TRADISI “NYAPAR” ALA LOLOAN, NEGARA, BALI

NYAPAR merupakan tradisi masyarakat Loloan yang secara bersama-sama selametan dengan berzikir dan berdoa tolak Bala’. Tradisi ini dilaksanakan pada bulan Safar, yaitu bulan kedua dalam kalender Hijriyah. Hari Rabu terakhir dalam bulan Safar dipercayai sebagai hari naas, sehingga dilaksanakan tradisi Nyapar oleh masyarakat Loloan. Tradisi ini bertujuan menolak bala’ agar diberikan keselamatan semua anggota keluarganya.

Dahulu di tahun 1970-an, tradisi Nyapar masyarakat Loloan sangat khas dan unik karena dilaksanakan di pesisir Tanjung Tangis Muare Pengambengan. Masyarakat sejak pagi menyiapkan makanan nasi lemak plus plecing ayam sebagai lauknya. Sejak pagi hari alur sungai Ijogading suasananya tampak hiruk-pikuk dengan ramainya para rombongan keluarga menaiki sampan menuju ke arah Tanjung Tangis Muare. Tradisi yang cukup unik saat itu karena sungai Ijogading hari itu dipenuhi oleh sampan-sampan menuju ke arah hilir sepanjang kurang lebih 8 kilometer.

Gambar 1 Tradisi Nyapar di Tanjung Tangis tahun 1975

Sesampai di pesisir Tanjung Tangis, rombongan mulai menghampar tikar pandan dan duduk melingkar untuk memulai ritual selamatan dengan dimulai ratib pendek untuk berzikir ditutup dengan doa tolak bala. Di tengah lingkaran sudah tersedia air dalam tempat emblong seng (wadah air yang besar) ataupun ember kala itu (saat ini sudah berganti wadah bertempat botol plastik), yang dipergunakan untuk minum dan juga menyiramkan ke tubuh para rombongan nyapar. Air ini disebut dengan nama “Air Safar”.

Air Safar ini diambil dari sebuah sumur yang memiliki air tawar yang ada di ujung barat Perancak, sering disebut sumur Bajo. Air dari sumur Bajo ini sebelumnya dimasukkan ke dalam dirigen plastik untuk dibawa ke lokasi Nyapar.

Para rombongan kemudian mandi bersama-sama dengan tetap mengenakan pakaian di lautan Tanjung Tangis Muare. Selesai mandi, semua anggota rombongan nyapar bersama-sama makan nasi lemak dengan lauk khas Loloan “plecing” dan yang pria menyulut rokok lintingan tangan khas Loloan yang bernama rokok “Srikarang”.

Gambar 2 Makan bersama nasi plecing dalam tradisi Nyapar saat ini

Tradisi Nyapar ini cukup unik hanya dilaksanakan di bulan Safar, dengan selamatan dan makan bersama. Pada perkembangannya, tradisi Nyapar tidak lagi diadakan di pinggir pantai, melainkan di rumah-rumah dan di langgar-langgar dan masjid. (bs)

  • Foto-foto: Eka Sabara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *