BULELENG – Pembagian ayam yang masih hidup dan sayur-sayuran yang dilaksanakan dr. Ketut Putra Sedana alias dr. Caput diserbu masyarakat. Masyarakat yang sebagian besar memakai sepeda motor tersebut menumpuk di jalan depan rumah dr. Caput, Jl. Gajah Mada Singaraja, sehingga terjadi kerumunan.
Akibatnya sempat terjadi kemacetan di ruas jalan yang ada di depan Setra Buleleng tersebut. Aparat terjadi dari polisi, TNI, Satpol PP Buleleng hingga pecalang tampak kewalahan menghalau kerumunan massa.
Karena kondisi yang kurang kondusif, massa diminta untuk bubar dan meninggalkan lokasi. Namun, massa tampak enggan meninggalkan lokasi. Mereka datang dari berbagai daerah di seputar singaraja dan sekitarnya.
Aparat butuh kerja keras untuk mengurai massa. Mereka harus berteriak kepada massa bahwa pembagian ayam dan sayur ditunda. Sebagian massa akhirnya, meninggalkan lokasi. Namun, sebagian yang lain masih bertahan.
Melihat situasi mulai kondusif dan jumlah massa berkurang jauh, akhirnya pembagian coba dilaksanakan. Baru beberapa saat, massa kembali menyerbu. Panitia yang mminta agar tertib dan gantian tidak diindahkan massa. Menghindari terjadi kerumunan lebih parah, aparat sempat menyemprotkan air dari selang kran untuk membubarkan massa.
Akhirnya pembagian ayam dan sayur tersebut ditunda. Panitia melalui pengeras suara mengumumkan bahwa pebagian ayam dan sayur ditunda.
Serka Surahmadi dari Tim Cakra Nanggala Buleleng atau Satgas Covid-19 yang bentuk Kodim 1609/Buleleng, mengaku kegiatan tersebut belum ada izin. “Untuk ini belum ada izin, karena kata dr. Caput mekanismenya, setiap kendaraan yang lewat akan dibagikan. Akan tetapi yang namanya masyarakat, dari informasi ke informasi jadinya numpuk. Menimbulkan kerumunan,” jelasnya.
Ditanya apakah persoalan itu akan lanjut ke ranah hukum, Serka Surahmadi mengatakan, pihaknya untuk sementara membubarkan kerumunannya saja.
Sementara Dr. Caput menjelaskan, kegiatan tersebut untuk memperingati Hari Kemerdekaan. Di Hari Kemerdekaan inilah pihaknya ingin berbagi. “Berbaginya sebenarnya sederhana sekali. Siapa yang lewat kita kasih. Kami memberi ayam dan sayur untuk meningkatkan gizi keluarga,” jelasnya.
Menurutnya, pembagian ayam dan sayur terseebut penting untuk menopang imun masyarakat dalam kondisi Covid-19 seperti saat ini. Namun, kata dia, masyarakat mendengar dari mulut ke mulut dan terjadilah kerumunan.
“Akhirnya kita tidak berdaya. Aparat sudah kita kerahkan. Sehingga untuk sementara kegiatan yang berjalan setengah ini , demi prioritas kita jangan sampai kondisi pandemi bertambah tidak baik, akhirnya dari aparat meminta untuk sementara ditunda. Nanti kita lanjutkan untuk berbagi,” kata dr. Caput.
Ia mengatakan, inilah kondisi masyarakat. Begitu mendengar pihaknya mau berbagi ayam dan sayur otomatis mereka datang. “Dalam kondisi seperti ini kita tidak bisa berbuat banyak. Kepentingan kesehatan yang utama, kepentingan kesehatan yang tertinggi. Otomatis kerumunan ini terjadi, padahal niat berbuat baik,” paparnya.
Dr. Caput mengaku memang tidak minta izin. Sebab, kegiatan tersebut ini mendadak. Menurutnya, selama ini untuk kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan sifatnya spontanitas. “Hanya sebatas sepengatahuan pihak aparat. Karena sederhana saja kegiatannya, setiap yang lewat kita kasih. Sebenarnya tidak menghabiskan waktu yang lama. Tampaknya kerumunan tidak bisa kita cegah. Demi kesehatan dari aparat minta ditunda,” ujarnya. (bs)
