
KEBERAGAMAN budaya yang ada di Bali juga mempengaruhi subak. Keberadaan subak sesuai dengan budaya di mana subak itu berkembang. Termasuk yang sifatnya dilandasi agama.
Contoh subak yang ada di Desa Pegayaman yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Dalam perjalanan sejarah dan dinamika warga Pegayaman yang sudah berumur 400 tahun sejak keberadaannya tahun 1648 M, yang direkrut Raja Panji Sakti dari Blambangan, Jawa Timur.
Para laskar dari Blambangan yang dibawa ke Bali oleh Raja I Gusti Anglurah Panji Sakti kemudian ditempatkan di hutan gatep, sebagai benteng liar sendi pengamanan Kerajaan Buleleng. Di hutan gatep tersebut sumber air melimpah.

Dengan sumber air yang berlimpah ini, sangat mendukung warga Pegayaman untuk membentuk dan mengikuti sistem subak. Sumber mata air Buleleng ada di wilayah Pegayaman itu bernama Yeh Buus.
Yeh Buus ini memiliki debit air yang sangat besar. Jumlah debitnya stabil, baik di musim hujan maupun di musim kemarau. Ada dua kemungkinan dari mana asal airnya. Bisa jadi berasal dari Danau Batur, atau bisa jadi berasal dari Danau Buyan. Sebab, posisinya berada di pertengahan, di lembah gunung antara Danau Batur dan Danau Buyan.
Akan tetapi, yang jelas mata air Yeh Buus yang berada di wilayah Pegayaman, sangat mendukung pengairan untuk wilayah Buleleng. Keberadaan Desa Pegayaman yang diapit oleh sumber mata air yang berlimpah, sangat memungkinkan warga Pegayaman untuk melaksanakan sistem irigasi dalam pertanian, dengan memakai sistem subak yang telah berkembang di Bali sejak abad VIII hingga sekarang.
Karena penduduknya mayoritas beragama Islamnya, sistem subak di Desa Pegayaman agak berbeda dengan sistem subak Bali pada umumnya. Subak yang berkembang di desa ini dalam pelaksanaannya ada sejumlah perubahan. Perbedaan yang menonjol hanya pada wujud sakral dalam pelaksanaannya.
Seperti dalam Mapag Toya, orang Pegayaman menggunakan sistem dan cara yang berdasar pada agama Islam, yaitu dzikir dan bacaan doa Abdau sampai akhir yang terdapat pada Albarzanji. Intinya dzikir ini mengucapkan doa syukur atas nikmat air yang berlimpah, dan ditutup dengan doa.
Dalam Mapag Toya ini warga subak membawa makan yang berupa ketupat, yaitu ketupat bekal, ketupat lepas, dan ketupat pengeluar. Semua makanan ini untuk disantap sehabis dzikir. Bukan untuk disesajikan.
Begitu juga dalam pelaksanaan selamatan menjelang panen. Ketika padi sudah berbuah menjelang menguning, diadakan selamatan sate gempol. Sate gempol ini dulu bahannya terbuat dari daging kijang yang diburu oleh krama subak. Tapi kini kijang sudah tidak ada, dan diganti dengan daging sapi. Acaranya dilakukan di masjid untuk membaca dzikir dan doa, kemudian dibagikan ke jamaah. Hal ini sebagai wujud rasa syukur, bahwa padi telah berhasil ditanam dengan buah yang baik.
Perbedaan yang menonjol dengan subak Hindu, yaitu dalam sarana pelaksanaan dan peruntukannya. Kalau subak Hindu Bali menggunakan sarana banten dan sesajen yang dipersembahkan dan kemudian dimakan. Tapi kalau di subak Islam Pegayaman, Bali makanan dibawa untuk disantap setelah diadakannya dzikir. Di mana kalau dalam Mapag Toya dilakukan di muara air sama di antara subak Hindu Bali dan subak Islam Pegayaman, Bali.
Sementara istilah-istilah dalam kepengurusan subak sama. Seperti kelian subak, adalah ketua subak. Penyarikan, sekretaris subak. Pekaseh, pelaksana di sub bagian subak. Saya, pengarah yang bertugas memberi informasi kepada anggota subak. Palemahan, lokasi untuk melakukan dan atau meletakkan sarana untuk wujud syukur.
