BULELENG – Peringatan Perang Banjar ke-154 digelar di Geriya Gede Banjar, Kecamatan Banjar, Buleleng, Selasa (20/9/2022). Masyarakat Banjar dan desa-desa sekitarnya tumplek blek di lokasi acara untuk menyaksikan rangkaian acara.
Hadir dalam peringatan Kadis Sosial Kabupaten Buleleng, I Putu Kariaman Putra, mewakili Pj Bupati Buleleng, dan pejabat di tingkat Kecamatan Banjar. Serta tentu saja para generasi keturunan para pejuang dalam Perang Banjar.
Dalam sambutannya, Ketua Panitia Peringatan Perang Banjar ke-154, Ida Bagus Wika Krishna, menjelaskan, malam peringatan Perang Banjar merupakan hari spesial. Sebab, generasi-generasi paiketan pasemetonan Perang Banjar berkumpul, bereuni. “Tampilannya hari ini merupakan tampilan yang luar biasa. Tampil seperti masa lalu ketika zaman Bali klasik,” jelasnya.
Ia menjelaskan, sebenarnya sejak dulu peringatan Perang Banjar sudah dilaksanakan. Hanya saja, sebatas diperingati dalam kelompok-kelompok kecil, orang-rang tua, orang-orang sepuh generasi pejuang Perang Banjar. Setiap tanggal 20 September, mereka berkumpul kecil-kecilan memperingati peristiwa heroik tersebut.
“Dan sejak 2019, peringatan Perang Banjar dilaksanakan secara terbuka. Tentu tujuannya adalah bagaimana spirit dan nilai-nilai perjuangan dengan semangat Sura Magadha bisa diwariskan. Digali ingatan kolektifnya untuk generasi-generasi saat ini,” kata Gus Wika, sapaan akrab Ida Bagus Wika Krishna.

Menurutnya, sejarah tentu bukan untuk diulang. Peringatan sejarah peperangan bukan untuk berperang kembali. Tetapi sejarah perjuangan itu berguna untuk diambil keteladanannya. Diambil nilai-nilainya, diambil spiritnya, kemudian ditanamkan kepada generasi-generasi di masa depan agar mereka paham bagaimana menjaga tanah kelahirannya.
“Bagaimana menghormati tanah pelekatan-nya. Bagaimana menghargai bangsa dan negaranya. Dan juga bagaimana menumbuhkan keberanian dalam dirinya ketika harus berkorban, berjuang untuk menjaga spirit itu sendiri,” ujar Gus Wika.
Ia menegaskan, Perang Banjar bukankah perang biasa. Perang Banjar terjadi pasca Perang Jagaraga, di mana seluruh Bali yang terhimpun di Jagaraga itu sudah dikalahkan oleh Belanda.
“Ingat ini, ketika berbicara Banjar zaman dulu, jangan berbicara sempit, hanya berpikir tentang Desa Banjar. Itu salah. Banjar zaman dulu adalah Nagari Banjar, ibukota dari Distrik Buleleng Barat. Jadi perjuangan dalam Perang Banjar, bukan perang Desa Banjar, tapi perang Distrik Buleleng Barat yang tidak mau tunduk, tidak mau patuh, dan tidak mau diinjak harga dirinya oleh penjajah,” tegas sosok yang juga Wakil Ketua III STAHN Mpu Kuturan Singaraja ini.
Diceritakannya, 19 September 1868 adalah momentum yang menentukan untuk memilih, apakah berperang atau tunduk terhadap Belanda. Saat itu, dikirimlah I Kamasan untuk melakukan negosiasi di Temukus. Dulu di Temukus ada pelabuhan, tempat pasukan Belanda bersandar.
Namun, negosiasi I Kamasan dengan Belanda tidak ada titik temu. Akhirnya ia kembali. Kemudian digelar Paruman Agung dengan peserta Ida Made Rai, Ida Nyoman Ngurah, Ida Made Tamu, Ida Made Kaler, Ida Made Mas, I Guliang, Ida Made Gunung, I Kamasan, I Dade, dan Kumpi Nari. Pilihannya adalah berperang, melawan Belanda.
Menurut Gus Wika, dalam catatan sejarah hampir tiga kali serangan Belanda itu bisa dikalahkan oleh orang-orang (laskar) Banjar. Tiga pertempuran itu bukan pertempuran biasa. Sebab, laskar Banjar bukan hanya melawan orang-orang Belanda, tetapi juga melawan orang-orang Bali yang sudah patuh dan tunduk kepada Belanda saat itu.
“Itu pelajaran bagi kita semua bahwa bangsa yang besar, perjuangan yang besar, keberanian sebesar apapun di dalam tubuh kita selalu ada duri, di dalam tubuh kita selalu ada yang berkhianat, maka kita harus petik pejaran dalam konteks kekinian bahwa kita harus bersama-sama, harus bersatu,” tandasnya.
Pada akhirnya, kata Gus Wika, pada tanggal 24 Oktober 1868, Belanda minta bantuan Batavia dan akhirnya berhasil mengalahkan laskar Banjar.

Pada kesempatan itu, Gus Wika juga menyampaikan sesuatu yang ironi dalam sejarah Perang Banjar. Sebab, hingga kini tidak ada satu monumen sebagai penghormatan kepada pejuang-pejuang atau laskar Banjar. Justru sebaliknya yang ada adalah monumen makam Belanda di Temukus, untuk mengenang petinggi-petinggi mereka yang meninggal pada saat Perang Banjar.
“Ini ironi sejarah bagi kita. Saya terima kasih kepada Pj Bupati, khususnya Kadis Sosial Buleleng yang dalam dua tahun ini bahkan seingat saya mulai 2019, sudah mulai menggali kembali sejarah Perang Banjar. Saya sudah lihat video pendek Dinas Sosial. Saya sudah membaca draf SK Bupati yang membuat kajian-kajian terhadap kepahlawanan dan perjuangan masyarakat Banjar,” ujarnya.
Menurut Gus Wika, peringatan Perang Banjar ini bukan saja reuni bagi keluarga yang tergabung dalam Paiketan Pasemetonan Perang Banjar. “Ini adalah reuni keluarga besar, di mana keluarga I Kamasan, keluarga I Dade, keluarga Ida Made Rai, keluarga Ida Made Kaler, keluarga Ida Made Mas, keluaga Ida Made Sapan, keluarga Kumpi Nari, itu berkumpul di tempat ini. Ini bukan reuni sederhana, Ini reuni spirit. Reuni menanamkan perjuangan bagi kita bersama,” tandasnya.
Ia juga meminta kepada Kadis Sosial Buleleng, untuk meneruskan penelusuran tentang sejarah Perang Banjar yang sempat tertunda karena pandemi Covid-19. “Kepada adik-adik saya, kepada generasi-generasi penerus saya, jaga terus spirit Sura Magadha di dalam diri kalian. Jaga terus spirit Sura Magadha di dalam ruang batin kalian semua. Karena pada suatu saat spirit itu akan diuji dengan suatu permasalahan dan berbagai tantangan,” paparnya.
Sementara Perbekel Banjar, Ida Bagus Dedy Suyasa, dalam sambutannya, menyatakan mendukung acara-acara peringatan semacam itu. Untuk mengenang perjuangan pahlawan yang ikut berperang.
Ia juga mengusulkan agar Ida Made Rai bisa ditetapkan menjadi pahlawan nasional. “Mudah-mudahan ke depan bisa dikawal agar Ida Made Rai menjadi pahlawan nasional,” tandasnya.
Acara peringatan Perang Banjar ke-154 diisi dengan Kirab Pusaka, menyucikan pusaka yang digunakan saat Perang Banjar dan fragmen Perang Banjar yang dimainkan anak-anak TK Negeri Banjar. Yang menghebohkan penonton adalah anak-anak TK Negeri Banjar memainkan fragmen Perang Banjar. Sebagian besar penonton mengabadikan fragmen tersebut dengan kamera HP-nya. Bahkan ada beberapa yang melakukan live di akun sosial mereka. (bs)

