Sejarah Singkat Desa Cupel di Kabupaten Jembrana, Bali (2-Habis)

NAMA Cupel tercantum dalam peta Belanda tahun 1853. Tertera dengan ejaan Tjoepel. Peta Belanda tersebut tersimpan di museum digital Belanda yang beralamat Kitlv.nl.

Dalam peta tersebut tertulis nama Desa Cupel sebagai Pelabuhan Tjoepel di Jembrana, dari tiga pelabuhan yang ada masa itu. Pelabuhan Candi Kusuma, Pelabuhan Tjoepel dan Pelabuhan Pengambengan.

Tiga Pelabuhan ini melayani rute penyeberangan “Jembrana-Banyuwangi”, “Banyuwangi-Candikusuma”, “Banyuwangi-Cupel”, “Banyuwangi-Pengambengan”. Seperti yang tertera dalam Peta Pertama Jembrana yang dibuat oleh Raden Mas Ronodirjo dan FA. Liefrinck (1853-1927) dibawah ini:

Pelabuhan Cupel 1885-1940

Di masa Pemerintahan Hindia Belanda, kegiatan transportasi penumpang dari Pelabuhan Teluk Bunter dipindahkan ke Pelabuhan Cupel. Hal ini dilakukan untuk mempersingkat jarak tempuh rute penyeberangan Banyuwangi-Negara.

Rute penyeberangan Cupel ke Banyuwangi, tepatnya di Pelabuhan Boom (Pelabuhan lama Banyuwangi sebelum Ketapang) yang terletak di Kampong Mandar Banyuwangi.

Dari sumber tulisan Haryadi bin Hardjodisumo mengatakan dalam buku yang berjudul “Surat Untuk Sahabat” terbit tahun 1999. “Yang kuingat di tahun 1936, rute pelayaran ialah Banyuwangi-Cupel” pada halaman 57.

Sekitar tahun 1939, transportasi Bus Sapakira melayani jurusan Negara-Banyuwangi, dengan menyambung jukung melalui Pelabuhan Cupel.

Pemerintahan Hindia Belanda memindahkan Pelabuhan Cupel sebagai penyeberangan penumpang atau transportasi umum. Sejak tahun 1940 pemerintah Belanda mulai merintis pelabuhan di kawasan Gilimanuk. Semenjak awal Masa Kemerdekaan hingga Orde Lama, Pelabuhan Cupel dari tahun 1960 an hingga tahun 1990-an tetap dipakai para saudagar untuk penyeberangan gelap atau ilegal perdagangan sapi antarpulau. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *