JAKARTA – Santri Muda Nahdlatul Ulama atau SMNU menggelar diskusi publik secara daring dengan tema ‘Mukatamar NU, Menjaga Karomah NU’ menghadirkan narasumber Kyai Husny Mubarok Amir (Wakil ketua PWNU DKI Jakarta), Kyai Syaifuddin, M.E. (Ketua PCNU Jakarta Pusat) dan M. Ainul Yaqin (Ketua Lakpesdam NU D.I. Yogyakarta). Kegiatan ini dipandu oleh moderator Gus Mahbub Ubaedi Alwi, salah satu penggiat Santri Muda Nahdlatul Ulama Jawa Barat sekaligus pengurus PB PMII.
Acara ini disambut antusias oleh para peserta dan narasumber yang hadir. Sebab, tema yang diangkat menandakan bahwa perhelatan muktamar NU menjadi perhatian bagi banyak kalangan, bukan saja kalangan santri muda NU.
Dalam pemaparannya, Kyai Syaifuddin menjelaskan bahwa kepemimpinan NU harus bisa menjadi role model bagi kalangan millenial namun tetap kharismatik. Apalagi menjelang muktamar NU, beliau mengajak teman-teman cabang sebagai pemilik suara muktamar untuk menciptakan suasana yang sejuk.
“Tidak perlulah kita melakukan cara-cara diluar fatsun atau adab santri, cara-cara politik atau ormas non keagamaan. Sebab, pastilah akan merusak karomah NU. Partai mana yang tidak akan mendekat dengan NU? Ya karena karomah NU. Jangan sampai mereka dekat dengan kita malah kita ikut terbawa arus. Saya suka dengan kyai yang independen dan mandiri,” ujarnya.
M. Ainul Yaqin sebagai Ketua Lakpesdam NU D.I. Yogyakarta menyampaikan, karakteristik kepemimpinan yang baik adalah pemimpin yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Beliau mencontohkan figur Gus Dur atau KH. Abdurrahman Wahid yang telah memberikan teladan dari kesederhanaanya, namun pergerakannya tiada batas.
“Dulu saya waktu mondok di Tambak Beras, melihat Gus Dur datang pengajian naiknya mobil L300 yang mungkin tidak ada AC-nya, dan beliau beberapa kali saya melihat di acara yang lain, nampaknya tidak risau atau mempermaslahkan soal itu. Belum lagi bagaimana cara Gus Dur bersilaturahim,” paparnya.
Ketika disinggung terkait kepemimpinan NU yang akan datang, beliau lebih mengajak bahwa jangan sampai kita generasi muda terbawa arus yang mencoba membenturkan para tokoh NU dari latar belakang organisasinya. “Untuk menghindari head to head yang berdampak pada besarnya polarisasi, mungkin perlu adanya mekanisme atau cara lain sehingga memunculkan calon alternatif,” tuturnya.
Di lain sisi, ketika ditanya terkait isu maju dan mundurnya Muktamar NU karena ada keputusan pemerintah terkait PPKM Level 3 yang bertepatan dengan jadwal Muktamar 23-25 Desember nanti, Husny Mubarok, dalam keyakinannya menyampaikan bahwa para Kyai dan Ulama NU memiliki pemikiran yang matang dan hati-hati.
“Baik maju atau mundur sama-sama memiliki tanggungjawab moral, para kyai dan pimpinan NU akan memutuskan pelaksanaan muktamar dengan mengedepankan kemaslahatan ummat. Meskipun kalau kita simak dari media massa ada indikasi tidak menemukan kesepakatan. Kalau boleh menerka bahwa pelaksanaan muktamar ini akan diundur. Saya melihat sendiri di Lampung kepanitiaan lokal masih pembangunan dan persiapan-persiapan lain. Saya meyakini sebagai pengurus NU DKI dan sebagai panitia Muktamar bahwa akan diundur,” pungkasnya. (bs)
