KECANDUAN GADGET BISA SEBABKAN ANAK ALAMI GANGGUAN MORAL

BULELENG – Para orangtua harus menjaga anak-anaknya agar jangan sampai kecanduan gadget. Sebab, dampak dari kecanduan gadget salah satunya anak bisa mengalami gangguan moral.

Itu disampaikan Bella Savira Fitriana, S.Psi., Pekerja Sosial pada Kemensos RI untuk Tugas Wilayah Kabupaten Buleleng, pada acara Literasi Digital untuk Generasi Berkualitas Berwawasan Islami yang digelar MTsT Mardlatillah Singaraja, Sabtu (7/8/2021). Acara tersebut diikuti pada orangtua siswa secara daring.

Dalam paparan materinya yang berjudul “Peran Orangtua Terhadap Perkembangan Teknologi/Gadget”, Bella menjelaskan, gadget sebenarnya memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positifnya, misalnya, menambah pengetahuan bagi anak, memperluas jaringan persahabatan, mempermudah komunikasi serta melatif kreativitas anak.

Namun, ia mengingatkan, sesuai penelitian dokter anak asal Amerika Serikat, Cris Rowan, dampak negatif gadget lebih banyak ketimbang dampak positifnya terhadap anak. Menurutnya, dampak negatif terhadap anak adalah mengganggu kesehatan karena efek radiasi dari gadget.

“Frekuensi yang dipancarkan 3 – 30 Hz, termasuk gelombang radio. Tapi kalau digunakan dalam jangka panjang dia akan merusak jaringan tubuh. Menyebabkan kanker, tumor otak, al zhemer. Ini kalau digunakan anak di bawah 12 tahun. Jadi dampaknya sangat keras pada anak, dibandingkan orang dewasa,” kata pekerja sosial jebolan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Menurut Bella, gadget juga bisa menyebabkan terganggunya fungsi pre frontal cortex (PCF) atau otak bagian depan. Otak bagian ini biasanya digunakan untuk mengontrol emosi, mengontrol moral dan akhlak anak, agar tidak ada penyimpangan sosial. Kata dia, jika anak kecanduan gadget, PFC rusak. “Anak tidak bisa membedakan mana baik dan buruk, tidak bermoral lagi,” jelasnya.

Ia menjelskan, yang merusak PFC atau otak bagian depan yakni narkotika, kecanduan film porno dan kecanduan game. “Kalau PFC rusak, anak jadi kurang konsentrasi, tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Lama-lama terjadi penyimpangan prilaku,” tambahnya.

Bella mengatakan, PCF yang rusak juga rawan menyebabkan tindak kejahatan. Ia memberi bukti nyata. Kata dia, di Buleleng dari Januari – Desember 2020, dari kasus yang menimpa anak-anak, 44 persen adalah kasus pencabulan, baik sebagai anak sebagai korban atau pelaku.

“Dari sini bisa diketahui, anak dengan gampang melakukan aksi persetubuhan, aksi pencabulan. Dia tidak tahu lagi norma-norma yang harus dia yakini. Dia hantam kromo yang terpenting seksualitasnya terpenuhi. Ini bukti nyata yang sudah saya dampingi di lapangan. Ada anak sebagai korban yang mengalami traumatis karena perlakuan pencabulan. Ada juga anak menjadi pelaku pencabulan maupun persetubuhan. Kalau saya gali, ketika saya melakukan asismen, semua berawal dari gadget,” ujar Bella.

Dampak negatif anak kencaduan gadget lainnya, kata dia, anak menjadi sulit konsentrasi pada dunia nyata. Mereka hanya fokus pada HP saja. “Dan itu merusak sistem perkembangan dalam otaknya. Anak menjadi introvert dan antisosial. Yakni menutup diri tidak bergaul dengan orang, termasuk orangtuanya. Dia hanya menyendiri di dalam kamar,” paparnya.

Ia memberikan strategi apa yang harus dilakukan para orangtua. Pertama, orangtua harus memilihkan gadget anaknya sesuai usia. Orangtua harus tahu, anak kita pada tahap mana. Hasil penelitian, pemberian gadget tidak boleh diberikan kepada anak 1-2 tahun. Pada usia tersebut anak tidak boleh diperkenalkan dengan gadget, tapi dengan diperkenalkan dengan stimulus-stimulus lainnya yang merangsang perkembangan otaknya.

Kedua, pada anak usia 3-6 tahun, pemberian gadget itu hanya pada warna, bentuk, dan suara. Karena pada tahap ini merupakan pra operasional kognitif anak. Cukup yang bersifat simbolik. Sementara pada usia 7 -15, anak sudah naik level perkembangan kognitif ke pemikiran konkret. Pemberian gadget sudah menjadi kebutuhan, karena untuk belajar daring, tapi harus ada batas waktu.

“Tapi jangan dulu memberikan hadiah gadget kepada anak di usia 6-14 tahun. Pemenuhan gadget untuk anak usia ini tidak terlalu penting. Masih bisa gadget orangtua yang dipinjam. Karena kita harus tetap memntau. Misalnya hanya Sabtu Minggu boleh. Atau pas ada pelajaran daring,” tegasnya.

Sementara untuk usia remaja sampai dewasa, orangtua boleh memberikan hadiah gadget. Tapi dengan beberapa perjanjian. Misalnya mengajak bikin konten kreator. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *