
TANGGAL 30 September 2022 nanti, SMP Maulana Pegayaman berulang tahun ke-50. Artinya, lembaga pendidikan ini sudah memasuki usia emasnya. Sebuah pengabdian yang lumayan panjang. Pengabdian kepada masyarakat, pengabdian kepada sejarah.
Dalam perjalanan sejarahnya, keberadaan SMP Maulana sangatlah berarti bagi warga Desa Pegayaman. Di tengah kebutuhan warga akan pendidikan, SMP Maulana hadir. SMP Maulana sangat membantu pendidikan masyarakat Pegayaman, terutama bagi mereka yang kehidupan ekonominya pas-pasan.
SMP Maulana pada zamannya menjadi jawaban bagi warga Pegayaman yang membutuhkan pendidikan bagi anak-anak, terutama bagi mereka yang kondisi ekonomi keluarganya yang minim. Itulah setidaknya yang dirasakan penulis. Penulis menempuh pendidikan di SMP Maulana, karena orangtua tidak mampu lebih dari itu.
Yang penulis bayangkan, seandainya pada saat itu tidak ada SMP Maulana di Pegayaman, bisa dipastikan banyak anak-anak desa tua ini yang tidak tamat SMP. Keberadaan SMP Maulana benar-benar menolong anak-anak Pegayaman untuk memperoleh pendidikan. SMP Maulana menjadi semacam penyelamat pendidikan anak-anak Pegayaman.

SMP Maulana berada di bawah pengelolaan Yayasan Maulana yang didirikan dan menjadi penggerak utamanya, yakni Ketut Raji Jayadi sebagai ketua yayasan, Sulaiman Tolib sebagai sekretaris, dan Gazali Habibullah sebagai bendahara.
Yayasan Maulana didirikan pada 30 September 1972. Yayasan ini bergerak di bidang pendidikan dan sosial. Dalam bidang pendidikan, Yayasan Maulana menaungi dua lembaga, yaitu TK Maulana, dan SMP Maulana. Sementara di bidang sosial, yayasan ini menyantuni anak yatim piatu dan kegiatan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Dikutip dari tulisan Ketut Raji Jayadi berjudul “Desa Pegayaman, Kota Santri di Pulau Bali” yang menjelaskan, SMP Maulana didirikan pada 30 September 1972. Artinya di tahun 2022 ini, usia SMP Maulana sudah menginjak 50 tahun.
Mottonya saat itu “Panca Dharma Ya Maulana”. Yang berarti ‘berbudi luhur, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berpikiran bebas dan berkarya nyata”. Pada tahun 1976/1977, dibuka kelas pertama di atas tanah waqaf dari Ibu Julaeha dari Desa Pegayaman. Waktu itu bangunannya berukuran 7 x 7 x 6 meter.
Padahal awalnya lembaga pendidikan ini bernama Madrasah Tsanawiyah (MTs) Maulana. Karena berupa madrasah, MTs Maulana berada dalam naungan Departemen Agama (Kementerian Agama sekarang). Kurikulumnya tentu mengaca ke kurikulum Depag.

Namun, dalam perjalanannya, MTs Maulana kemudian berubah menjadi SMP Maulana. Statusnya tidak lagi di bawah Depag, melainkan berada di bawas Dinas Pendidikan (Diknas). Tentu kurikulumnya pun mengikuti kurikulum Depdikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan-Kemendikbud sekarang).
Meskipun sekolah ini sederhana, yang berada di desa, namun lulusannya atau jebolannya banyak yang ‘jadi orang’. Tamatan SMP Maulana banyak yang menempati strategis, baik di pemerintahan pusat maupun daerah. Tentu saja juga yang menjadi aparat Desa Pegayaman.

Alhamdulillah, sampai sekarang keberadaan Yayasan Maulana, dengan dua lembaganya, yakni TK Maulana dan SMP Maulana masih tetap bisa menjaga dan berkompetisi dengan lembaga pendidikan lainnya. Jumlah siswa TK saat ini sebanyak 30 orang. Sementara jumlah siswa SMP Maulana sebanyak 106 orang. (bs)
