Perguruan Tinggi harus Lahirkan Mahasiswa “Job Creators”, Bukan “Job Seekers”

BULELENG – Di era disrupsi teknologi, perguruan tinggi harus mampu melahirkan mahasiswa yang job creators (pencipta kerja), bukan mahasiswa yang job seekers (pencari kerja). Perguruan tinggi juga harus memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengembangkan talentanya. Hal itu disampaikan Koordinator Staf Khusus Presiden RI, Dr. AAGN Ari Dwipayana, saat memberikan kuliah umum di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Senin (15/11/2021).

Dalam kuliahnya yang bertajuk “Menjadikan Undiksha Memiliki Reputasi Menjulang Tinggi Dengan Tetap Mengakar ke Bumi”, Ari Dwipayana memaparkan, kehidupan manusia saat ini menghadapi dua tekanan besar. Yakni disrupsi teknologi dan hiper-kompetisi.

Menurutnya, disrupsi teknologi banyak merubah wajah kehidupan. Misalnya, perdagangan telah bergeser menjadi e-commerce, dunia perbankan telah terdisrupsi oleh hadirnya fin-tech dan berbagai macam e-payment, termasuk dunia pendidikan telah terdisrupsi besar-besaran oleh edu-tech.

“Disrupsi mempercepat dan dan memperbesar broken link (mata rantai putus) antara yang diajarkan dengan kebutuhan dan kemajuan dunia kerja. Banyak pengetahuan dan keterampilan menjadi tidak relevan, menjadi using. Pengetahuan dan keterampilan yang hebat di masa kini, bisa jadi tidak dibutuhkan lagi dalam 5 tahun ke depan,” katanya.

Dikatakan, di era disrupsi ini, banyak pengetahuan dan ketrampilan yang bermunculan, yang dikembangkan para ahli dan praktisi, namun belum sempat di-literatur-kan. Banyak jenis pekerjaan hilang terdisrupsi, tapi juga banyak pekerjaan baru bermunculan di masa kini dan masa yang akan datang.

Menghadapi era semacam itu, menurut Ari Dwipayana, Pendidikan tinggi harus siap dan semakin kontributif, memimpin di tengah disrupsi dan hiper-kompetisi. Para mahasiswanya harus dipersiapkan menguasai pengetahuan dan ketrampilan yang relevan untuk zamannya.

Menurutnya, Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar yang digagas Mendikbuddikti, Nadiem Makarim, merupakan salah satu instrumen penting untuk menghadapi perubahan tersebut. Dengan program Kampus Merdeka, mahasiswa bisa belajar kepada Siapa saja, kapan saja, dan di mana saja, yang dirasa penting untuk mempersiapkan masa depan mereka.

“Kampus Merdeka memberi kesempatan mahasiswa mengembangkan talentanya. Mahasiswa jurusan yang sama tidak harus belajar hal yang sama, dan bisa memilih profesi berbeda-beda sesuai talentanya,” jelasnya.

Menurut Ari Dwipayana, semua profesi masa depan butuh hybrid knowledge and skill. Disiplin ilmu yang terlalu kaku hanya akan membuat perguruan tinggi gagal beradaptasi dengan perubahan, dan para mahasiswa akan gagap menyongsong masa depan.

Untuk itu, kata dia, perlu ada reformasi di kampus. Kampus perlu berlomba-lomba menjalin kerjasama dengan berbagai institusi kompeten. “Keterbukaan untuk bekerja sama akan menjadikan kampus sebagai ekosistem terbuka dan mampu menjawab kebutuhan zaman,” ujar Ari Dwipayana.

Selain itu, kurikulum dengan skema Kampus Merdeka bisa melibatkan mitra kerja sama agar menghasilkan pembelajaran yang sesuai kebutuhan. Dosen dan mahasiswa juga bisa Menyusun independent project untuk memfasilitasi pembelajaran lintas disiplin. Pembelajaran tidak harus in class, bisa menyesuaikan dengan skema.

“Dosen bisa memfasilitasi kuliah bersama pakar atau praktisi dari luar untuk mempertajam pembelajaran. Dosen juga perlu memfasilitasi mahasiswa untuk belajar lintas disiplin atau belajar di luar kampus. Mahasiswa perlu diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil pembelajaran atau pengalaman lintas disiplin yang dijalani,” katanya.

Selain melakukan penataan institusi, perguruan tinggi juga harus memperluas spektrum dan interaksi akademisnya. Menurut Ari Dwipayana, Langkah menuju international reputable university seperti diupayakan Undiksha Singaraja, dapat dimulai dengan memperluas aktivitas akademis dari level nasional hingga komunitas internasional.

Kata dia, itu bisa dimulai dengan mengundang atau mendatangkan akademisi, peneliti, praktisi internasional untuk menjadi dosen. Kampus juga bisa menjajaki Kerjasama penelitian atau Kerjasama program dengan Lembaga internasional seperti UN, dan Lembaga internasional lainnya. Juga bisa menjajaki pertukaran mahasiswa dengan kampus negara lain. Dosen dan mahasiswa juga harus didorong untuk pro-aktif dalam even-even internasional. Mulai dari penetilian dan penulisan karya ilmiah, workshop, seminar, kompetisi atau festival akademik.

Sementara Rektor Undiksha Singaraja, Prof. Nyoman Jampel, mengatakan, era revolusi industri 4.0 merupakan peluang bagi Undiksha. “Era revoluasi industri 4.0 dan adanya Merdeka Belajar Kampus Merdeka itu kan kita anggap sebagai peluang. Kita selalu berpikir dari sisi optimismenya,” katanya.

Menurutnya, dalam era disrupsi, Undiksha dan segenap jajarannya harus melakukan beberapa hal. Yakni terus berpikir kritis, terus meningkatkan inovasi dan kreativitas, melakukan kolaborasi dan komunikasi. Juga melakukan kegiatan dengan tulus. “Dan juga memanfaatkan teknologi. Di samping itu juga harus kuasai data, kuasai teknologi, dan literasi humanitis.

“Kalua semua itu kita sudah memiliki, maka disrupsi teknologi akan menjadi peluang bagi kita. Kita yakin Undiksha bisa tumbuh, seperti disampaikan Pak Ari Dwipayana, yakni menjadi pohon yang besar dan menjulang tinggi dengan tetap memiliki akar yang kuat. Akar yang kuat kita adalah Tri Hita Karana. Tri Hita Karana ini yang menjadi bingkai Undiksha dalam melakukan segala aktivitasnya,” ujar Prof. Jampel.

Dikatakan, kalau Tri Hita Karana telah terimplementasikan di Undiksha maka dia menjadi akar yang kuat untuk menopang kemajuan Undiksha dalam bisa berkiprah secara nasional dan internasional. “Karena itu, kita harus tetap menjaga kebersamaan dan keharmonisan. Tanpa bersama dengan yang lain, tanpa harmoni dalam diri kita, harmoni dengan yang lain tentu kita tidak bisa bekerja dengan baik,” tandasnya. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *