MENGUNGKAP PERAN STRATEGIS PEGAYAMAN SEBAGAI BENTENG PERTAHANAN (1)

Jadi Benteng Alami di Era Kerajaan Panji Sakti

DESA Pegayaman di Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng memainkan peran yang strategis di beberapa peperangan. Desa ini menjadi benteng pertahanan dari serangan musuh di sejumlah peperangan di zamannya.

Kita kembali meruntut tentang keberadaan masyarakat Desa Pegayaman. Bila dikaitkan dengan situasi dan politik di masa Kerajaan Panji Sakti dahulu, pemilihan para ksatria Blambangan untuk menjadikan Desa Pegayaman sebagai tempat pertahanan sangatlah tepat. Yakni bagaimana mempertahankan Kerajaan Buleleng. Lokasi Desa Pegayaman saat itu beradius sampai ke perbatasan Tabanan, yakni Desa Pancasari sekarang.

Analisa-analisa para ksatria Blambangan bagaimana mempertahankan wilayah dengan menjadikan Desa Pegayaman sebagai lokasi pertahanan merupakan strategi yang cerdas. Bagaimana bisa mengintai musuh dari desa ini. Juga bagaimana di wilayah ini bisa dipakai sebagai sebuah pemukiman yang bisa untuk kehidupan jangka panjang.

Itulah yang tampak, kenapa wilayah Pegayaman dijadikan sebagai sebuah benteng liar oleh Raja Panji Sakti. Saat itu, wilayah Pegayaman dari perbatasan Singaraja sampai menuju perbatasan Tabanan –Desa Kembang Merta sekarang. Buktinya bahwa di Desa Pancasari sampai sekarang ada warga Desa Pegayaman yang menempati wilayah antara Buleleng dan Tabanan sampai ke timur bukit.

Posisi strategis wilayah Desa Pegayaman sangat menguntungkan Kerajaan Buleleng dalam pertahanan kerajaan. Yang mana bila ada musuh yang hendak memasuki wilayah Buleleng, terlebih dahulu sebagai penghambat pertama adalah warga Pegayaman.

Secara strategi ekonomi, mereka bisa mempertahankan kehidupan di wilayah perbukitan ini dengan cara mengolah lahan sebagai petani murni. Sebab, desa ini menjadi sumber air Buleleng sampai sekarang.

Itu semua membuktikan bahwa warga ksatria Desa Pegayaman tidak bergantung ekonominya kepada kerajaan. Jadi para kesatria Denbukit ini dahulu mampu eksis di Desa Pegayaman dengan bercocok tanam mengolah lahan yang ada, yaitu tanaman padi. Juga mengolah lahan kering yaitu dengan tanaman kopi. Dua komoditas ini dari dahulu dan sampai sekarang dipertahankan oleh warga Pegayaman.

Kita masih bisa melihat kopi Pegayaman sekarang dengan kopi organiknya dan beras khasnya. Selain itu, ada lagi komoditas baru seperti cengkeh dan coklat. Semua itu merupakan hal yang sangat baik dalam hal memperbaiki ekonomi warga Desa Pegayaman dalam meningkatkan hasil pertaniannya. Dari hasil pertanian tersebut warga Pegayaman bisa bertahan. Bahkan dapat meningkatkan tingkat pendidikan warga Pegayaman. Banyak warga yang sudah mencapai jenjang pendidikan tinggi, ada yang internasional.

Semua itu tidak lepas dari kajian-kajian strategi ekonomi, strategi politik, dan strategi sosial yang dikembangkan dari para penglingsir dahulu di bukit sampai sekarang. Yakni dari tahun 1648 sampai tahun 2021. (bs)

Bersambung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *