- Workshop dan Diskusi Kolaboratif Bertajuk Membaca Kota, Mengeja Kita
TAMPANG sebuah kota bisa dibaca dari sebuah cerpen. Dan, sebuah cerpen bisa menggambarkan detail dari sebuah kota.
Kita akan lebih detail mengenali sebuah kota dengan membaca banyak cerpen. Tentang cerita-cerita uniknya. Tentang tempat-tempat istimewa atau hal remeh temehnya. Hingga tentang karakter penduduk sebuah kota.
Lantas bagaimana jika kota Singaraja menjadi tema untuk penulisan cerpen? Dan yang menulis cerpen itu sebanyak orang. Menulis 20 cerpen tentang Singaraja.
Tentu masing-masing penulis memiliki cerita tersendiri mengenai kota Singaraja. Mulai dari kondisi Pasar Anyar Singaraja, sebutan lain kota Singaraja, kenangan di Pantai Penimbangan, museum, persoalan sampah dengan bank sampah, serta kisah romansa di Pelabuhan Tua Buleleng.
Penulisan cerpen itu dikumpulkan menjadi satu dan dibahas dalam workshop dan diskusi kolaboratif “Membaca Kota, Mengeja Kita”. Program ini dilaksankan, Sabtu (24/9/2022) di Komunitas Mahima Singaraja.
Program ini diinisiasi Lingkar Studi Sastra Denpasar, sebagai 1 dari 8 yang lolos Open Call Jakarta International Literary Festival, Komite Sastra, Dewan Kesenian Jakarta. Putu Juli Sastrawan dari Lingkar Studi Denpasar pun melibatkan dua cerpenis serta akademisi dalam workshop dan diskusi kolaboratif tersebut.
Cerpenis Made Adnyana “Ole” serta Gde Aryantha Soethama fokus pada bahasan cerita pendek karya 20 penulis. Sementara Akademisi Gede Made Metera memberikan gambaran kota Singaraja dari sudut gender hingga tradisi.

“Tujuannya untuk melihat adakah sastra (dalam hal ini cerpen) menangkap transformasi kota, baik di dalamnya krisis eksistensial kewargaan, urbanisme, dan kegelisahan atas berbagai perubahan fisik dan sosial yang terjadi pada kota, khususnya kota Singaraja,” terang Juli Sastrawan.
Diskusi yang dikemas dengan santai ini pun banyak membahas mengenai tema, struktur cerita, plot, karakter hingga ide cerita. 20 karya yang telah diterima itu nantinya akan dicetak dalam sebuah buku kumpulan cerpen.
“Tapi sebelum dibukukan, karya dari teman-teman ini harus direvisi dulu, supaya lahir produk yang bagus. Itulah alasan kami melibatkan cerpenis yang sudah mumpuni untuk membatu memberikan masukan untuk karya yang lebih baik dan jadi,” imbuh Juli.
Dari 20 cerpen yang terkumpul itu, masing-masing memiliki keunikan serta alur yang berbeda. Meski ada kesamaan tema, namun ide cerita yang dimiliki dirasa cukup khas dan otentik. “Kalau cerpen bertema seperti ini, gambaran kota Singaraja itu harus unik dan otentik. Kalau tidak begitu, maka tulisannya akan ditinggalkan, tidak dibaca,” ujar Cerpenis Gde Aryantha Soetama.
Sejatinya menulis cerita pendek adalah ruang kebebasan bagi penulis. Penulis bebas dan dengan leluasa menuangkan ekspresinya dalam sebuah alur cerita. Akan tetapi, pada program ini, cerpen-cerpen yang terkumpul harus memenuhi ketentuan yang menyinggung soal Singaraja, namun tak tergantikan.
“Misalnya menulis kisah cinta di Pantai Penimbangan, pantai itu bisa saja diganti dengan Pantai Kuta atau Sanur. Jadi harus dicari hal-hal yang benar-benar unik, agar Penimbangan itu tidak bisa digeser. Jika orang baca akan berpikir ini hanya ada di Singaraja, tidak ada di tempat lain. Tugas ini berat, karena harus ada Singarajanya,” tambah Gde Aryantha.

Cerpenis Made Adnyana Ole menambahkan, dalam penulisan cerpen pada program workshop “Membaca Kota, Mengeja Kita” ini, tempat-tempat yang menjadi plot cerita mesti diceritakan lebih rinci. Sehingga hal itulah yang menjadi penanda kota dalam cerita. “Tanda-tanda itu yang harus diceritakan yang menunjukkan soal Singaraja. Jadi tidak sekadar sampiran saja tempat itu disebutkan dalam cerita,” kata dia.
Plot-plot yang diceritakan secara lebih rinci itu nantinya dapat memberikan gambaran bagi pembaca yang belum pernah atau tidak mengetahui kondisi Singaraja serta hal-hal yang ada di Singaraja. Sehingga dari membaca sebuah cerpen, Kota Singaraja dapat terbayang dari berbagai sudut.
“Jadi orang akan berpikir Singaraja ternyata ada begini. Singaraja ternyata seperti itu. Jadi bisa dibayangkan Singaraja itu seperti apa bagi yang belum pernah datang ke sini. Tapi kalau yang sudah pernah, bagaimana dia membaca cerpen itu supaya tetap merasa heran meski dia sudah tahu tempatnya bagaimana. Itu yang harus dilakukan,” terangnya.
Gambaran tentang Kota Singaraja pun diperkuat Akademisi Dr. Gde Made Metera. Dosen yang sekaligus sebagai Ketua PHDI Buleleng ini memberikan gambaran dari sisi tradisi serta kesetaraan gender. Ulasan mengenai tatanan tradisi masyarakat Buleleng yang tidak boleh nyentana pun dapat menjadi sebuah ide cerita. Begitu pula dengan isu kesetaraan gender yang dapat digali untuk dijadikan materi penulisan cerpen.
“Nanti silahkan itu dikembangkan lagi seperti apa jadinya bila diceritakan dalam dunia fiksi,” ujarnya. (bs)

