Warek III Undiksha Berikan Klarifikasi dan Minta Maaf

  • Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus Keluhkan Diskriminasi Rekrutmen Personel MPM dan BEM Undiksha

BULELENG – Wakil Rektor III Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Prof. Dr. Wayan Suastra, memberikan klarifikasi atas pernyataannya yang melarang mahasiswa untuk ikut kegiatan organisasi eksternal kampus. Klarifikasi tersebut disampaikan dalam dialog dengan pucuk pimpinan organisasi mahasiswa eksternal kampus di Gedung Rektorat Undiksha Singaraja, Senin (19/9/2022).

Dalam kesempatan itu, Prof. Suastra juga menyampaikan permohonan maaf atas pernyataannya yang sempat viral tersebut. Menurutnya, ada salah persepsi dan penyebaran video yang tidak utuh, sehingga pernyataannya dipersepsi negatif. Dalam dialog tersebut hadir dari KMHDI, IMM, HMI, GMNI dan unsur organisasi pemuda lainnya seperti KNPI.

Warek III Prof. Suastra mengaku semua ucapannya dalam video yang telah beredar luas itu sebenarnya meminta kepada mahasiswa baru untuk berhati-hati masuk ke dalam organisasi kemahasiswaan agar tidak terjebak bergabung dengan organisasi intoleran, radikal dan merongrong empat pilar kebangsaan.

“Tidak ada maksud lain hanya meminta untuk berhati-hati agar tidak bergabung dengan organisasi yang intoleran, radikal dan yang merongrong empat pilar kebangsaan. Ini hanya misinterpretasi. Saya kira konteksnya itu,” ujarnya.

Dalam dialog tersebut, mahasiswa dari organisasi eksternal kampus menerima klarifikasi Warek III Undiksha Prof. Suastra. Termasuk permintaan maafnya.

Ketua Umum HMI Cabang Singaraja, Agung Ardiansyah, menilai clear. Namun, ia mengeluhkan adanya diskriminasi terhadap kader-kader HMI yang ikut aktif di organisasi mahasiswa intra kampus. Agung mengaku dalam setiap kali rekrutmen pengurus BEM dan MPM (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa) ada dugaan penjegalan terhadao.Hal itu terlihat dari cara memberikan pertanyaan menelisik dengan menanyakan latar belakang kegiatan organisasi mahasiswa eksternal yang diikuti.

“Saya sendiri mengalami saat mengikuti tes rekrutman di MPM.Saat mereka wawancara (para penguji) mengetahui bahwa kita dari kader HMI atau kader lainnya dipastikan tidak lolos. Bagaimana kami bisa memberikan kontribusi nyata kepada internal sebab sudah dijegal di awal,” katanya.

Agung Ardiansyah berharap, dialog langsung dengan Warek III, persoalan seperti itu bisa didengar dan dapat menemukan jalan keluar yang solutif. ”Sejak masuk ke Undiksa tahun 2016 saya sudah mengetahui ada perlakukan diskriminatif ini. Terbitnya Permenristekdikti Nomor 55 Tahun 2018 tentang Pembinaan Ideologi Bangsa seharusnya menjadi ajang kolaborasi eskternal dan internal dan hingga kini tidak terjawab. Kami berharap momentum pertemuan ini akan menjadi titik balik,” tandasnya.

Keluhan yang sama disampaikan Ketua Bidang Organisasi GMNI Buleleng, Davin Fajar Irianto. Menurutnya, ada beberapa kader GMNI yang mendapatkan perlakuan diskriminasi untuk mengikuti organisasi internal kampus. “Mohon kepada Bapak untuk memberikan bimbingan kepada organisasi internal agar tidak muncul seperti apa yang disampaikan Ketua Umum HMI tadi,” katanya.

Sementara Ketua PC KMHDI Buleleng, Ni Luh Sintayani, mengaku memahami klarifikasi yang disampaikan Warek III. Terlebih ruang gerak KMHDI berpegang pada empat pilar kebangsaan, bukan termasuk organisasi intoleran. ”Kami menerima klarifikasi dan permohonan maaf beliau dan sudah dianggap clear,” ucapnya.

Sementara terkait dugaan diskriminasi, Sintayani mengaku tidak mengalami dan berharap hal itu tidak terjadi. Bahkan Warek III mendukung beberapa event yang dilakukan KMHDI. Namun beredarnya video  berdurasi 46 detik dikanal youtube BEM REMA Undiksha, Sintayani menyayangkan.

Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Buleleng, Ikrima Maulida, mengaku berterima kasih terhadap Warek III yang telah membuka ruang dialog sehingga kecurigaan yang ada dapat diselesaikan. Menurutnya, jelas bukan organisasi IMM yang dimaksud oleh Warek III.

”Harapannya kolaborasi dan sinergi akan terwujud sehingga organisasi internal kampus akan membuka diri tidak malah semakin tertutup. Dan seterusnya akan kita kawal hasil ini hingga konkret dan nyata,” ujarnya.

Hal yang sama disampaikan Ketua Bidang Organisasi GMNI Buleleng, Davin Fajar Irianto. Ia mengatakan, asumsi-asumsi liar yang berkembang di lingkungan civitas akdemika Undiksha tidak menjadi bumerang dan menyebabkan mahasiswa menjadi takut bergabung dengan organisasi eksternal.

”Kami berharap setelah ini pihak kampus dan lembaga yang ada baik internal dan eksternal dapat bersinergi,” ujarnya.

Atas adanya dugaan prilaku diskriminatif pihak kampus, Prof. Suastra mengaku belum begitu detil mengetahuinya. Namun, Prof. Suastra mengaku setelah dialog tersebut akan ada bukti nyata adanya perubahan (kebijakan). ”Tunggu saja, saya tidak bisa janji namun semua akan kita bantu semua,” tegasnya. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *