WUJUDKAN NAWACITA, KEMENDIKBUD KEMBANGKAN PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK CETAK PELAJAR PANCASILA

JAKARTA – Pada periode kedua kepemimpinan Presiden Joko Widodo, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di bawah kendali Menteri Nadiem Anwar Makarim dengan Program Merdeka Belajar, implementasi program NAWACITA dikuatkan dengan Profil Pelajar Pancasila.  Profil Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

“Profil Pelajar Pancasila mempunyai enam ciri utama yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif,” kata Dr. Romi Siswanto, M.Si, Pengurus PP Pergunu, Minggu (23/5/2021).

Fungsional Muda Ditjen GTK Kemendikbud RI ini menjelaskan keenam ciri utama profil Pelajar Pancasila tersebut. Pertama, Pelajar Indonesia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia adalah pelajar yang berakhlak dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Pelajar tersebut mesti memahami ajaran agama dan kepercayaannya serta menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

“Ada lima elemen kunci beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, yaitu akhlak beragama; akhlak pribadi; akhlak kepada manusia; akhlak kepada alam; dan akhlak bernegara,” terangnya.

Kedua, kata Dr. Romi, Berkebinekaan Global. Menurutnya, Pelajar Indonesia terus mempertahankan budaya luhur, lokalitas, dan identitasnya, serta tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, sehingga menumbuhkan rasa saling menghargai dan kemungkinan terbentuknya dengan budaya luhur yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa. Elemen dan kunci kebhinekaan global meliputi mengenal dan menghargai budaya, kemampuan komunikasi interkultural dalam berinteraksi dengan sesama, dan refleksi dan tanggung jawab terhadap pengamalan kebhinekaan.

Ketiga, Bergotong-royong. Dr. Romi menjelaskan, Pelajar Indonesia memiliki kemampuan bergotong-royong, yaitu kemampuan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar, mudah dan ringan. Elemen-elemen dari bergotong royong adalah kolaborasi, kepedulian, dan berbagi.

Keempat, Mandiri. “Pelajar Indonesia merupakan pelajar mandiri, yaitu pelajar yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Elemen kunci dari mandiri terdiri dari kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi serta regulasi diri,” jelasnya.

Kelima, Bernalar Kritis. Menurut Dr. Romi, Pelajar Pancasila adalah pelajar yang bernalar kritis, mampu secara objektif memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi dan menyimpulkannya. Elemen-elemen dari bernalar kritis adalah memperoleh dan memproses informasi dan gagasan, menganalisis dan mengevaluasi penalaran, merefleksi pemikiran dan proses berpikir, dan mengambil keputusan.

Terakhir, keenam, Kreatif. Dr. Romi menjelaskan, pelajar yang kreatif mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak. Elemen kunci dari kreatif yakni menghasilkan gagasan yang orisinal serta menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal.

Dr. Romi memaparkan, pada masa pandemi Covid-19, telah diterbitkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus, Pelaksanaan Kurikulum pada Kondisi Khusus bertujuan untuk memberikan fleksibilitas bagi Satuan Pendidikan untuk menentukan Kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran Peserta Didik.

Dikatakan, terlepas dari terbitnya Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum di Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus di Masa Pandemi Covid-19, Menteri Nadiem Anwar Makarim di awal kepemimpinannya sudah berencana menyelaraskan kurikulum dengan semangat NAWACITA. Rencana penerbitan kurikulum baru lebih kontekstual disesuaikan dengan kekhasan daerah masing-masing dan mengusung kearifan lokal. Cinta tanah air, menanamkan jiwa patriotisme ditanamkan sejak bangku sekolah dasar.

“Tujuan besar penyederhanaan kurikulum pendidikan adalah mewujudkan Profil Pelajar Pancasila dan diharapkan pada tahun 2045 menelurkan Generasi Emas Indonesia yang bersaing di kancah global. Identitas sebagai orang Indonesia dimanapun berada tetap mengedepankan nilai-nilai luhur Pancasila,” ujar Dr. Romi.

Ia menambahkan bahwa Revolusi Mental dengan penguatan pendidikan karakter dan keluarannya diharapkan menciptakan Profil Pelajar Pancasila yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merupakan upaya nyata untuk mewujudkan program NAWACITA. “Semoga tercipta SDM unggul yang memiliki jiwa Pancasila dan bangga akan identitas sebagai orang Indonesia di tahun 2045, sebagai kado emas 100 tahun Kemerdekaan Indonesia,” pungkasnya. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *