BULELENG – Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani (KWT) dalam mengolah hasil pertanian dilaksanakan sejumlah dosen Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) di Dusun Abasan, Desa Panji Anom, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Sabtu (31/7/2021). Pelatihan dimaksudkan agar anggota KWT dapat menjadikan hasil pertanian bernilai ekonomis sehingga ikut membantu ekonomi keluarga.
Dalam acara yang merupakan program Pengabdian Pada Masyarakat (P2M) Undiksha tersebut diikuti 20 peserta dari KWT Tunas Amerta Dusun Abasan, Desa Panji Anom dengan masing-masing kelompok lima orang. Ada empat kelompok mendapatkan materi pelatihan yang berbeda.
Keempat pelatihan tersebut tersebut yakni “Pelatihan Pengolahan Buah Waluh Menjadi Olahan Jajanan Bagi KWT” yang diberikan oleh Dra. Damiati, M.Kes, dan Dr. Siti Maryam, M.Kes. “Optimalisasi Kualitas VCO Berdasarkan Parameter Kadar Air Bagi KWT” yang diberikan oleh Dewi Oktofa Rachmawati, S.Si., M.Si. dan Dr. Luh Putu Budi Yasmini, M.Sc. “Optimalisasi Pemberdayaan KWT Tunas Amerta Dalam Pengolahan Umbu-umbian Menjadi Makanan Bermutu dan Mendukung Ekonomi Keluarga” oleh Dr. Siti Maryam, M.Kes. dan Dra. Damiati, M.Kes. Serta “Pelatihan Pengemasan Hasil Olah Produk Labu Kuning pada KWT” oleh I Made Suriani, S.Pd, M.Par., dan Made Riki Ponnga, S.Par., M.Par.
Ketua KWT Tunas Amerta, Nyoman Sudiasih, mengatakan, pelatihan semacam itu sangat dibutuhkan anggota KWT Tunas Amerta Desa Panji Anom. Sebab, anggota KWT bisa membuat produk hanya saja belum berani memasarkan karena masih banyak kekurangannya.
“Dengan adanya ini kami sangat bersyukur sekali. Kami nantinya akan mengembangkan apa kami peroleh di pelatihan ini, sampai benar-benar berhasil,” kata Sudiasih.
Ia menjelaskan, KWT Tunas Amerta memiliki berapa program dalam memberdayakan anggotanya. Seperti pembibitan kebun organik. “Kami rencana membuat anek kripik. Sekarang baru dari singkong dan keladi. Di sini ada potensi sukun dan labu kuning. Itu akan kami kembangkan,” ujarnya.
Sudiasih mengaku, selama ini usahanya tersebut terkendala masalah peralatan dan modal. “Karena kami tidak punya modal sehingga tidak bisa membeli peralatan,” katanya.
Masalah pemasaran, kata dia, KWT Tunas Amerta bekerjasama dengan BUMDes. “Apapun produk KWT nanti dipasarkan lewat BUMDes. BUMDes sudah siap kerjasama,” jelasnya.
Sementara masalah peralatan, Sudiasih berharap bisa mendapat bantuan dari pemerintah. Ia mengaku beberapa kegiatan sudah dibantu pemerintah, seperti program pembibitan. Ia juga berharap, program pengembangan aneka kripik ini juga dibantu.
Damiati mengatakan, antusiasme peserta sangat baik. Mereka bersemangat karena sehari setelah para peserta memberikan laporan bahwa mereka sudah membuat produk seperti yang diberikan pelatihan. “Dan produk mereka siap dipasarkan. Dengan antusiasme peserta kami sangat puas karena apa yang kami berikan berhasil,” ujarnya. (bs)

