dan 1,65 per harinya. Berat awal sapi pertama awalnya 412 kg dan sapi kedua awalnya 444 kg. Setelah diberikan pakan khusus selama 32 hari, berat sapi pertama menjadi 457 kg dan sapi kedua menjadi 497 kg. “Ini merupakan kenaikan yang sangat signifikan untuk kelas sapi lokal,” kata Parta.

Menurut politisi PDI Perjuangan asal Gianyar ini, darah, daging dan kotoran sapi tersebut juga akan diuji lab oleh Tim Lab Terpadu IPB Bogor dan Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH) Kementerian Pertanian. Pengujian dilakukan untuk mengetahui kualitas dan kandungan yang ada di dalam daging sapi bali hasil treatmen ini. Daging ini kemudian akan dilakukan proses pelayuan kemudian akan dinikmati bersama stake holder terkait.

Parta menjelaskan, sektor agrikultur menyumbang 11% gas rumah kaca dimana 40% nya berasal dari peternakan, yaitu kotoran sapi yang menjadi salah satu penyumbang karbon terbesar. “Dengan treatment ini, kotoran sapi akan sedikit mengandung gas metan sehingga bisa langsung diaplikasi ke lahan pertanian tidak membutuhkan waktu untuk fermentasi lagi,” jelasnya.

Dikatakan juga, jumlah populasi sapi di Indonesia mencapai 18,05 juta ekor pada 2021. Angka ini lebih besar 3,52% dibanding tahun 2020 yang berjumlah 17,44 juta ekor.

Sementara konsumsi daging sapi di Indonesia sebesar 2,57 kg per kapita, sehingga kebutuhan daging sebesar 706.388 ton. Produksi nasional hanya sebesar 436.704 ton, sehingga ada defisit sebesar 207.199 ton.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengimpor daging sapi sebesar 223.420 di tahun 2020. Sedangkan pada tahun 2021 sebesar 211.430 ton, dan kuota impor pada tahun 2022 mencapai 266.065 ton.

Parta mengatakan, ketergantungan akan impor daging makin tahun makin bertambah. Salah satu penyebabnya adalah karena daging sapi lokal tidak memenuhi standar, baik dari sisi pemeliharaan yang masih tradisional, daging yang alot dan kenaikan bobot harian yang masih rendah.

“Oleh karena itu, kami, 6 anggota DPR RI dapil Bali dari Fraksi PDI Perjuangan melakukan sebuah upaya pemberian pakan khusus, menggandeng peneliti dokter David,” paparnya.

Ia menjelaskan, pemberian pakan khusus pada sapi bali dengan sample 30 ekor sapi. Lokasi penelitian di kandang rakyat, yakni 10 ekor di Kabupaten Gianyar, 10 ekor di Kabupaten Tabanan, 5 ekor di Kabupaten Badung dan 5 ekor di Kabupaten Bangli.

“Penggemukan sapi rakyat ini untuk kedaulatan pangan. Sapi Bali untuk dunia,” tandas Parta, yang juga mantan Ketua Komisi IV DPRD Bali ini.

Menurut Parta, ada sejumlah kelebihan sapi Bali, antara lain bisa hidup di berbagai iklim, suhu dingin bersalju, maupun panas terik. Sapi Bali bisa makan apa saja dari setrat, tumbuhan hijau hingga jerami kering. Sapi Bali betina juga subur, bisa 17 kali punya anak. Dagingnya kelas 1 (krakas) 52%, daging kelas 2-nya 48%. Pada sapi Bali terdapat buliran lemak (marbling) di dalam daging yang membuat aroma daging tercium hingga jarak yang jauh. Serta sapi Bali terkenal pintar.

Namun, populasi sapi Bali terus berkurang, karena beberapa sebab. Antara lain petani mengganti sapi dengan traktor untuk membajak lahan, ukuran sapi relatif lebih kecil, diperjual-belikan secara masif keluar daerah, tidak diterima di hotel dan restoran karena dagingnya tidak empuk (keras), kebanyakan standar daging yang digunakan chef di Indonesia mengunakan standar negara penghasil daging sapi.

“Jadi, walaupun Bali didatangi banyak turis, tetap saja yang dikonsumsi adalah daging sapi impor  seperti wagyu Jepang, brahman India, limosin dan sapi Belgia,” tandas Parta.

Acara pemotongan sapi tersebut dihadiri ID food (BUMN yang bergerak di bidang pangan), Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH) Kementerian Pertanian, Lab Terpadu IPB Bogor, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Bali, Universitas Udayana, Universitas Warmadewa, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Kota se-Bali, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Indramayu, Wilan dari RPH Mambal, sejumlah peternak, dan dr. David. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *