
PERIODE kedua penyebaran agama Islam di wilayah Jembrana dimulai pada tahun 1669 dengan kedatangan secara bertahap lima ulama besar ke Jembrana untuk berdakwah menyampaikan ajaran Islam. Kedatangan mereka adalah kelanjutan dari hubungan baik yang dijalin antara para ulama tersebut dengan masyarakat Bugis yang telah bermukim menetap di wilayah Jembrana hasil rintisan Daeng Nachoda.
Para ulama ini pada awalnya memberikan dakwah di Air Kuning selama dua tahun. Namun kemudian berkembang dan meluas bahkan hingga ke daerah Banyuwangi, Jawa Timur. Para ulama tersebut adalah :
- Dawam Sirojuddin (1619-1744)
Tokoh ini menjadi penyebar Islam (muballigh/da’i) di awal terbentuknya komunitas perkampungan di sekitar Bandar Pancoran. Sebelumnya sempat lama bermukim di Betawi. Ulama yang berkebangsaan dan bersuku Melayu ini berasal dari Negeri Serawak, bagian dari Malaysia Timur, lahir pada tahun 1619 Masehi.
Pada tahun 1669, beliau masuk ke Jembrana. Tempat singgah pertamanya adalah di Bandar Pancoran, mengingat disekitar bandar/pelabuhan terdapat perkampungan suku Bugis.
Selama mengajar agama Islam di perkampungan suku Bugis di Bandar Pancoran, orang-orang Bugis menyebutnya Oding. Namun kemudian oleh banyak orang dia diberi gelar Lebai, sehingga kemudian beliau dikenal dengan nama Buyut Lebai. Karena pada masa tersebut para mubaligh yang mengajarkan Islam pada umumnya berasal dari Semenanjung Melayu, mereka menyebar ke Sumatera, Kalimantan maupun Sulawesi.
Dawam Sirojuddin juga berdakwah mengajarkan agama di pesisir selatan dari Bandar Pancoran, daerah pesisir tersebut juga didiami oleh beberapa orang suku Bugis yang telah berbaur dengan penduduk setempat. Banyak dari suku Bugis di pesisir tersebut, yang mengambil istri penduduk setempat. Suku Bugis tersebut merupakan sisa anak buah dari Daeng Nachoda yang sebelumnya menetap di kampung Bajo, sebelah barat Perancak. Komunitas perkampungan tersebut lama kelamaan bernama Air Kuning.
Dawam Sirojuddin dalam berkomunikasi dan mengajar tetap mempergunakan bahasa Melayu dalam mengajarkan ilmu agama, sehingga masyakarat pesisir Air Kuning lebih mudah dalam menerima pelajaran agama Islam. Bahasa Melayu, yang bertuliskan huruf Arab lebih dikenal dengan nama Arab pegon (tulisan berhuruf Arab berbahasa melayu), di masa perdagangan Nusantara memang dikenal sebagai bahasa pengantar, lingua franca, atau bahasa penghubung antar pulau-pulau se-Nusantara.
Setelah beberapa lama mengajar di Bandar, dan karena perkembangan Bandar Pancoran menjadi semakin ramai, maka beliau pindah dan bermukim di Loloan Timur sampai akhir hayatnya (wafat pada tahun 1744 Masehi). Dawam Sirajjudin dikenal sebagai seorang ulama yang mengajarkan ilmu agama mulai dari dasar (aqidah) sampai pada ilmu Ubudiyah dan Muamalah dengan menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar dalam mengajarkan ilmu-ilmu agama tersebut. (Damanhuri, 2001:4).
Selain itu, ulama ini berperan juga sebagai seorang tokoh panutan dalam mengambil hukum-hukum agama dalam kegiatan bermasyarakat di komunitas perkampungan Bandar Pancoran. Dilihat dari tahun masa kedatangannya, kemungkinan besar kedatangan Dawam Sirajjudin merupakan permintaan dari Daeng Nachoda untuk mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat Bugis di Bandar Pancoran yang menetap di sekitar Bandar Pancoran dan komunitas masyarakat Bugis ini dinamakan Kampung Pancoran.
Bahasa Melayu di masa tersebut merupakan bahasa pengantar di seluruh Nusantara lama, sehingga kitab-kitab yang dipakai untuk mengajar oleh para ulama umumnya berbentuk tulisan yang berhuruf Arab sehingga dapat dibaca oleh orang-orang Bugis-Makassar.
2. Moyang Guru Gerunuk
Sebuah silsilah kuno beraksara lontara Bugis berhasil diterjemahkan oleh H. Ikhsan pada seputar tahun 1950 an, melalui bantuan penterjemah sahabatnya yang berasal dari Suku Bugis Sulawesi. Silsilah tersebut kemudian disalin oleh H. Ikhsan dalam bentuk bagan.
Dalam silsilah tersebut diterangkan tentang Moyang Guru Gerunuk, seroang guru mengaji asal Semarang yang bertempat tinggal di timur sungai (sebutan lama untuk Loloan Timur). Moyang Guru Gerunuk kemudian menikah dengan Wak Iskak asal Telango Madura, bertempat di timur sungai, jalan lorong Langgar (musollah) bertahun 1705 Masehi.
Silsilah ini kemudian pada tahun 1991 disalin kembali oleh Mas’adah bin H. Ikhsan ke dalam sebuah buku tulis. Sebelumnya selama lebih kurang 3 tahun Mas’adah menelusuri keturunan dari silsilah tersebut untuk dapat dicocokkan atau di-cross check, para keturunan yang masih tersisa ataupun yang masih ada. Hal ini dilakukan setiap habis waktu Ashar, Mas’adah naik sepeda motor diantar anaknya, keluar masuk rumah-rumah dan perkampungan, bahkan hingga sampai ke Melaya pantai.
Dalam silsilah Moyang Guru Gerunuk inilah anak keturunannya menyebar ke seluruh Jembrana, bahkan sampai ke Pengastulan dan Seririt, Buleleng.
3. H. Syihabuddin
Tidak ada banyak catatan tentang H. Syihabuddin, selain bahwa beliau adalah seorang bersuku Bugis yang datang dari Buleleng. Beliau memberikan dakwah Islam dan menetap di Desa Air Kuning. Dakwah-dakwah yang disampaikannya memperkuat iman dan ajaran Islam di Jembrana. Selain berdakwah, H. Syihabuddin juga sering melakukan aktivitas perniagaan di Bandar Pancoran sehingga memiliki banyak hubungan yang luas dengan para saudagar Bugis lainnya.
Ketika Daeng Patimi menjabat sebagai Syahbandar di Bandar Pancoran, H. Syihabuddin memperkenalkan Syarif Abdullah dengan Daeng Patimi. Daeng Patimi bersama para tokoh masyarakat muslim di Bandar Pancoran menyambut gembira kedatangan rombongan Syarif Abdullah. Syarif Abdullah kemudian membuat kesepakatan damai dengan masyarakat muslim yang telah ada sebelumnya di Bandar Pancoran.
H. Syihabuddin adalah tokoh yang menghubungkan Syarif Abdullah dan rombongannya dari Pontianak (yaitu tokoh ulama dari penyebaran Islam di Jembrana pada periode ketiga, yang di kemudian hari mendirikan Kampung Loloan) untuk bertemu dengan penguasa Jembrana saat itu.
Menurut penulis, H. Syihabuddin adalah seorang tokoh ulama yang berdakwah di pesisir selatan pantai Air Kuning sehingga banyak masyarakat asli saat itu yang tertarik dan berbondong-bondong untuk masuk memeluk agama Islam. Menurut beberapa sumber yang sempat penulis wawancarai, sebenarnya masjid tertua ada di Desa Air Kuning, karena pada masa-masa awal komunitas muslim di Desa Air Kuning pada saat itu juga telah mendirikan sebuah masjid.
Sayang bekas-bekas masjid kuno sudah tidak terlacak karena dahulu masjid terletak di pinggir pantai, kemungkinan besar digeser atau dipindahkan ke tempat yang lebih aman.
4. Haji Yassin
Ulama keturunan suku Bugis ini masuk ke Jembrana dari Buleleng pada tahun 1675. Dakwah beliau juga memperkuat ajaran Islam di Jembrana kepada komunitas orang Bugis yang sudah terbentuk di Bandar Pancoran, Kampung Terusan dan Timur Sungai. Beliau membangun sebuah langgar (masjid kecil) sebagai tempat beribadah di kampung Timur Sungai pada tahun 1679.
Beliau juga sering berdakwah di Loloan Barat.
Kata Langgar didapatkan dari sebuah silsilah yang berbahasa Bugis Makassar sempat diterjemahkan oleh H. Ikhsan dengan mendatangkan orang Bugis dari Sulawesi pada kisaran tahun 1950. Hal ini dapat diketahui dari hasil terjemahan tersebut yang berangka tahun 1705 Masehi, yang menerangkan tentang “pernikahan Moyang Guru Gerunuk dengan suami pertamanya yang bernama wak Iskak asal Telango Madura bertempat di jalan Lorong Langgar Timur Sungai pada tahun 1705 Masehi”.
Dari pengamatan penulis terhadap hasil terjemahan silsilah kuno Bugis Makassar yang dimiliki oleh H. Ikhsan—dan ditulis kembali oleh anaknya yang bernama Mas’adah pada tahun 1991—, di tahun 1705 Masehi, masjid tersebut masih disebut langgar, dan baru pada tahun-tahun selanjutnya diperluas dan dipugar dengan dinding dan lantai berbahan kayu dan dijadikan masjid oleh Daeng Sikudadempet ketika menjabat sebagai Syah Bandar Pancoran menggantikan Daeng Nachoda.
Pada saat itu Guru Gerunuk merupakan seorang guru mengaji asal Semarang yang menetap di Timur Sungai. Dengan menggunakan bahasa Melayu sebagai pengantar dalam mengajar mengaji kepada masyarakat Bugis Makassar, maka mulailah bahasa Melayu dipelajari oleh masyarakat Bugis/Makassar di Bandar Pancoran tersebut.
Guru Gerunuk menikah dua kali, setelah meninggalnya Wak Iskak, suami pertamanya, maka pada sekitar tahun 1715 menikah dengan Daeng Sikudadempet, seorang perwira dari empat Panglima Perang Kesultanan Wajo.
Pada masa Loloan di bawah kepemimpinan Syarif Tua pada tahun 1848 Masehi, masjid ini kembali dipugar dan diperluas menjadi bangunan berdinding tembok yang lebih permanen dan beratap genteng Palembang dan dinamakan Masjid Pertama di Jembrana (Reken, 1979:13).
5. Syekh Ahmad Bawazir
Ulama berkebangsaan Aden, Yaman ini pertama kali menginjakkan kaki di bumi Nusantara pada tahun 1770-an dan memilih Blambangan, Jawa Timur, sebagai daerah transit. Kemudian beliau melanjutkan syiar dakwah agama Islam ke arah timur, hingga mencapai perkampungan Bugis-Melayu Loloan. Beliau menikahi seorang gadis setempat, bernama Zaenab, dan dikaruniai seorang putra yang bernama Syeh Datuk Ibrahim yang lahir pada tahun 1790 di Loloan Timur.
Tidak ada catatan yang dapat dikonfirmasi tentang tahun kelahiran dan wafat Syekh Ahmad Bawazir, selain bahwa beliau wafat dan dimakamkan di Loloan Timur. Namun, keturunannya, Syeh Datuk Ibrahim Bawazir, kemudian menjadi ulama besar yang menyebarkan agama Islam di Banyuwangi, hingga tutup usia tahun 1876 pada umur 86 tahun.
Jenazah Syekh Datuk Ibrahim dimakamkan di pemakaman umum warga Arab di Lateng, Banyuwangi. Makam yang dikeramatkan oleh masyarakat tersebut hingga kini berada di Kelurahan Lateng, Banyuwangi, Jawa Timur, dan dikenal sebagai makam orang keramat.
Selain para ulama di atas, penyebaran Islam di Jembrana, juga secara tidak langsung dipengaruhi situasi perpolitikan yang ada di Blambangan. Karena secara politik, antara Jembrana dengan Blambangan keduanya merupakan daerah dibawah kekuasaan Kerajaan Mengwi. Kedatangan Pangeran Wong Agung Wilis yang sempat singgah di Kerajaan Jembrana pada tahun 1764 Masehi, memberikan andil juga terhadap penyebaran agama Islam, karena pengikutnya sudah memeluk Islam sejak dari Blambangan. Untuk itu sudah selayaknya penulis, meriwayatkan jejak kedatangan tersebut seperti dibawah ini.
Pangeran Wong Agung Wilis dari Blambangan 1764-1768
Perkembangan Islam di sebelah barat Jembrana, yang telah diuraikan di atas memang secara tidak langsung sejak kedatangan rombongan Pangeran Wilis dari Blambangan ke Jembrana, pada tahun 1764 dengan tujuan ke Kerajaan Mengwi. Sebelum ke kerajaan Mengwi, Pangeran Wilis singgah di Kerajaan Jembrana. Memang pada tahun 1697- 1764 Masehi, Kerajaan Blambangan dibawah hegemoni kerajaan- kerajaan di Bali. Penyebab dan latar belakang Pangeran Wilis ke Kerajaan Mengwi, bermula pada tahun 1736, Raja Blambangan, Pangeran Adipati Danureja, meninggal.
Raja Gusti Agung dari Mengwi dengan segera mengirim empat puluh prajurit Bali di bawah komando Gusti Gede Lanang Denpasar untuk mengintervensi proses suksesi. Raden Mas Noyang (13 tahun), anak dari raja yang meninggal diumumkan sebagai penguasa baru dengan nama Pangeran Adipati Danuningrat atau Pangeran Adipati Mangkuningrat (dalam sumber-sumber Belanda Pangeran Pati).
Sementara saudaranya, Raden Mas Sirna atau Mas Wilis, diangkat sebagai Patih dengan julukan Wong Agung Wilis. Karena sang raja baru masih sangat muda, Gusti Agung Raja Mengwi mengangkat seorang bupati pengasuh (emban) bernama Ranggasatata, seorang bangsawan Bali dari Klungkung, untuk mengatur administrasi kerajaan.
Kondisi politik Blambangan pada masa pemerintahan Danuningrat sangat dipengaruhi oleh para aristokrat berpengaruh, Tepasana, yang para leluhurnya berasal dari Lumajang. Tepasana merasa terusik oleh kenyataan bahwa Blambangan berada di bawah kontrol Bali. Dia mendorong Danuningrat untuk berontak terhadap pengaruh Bali dalam pemerintahannya yang tumbuh semakin kuat selama beberapa tahun ini.
Pengaruhnya menjadi semakin nyata ketika Danuningrat memutuskan untuk memberhentikan Pangeran Wilis dari jabatan sebagai Patih. Pangeran Wilis ibunya berasal dari Bali, Pangeran Wilis merasa sangat terhina dengan keputusan ini, namun dia tidak mengajukan keberatan sedikitpun. Beliau memutuskan untuk meninggalkan Blambangan dan mendirikan sebuah pemukiman baru di Pesisir Manis, pesisir tenggara Blambangan.
Pada 1763, sementara wilayah Pelabuhan Bandar Pancoran, kini termasuk wilayah Loloan Barat, persahabatan antara masyarakat Bugis pimpinan Daeng Nachoda dan Kerajaan Jembrana berkembang baik dibarengi dengan kemajuan perdagangan yang pesat yang membuka isolasi wilayah Jembrana ke dunia luar, sebagaimana dicatat oleh Reken (1979) dari pelacakannya tentang Arya Pancoran di Jembrana.
“Kemudian sangatlah erat persahabatan antara orang orang Bugis Makassar dengan keluarga I Gusti Ngurah Pancoran Jembrana, dilaksanakan pula perdagangan dengan sistem tukar menukar. Maka semakin terbukalah isolasi Jembrana dengan dunia luar, lewat perantaraan perahu perahu pedagang bekas eskuadron keturunan Sultan Wajo itu” (Reken, 1979:4).
Pada perkembangannya, Bandar Pancoran menjadi sebuah pelabuhan transit yang tersembunyi, sebuah “pelabuhan rahasia”, karena letaknya yang tersembunyi di wilayah pantai Bali bagian barat, terlindung oleh Tanjung Banyuwangi yang menyorok ke timur. Lokasi Bandar Pancoran ini amat menolong bagi rombongan-rombongan pelarian dari wilayah-wilayah berkonflik untuk berlabuh sementara di Bandar Pancoran, sebelum melanjutkan perjalanan menuju daerah yang mereka tuju di bagian lain Nusantara.
Deskripsi lebih lanjut tentang kisah Daeng Nachoda serta sumbangsihnya bagi perkembangan masyarakat Bugis di Jembrana telah dibukukan oleh penulis (lihat Sabara, 2018). (bs)

