Sejarah Masuknya Islam di Kabupaten Jembrana (Periode 1)


MASUKNYA Islam di Kabupaten Jembrana berlangsung selama beberapa periode. Setidaknya ada tiga periode kedatangan kelompok orang beragama Islam ke wilayah Kabupaten Jembrana. Dimulai pada pertengahan abad ketujuh belas, yakni kedatangan orang-orang Suku Bugis dari Makassar. Disusul dengan rombongan pada dua periode berikutnya, setelah pemukiman dan kehidupan bermasyarakat dibangun di wilayah Jembrana. Termasuk rombongan dari keluarga Kesultanan Pontianak di Kalimantan Barat.

Periode pertama masuknya Islam di Jembrana ditandai dengan dua gelombang kedatangan orang-orang Bugis yang beragama Islam ke wilayah Jembrana. Peristiwa bersejarah ini dicatat dalam sumber lisan dan tertulis yang diperoleh dari sumber-sumber lokal dan kumpulan tulisan milik almarhum Datuk Haji Sirad dari Kampung Cempake Loloan Barat.

H. Sirad adalah cucu dari seorang ulama, yaitu KH. Moh Tahir, yang berasal dari daerah Ngelerog, Pacitan, yang hijrah bersama keluarganya ke Jembrana karena dikejar oleh VOC pada tahun 1830 Masehi.

Latar belakang pengejaran tersebut adalah karena KH. Moh. Tahir merupakan salah seorang pejuang yang terlibat dalam Perang Diponogoro, yang berlangsung selama lima tahun, dari tahun 1825-1830. Ketika tiba di Loloan, KH. Moh. Tahir mengubah namanya menjadi H. Hasan untuk mengelabui kejaran VOC, sehingga sehari-hari di Loloan, beliau dipanggil H. Hasan Ngelerog, sesuai nama asalnya.

H. Hasan (KH. Moh. Tahir) menurut silsilah mempunyai 5 (lima) orang putra, yakni 1. Ajoereso, 2. Kalibin, 3. Kaliban, 4. Kalidjan dan 5. Sonto Karjo. Sumber tulisan dari H. Sirad merupakan sumber lisan penuturan dari datuk (kakek)-nya sendiri yang bernama KH. Moh Tahir yang hidup sejaman dengan Syarif Tue Loloan.

Dari putra keduanya, Kalibin (H. Abdurrahman), lahirlah putra keduanya yang bernama H. Sirad. Sumber tulisan H. Sirad tersebut diberi judul “Hikayat Islam di Jembrana”, ditulis pada tahun 1935 dengan huruf Arab berbahasa Melayu (tulisan Arab pegon). Dalam hikayat itu dikisahkan bahwa orang-orang Islam yang mula-mula datang ke Jembrana adalah dari Suku Bugis/Makassar, dan mereka datang dalam dua gelombang.

Tulisan milik almarhum Haji Sirad dengan huruf Arab berbahasa Melayu (tulisan Arab pegon), diteliti oleh I Wayan Reken pada tahun 1970-an dengan meminta bantuan sahabat karibnya, H. Ikhsan, sebagai penerjemahnya, atau dalam ungkapan di Loloan, untuk membacakan tulisan Arab pegon.

Gelombang pertama kedatangan orang-orang Bugis terjadi pada seputar tahun 1653-1655. Kepindahan mereka dipicu oleh rangkaian peperangan antara kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan. Kerajaan Makassar mencapai puncak kebesarannya pada masa pemerintahan Sultan Hasannudin (1653–1667).

Pada masa pemerintahannya, Makassar berhasil memperluas wilayah kekuasaannya yaitu dengan menguasai daerah-daerah yang subur serta daerah-daerah yang dapat menunjang keperluan perdagangan Makassar. Kerajaan Makassar berhasil menguasai Ruwu, Wajo, Soppeng, dan Bone. Perluasan daerah Makassar tersebut sampai ke Nusa Tenggara Barat. Daerah kekuasaan Makassar luas, seluruh jalur perdagangan di Indonesia Timur dapat dikuasainya.

Raja Makassar, Sultan Hasanuddin, terkenal sebagai raja yang sangat anti kepada dominasi asing. Oleh karena itu, ia menentang kehadiran dan monopoli yang dipaksakan oleh VOC yang telah berkuasa di Ambon. Untuk itu, hubungan antara Batavia (pusat kekuasaan VOC di Hindia Timur) dan Ambon terhalangi oleh adanya Kerajaan Makassar.

Dengan kondisi tersebut, maka timbul pertentangan antara Sultan Hasannudin dengan VOC, bahkan hingga menyebabkan terjadinya peperangan. Situasi perang dan akhirnya kejatuhan Makassar pada tahun 1667 memicu perpindahan kelompok orang Bugis keluar dari wilayah Kesultanan Makassar.