Juga istilah-istilah lokasi subak, seperti uma, sawah; pundukan, pematang sawah; kalen, saluran air yang ada di dalam lahan sawah. Jelinjingan, kali kecil saluran air; telabah, saluran air lebih besar dari jelinjingan. Tukad, saluran air lebih besar dari jelinjingan. Dam, saluran air sebagai tempat pembagi air awal.
Demikian juga dalam proses penggarapan sawah dalam subak. Yakni makal, proses awal pencangkulan lahan secara kasar. Mungkahang, proses memproses tanah dengan bongkahan besar-besar awal peleburan. Melasah, proses meratakan media tanah. Nyaupin, proses membersihkan lahan yang sudah siap ditanami. Nuludin, proses meratakan sempurna lahan.
Ngurit, pembibitan dari gabah untuk menjadi anak padi. Mule, proses penanaman bibit padi. Ngebisin, proses membersihkan pematang. Ngohkoh, membersihkan rumput yang tumbuh di sekitar anak padi yang sudah ditanam. Ngerabuk, proses pemupukan. Mbud atau mluspusin, padi sudah mulai mau tumbuh bunga buah. Serab, padi sudah mulai tumbuh buah. Leg, padi buahnya sudah mulai merunduk. Dan pada saat inilah dibuatkan sate gempol. Kuning, padi siap panen.

Dalam dalam proses memanen, istilah-istilahnya juga sama antara subak Hindu dan subak Islam Pegayaman, Bali. Misalnya, ngarit, proses menyabit padi yang dipanen. Ngembong, mengumpulkan padi yang sudah disabit. Nigtigang, proses perontokan padi dari tangkai dengan cara dipukul-pukulkan. Ngarungin, proses pengemasan padi ke dalam karung.
Saat pembersihan sawah juga demikian. Ada ngebisin, membersihkan pematang sawah. Nyaplingin, membersihkan tebing sawah dengan cangkul agar bersih rata. Mapar, membersihkan tegoan dengan cangkul. Ngohkoh, pembersihan rumput-rumput semak di antara padi yang baru ditanam. Isitan, jarak antara pematang dan padi. Kalen dendeng, kali kecil yang tembus setelah air dibagi.
Dalam sistem pengupahan untuk memanen padi, istilah-istilah yang digunakan juga sama. Nasain, sepuluh banding satu. Ini upah normal. Nyiain, upah sembilan banding satu, jika tempatnya agak sulit. Ngutusin, delapan banding satu dengan cara diantar sampai ke pemilik.
Jika konsep dasar sistem subak Hindu, berdasarkan filosofi Trihita Karana. Yakni konsep hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan alamnya, dan manusia dengan manusia. Sedangkan dalam subak Islam Pegayaman Bali, yakni konsep Hablum Minallah, Hablum Minannas. Hubungan manusia dengan Allah sebagai pencipta. Dan hubungan manusia dengan manusia sebagai ciptaan-Nya.
Di dalam subak ada sebuah interaksi dan proses sosial yang diharapkan menjadi sebuah wadah untuk mencari kemakmuran dan kebahagiaan. Ada satu ikatan batin para anggota subak. Ada satu nilai demokrasi untuk mencari kemufakatan. Ada sebuah angan untuk mencari kemakmuran. Dan sebagai tujuan akhir adalah kebahagiaan.
Kalau dalam bahasa Kawi-nya, dalam kasuwakan ada beberapa hal yang meliputi, yaitu subhakti, ada ikatan batin, subhaya, ada kesepakatan, subhiksa, ada kemakmuran, dan subhaya, ada kebahagiaan. Alhamdulillah, subak Pegayaman berjalan dan berkembang mengikuti dinamika perkembangan warganya, dan tetap masih bertahan dengan konsep yang dipegang oleh para panglingsir dulu sampai sekarang. Peninggalan para panglingsir Kumpi Bukit tersebut tetap terpelihara dengan baik. Alhamdulillah. (bs)