Kedatangan orang-orang Suku Bugis dari Sulawesi Selatan (Bugis Makassar) ke wilayah Jembrana untuk pertama kalinya dipimpin oleh Daeng Marewa sekitar tahun 1653 hingga 1667. Mereka berasal dari berbagai kerajaan antara lain Goa, Ternate, Sopeng, Bone dan Wajo. Kedatangan rombongan ini adalah untuk singgah sementara sebelum meneruskan perjalanan ke Bima, Nusa Tenggara Barat.

Pilihan menuju Bima kemungkinan berhubungan dengan faktor kedekatannya Sultan Bima, Sultan Abil Khair Sirajuddin (wafat 1682) yang menikah dengan saudara Sultan Hasanuddin yang bernama Karaeng Bonto Je’ne. Sejak Makassar jatuh pada tahun 1667, Daeng Marewa adalah salah seorang panglima perang yang mengawal Karaeng Galesong IV.

Tidak disebutkan apakah rombongan ini sedang mengawal Karaeng Kalesong IV atau menyusul rombongan yang telah mendahului pergi ke Bima, Nusa Tenggara Barat. Catatan Suryadin Laoddang (2015) menyebutkan bahwa dalam perjalanan menuju Bima, Karaeng Galesong IV membawa serta Daeng Marewa, salah satu dari para panglimanya.

Karaeng Galesong IV membawa serta para panglimanya, di antaranya Busung Mernung Panji Karonuban, Daeng Makiucing, Daeng Wigeni dan Daeng Marewa. Karaeng Galesong IV adalah Putra Sultan Hasanuddin dari istri keempatnya, I Mammi Daeng Sangnging Lo’mo Tobo yang berasal dari Majannang. Lahir pada tanggal 29 Maret 1655. Bergelar Karaeng Galesong IV (1662-1667), menggantikan Karaeng Galesong III, yang diangkat menjadi Panglima Angkatan Perang Kerajaan Gowa dalam Perang Makassar pada tahun 1666 hingga ditandanganinya Perjanjian Bungaya.

Tidak ditemukan catatan yang menyebutkan nama daerah yang akan dituju oleh Karaeng Galesong di tanah Jawa. Namun dalam catatan DeGraaf (dalam Abidin, 1983:54) ditemukan catatan yang menyebutkan Karaeng Galesong justru berlabuh di Bima (Nusa Tenggara). Tidak diketahui kenapa ia dan armadanya berada disana. Mungkin karena faktor kedekatan Sultan Bima, Sultan Abil Khair Sirajuddin (wafat 1682) yang menikah dengan saudara Sultan Hasanuddin yang bernama Karaeng Bonto Je’ne.

Dalam perkembangannya, Sultan Bima turut serta dalam upaya Karaeng Galesong meruntuhkan Kerajaan Mataram (Yogyakarta) di bawah Raja Amengkurat I yang kala itu berpihak ke Kompeni. Sultan Bima kala itu berada satu pasukan bersama Karaeng Bonto Marannu. Masih dalam catatan DeGraff, dicatat bahwa salah satu pimpinan pasukan Makassar meninggal di Bima pada tanggal 16 Juni 1673, pimpinan pasukan tersebut bernama Karaeng Tallo (Laoddang, 2015).

Gelombang kedua perpindahan orang-orang Bugis terjadi sekitar tahun 1660-1661 sewaktu berkecamuk peperangan antara Makasar dengan VOC (Kompeni Hindia Belanda). Setelah Makassar jatuh pada tahun 1667, Belanda mengumumkan bahwa barang siapa yang dapat menangkap skuadron perahu-perahu keturunan Sultan Wajo itu, yang dijuluki Lanun atau bajak laut, akan diberikan hadiah sepuluh ribu ringgit (Paturru, 1964).

Pada tahun 1669, adalah saksi peristiwa kedatangan rombongan Daeng Nachoda, sisa-sisa armada perang Kesultanan Wajo Sulawesi dengan skuadron kapal perangnya. Sisa-sisa skuadron perahu-perahu keturunan Sultan Wajo yang berjumlah 4 buah tiada dapat tertangkap oleh Belanda, karena mereka bersembunyi di Teluk Pangpang, Blambangan, dan mereka menyamar bermata pencaharian sebagai nelayan perahu pencari ikan.

Dari analisa penulis, alasan mengapa rombongan Daeng Nachoda tertarik untuk berlabuh di Pulau Bali adalah karena rupanya Daeng Nachoda mengetahui bahwa Blambangan saat itu merupakan kerajaan taklukan dibawah kekuasaan-kerajaan yang ada di Bali. Maka, Daeng Nachoda selaku pimpinan empat buah perahu keturunan Sultan Wajo, dengan 20 orang anak buahnya tertarik hatinya untuk hijrah ke Bali.

Pertama mereka mendarat di Air Kuning. Kemudian mencoba memasuki kuala Sungai Perancak. Mereka berhasil mendarat dengan mempergunakan perahu perang jenis “Lambo dan Pinisi” yang berisikan senjata api, meriam-meriam, serta senjata tombak, badik dan keris. Rombongan skuadron Daeng Nachoda terkenal dengan sebutan empat Daeng, yaitu Daeng Nachoda, Daeng Si kudadempet (kuda empat), Daeng Marema dan Daeng Bira.

Rombongan pimpinan Daeng Nachoda berhasil menetap sementara di sebuah tempat yang mereka namakan Kampung Bajo. Bukti jejak peninggalan mereka adalah sebuah sumur air tawar yang jernih hingga kini masih ada, dinamakan oleh penduduk setempat “sumur bajo,” yang terletak di tepi kuala Perancak sebelah barat.

Kemudian mereka mengetahui bahwa daerah tempat persembunyian ini bernama Jembrana dan mereka mendapatkan informasi bahwa yang berkuasa di daerah Jembrana adalah Marga Arya Pancoran, yaitu I Gusti Ngurah Pancoran IV atau I Gusti Ngurah Cengkrong Bang, (1620–1697 Masehi). Rombongan skuadron Daeng Nachoda menyusuri sungai besar berbelok-belok ke arah utara, dengan di kiri dan kanan sungai dipenuhi oleh hutan paya-paya serta dihuni binatang- binatang buaya.

Armada perahu-perahu keturunan Sultan Wajo yang dipimpin oleh Daeng Nachoda menghadap Raja I Gusti Ngurah Pancoran serta meminta ijin tinggal dan berniaga. Raja I Gusti Ngurah Arya Pancoran menerima kedatangan Panglima Daeng Nachoda, dan tercapailah kesepakatan bersama dengan konsensus Raja I Gusti Ngurah Arya Pancoran memberikan tempat tinggal di sekitar Tibu Bunter dengan syarat; pertama, bahwa Panglima Daeng Nachoda harus menjualkan hasil bumi pertanian Jembrana keluar pulau; dan kedua, harus siap membantu keamanan kerajaan jika terjadi serangan dari pihak luar.

Syarat tersebut diterima dengan baik oleh Panglima Daeng Nachoda. Daeng Nachoda melabuhkan perahu-perahu di kawasan sungai (tibu) yang lebar dan dalam yang berbentuk melingkar/buntar (maka disebut tibu bunter).

Berdasarkan kesepakatan dengan penguasa Jembrana, rombongan Daeng Nachoda mendirikan pemukiman di seputar wilayah sungai di Teluk Bunter dan membangun sebuah pelabuhan perniagaan yang kemudian diberi nama “Bandar Pancoran”. Pemukiman tersebut pada tahun 1671 diberi nama Kampung Pancoran. Saat ini kawasan kampung tersebut telah berubah nama menjadi Kampung Terusan.

Sementara wilayah pelabuhan Bandar Pancoran kini termasuk wilayah Loloan Barat. Persahabatan antara masyarakat Bugis pimpinan Daeng Nachoda dan Kerajaan Jembrana berkembang baik dibarengi dengan kemajuan perdagangan yang pesat yang membuka isolasi wilayah Jembrana ke dunia luar, sebagaimana dicatat oleh Reken (1979) dari pelacakannya tentang Arya Pancoran di Jembrana.

Dalam perkembangannya, sangatlah erat persahabatan antara orang-orang Bugis Makassar dengan keluarga I Gusti Ngurah Pancoran Jembrana. Saat itu dilaksanakan pula perdagangan dengan sistem tukar menukar. Maka semakin terbukalah isolasi Jembrana dengan dunia luar, lewat perantaraan perahu-perahu pedagang bekas skuadron keturunan Sultan Wajo itu (Reken, 1979:4).

Pada perkembangannya kemudian, Bandar Pancoran menjadi sebuah pelabuhan transit yang tersembunyi, sebuah “pelabuhan rahasia”, karena letaknya yang tersembunyi di wilayah pantai Bali bagian barat, terlindung oleh Tanjung Banyuwangi yang menyorok ke timur. Lokasi Bandar Pancoran ini amat menolong bagi rombongan-rombongan pelarian dari wilayah-wilayah berkonflik untuk berlabuh sementara di Bandar Pancoran, sebelum melanjutkan perjalanan menuju daerah yang mereka tuju di bagian lain Nusantara. Deskripsi lebih lanjut tentang kisah Daeng Nachoda serta sumbangsihnya bagi perkembangan masyarakat Bugis di Jembrana telah dibukukan oleh penulis (lihat Sabara, 2018). (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *