KODAM IX UDAYANA SEDANG BANGUN AIR BERSIH DI NTT DAN NTB

DENPASAR – Pangdam IX Udayana, Mayjen TNI Maruli Simanjuntak, saat ini sedang fokus membangun air minum bagi NTT dan NTB. Saat bertemu perwakilan awak media yang tergabung dalam Perhimpunan Jurnalis (PENA) NTT, Selasa (2/3/2021) sore, jenderal bintang dua ini secara lugas dan yakin jika apa yang dikerjakan dirinya bersama seluruh jajarannya sangat menyentuh langsung kebutuhan rakyat banyak di arus bawah.

“Saya bersama seluruh anggota di wilayah Kodam IX Udayana, bersama dengan semua Babinsa yang ada di seluruh desa di NTT, NTB. Kita lihat, mana yang paling dibutuhkan masyarakat. Dan ternyata air minum. Kita lihat, sumbernya ada. Airnya ada. Tetapi kenapa rakyat kekurangan air. Maka itulah yang kami kerjakan selama ini. Kita ingin agar rakyat menikmati air bersih. Itu saja. Tidak usah besar- besar, tidak usah muluk-muluk. Di NTT, air itu kebutuhan. Dan ini belum menjadi perhatian serius semua stakeholder yang ada. Jangan sampai ini terjadi. Kita bicara keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, kenapa masyarakat di desa di NTT, air minum saja susah?” sindirnya.

Dengan keyakinan yang dipegang teguh agar rakyat menikmati air bersih, Jenderal Maruli mengerahkan seluruh sumber daya yang ada. Dengan keterbatasan dana dan peralatan, pria asal Batak ini fokus membangun air bersih untuk NTT dan sebagian kecil NTB.

“Saya kerahkan Babinsa. Saya kerahkan anggota di Koramil, di Kodim. Saya minta berbuatlah sesuatu untuk masyarakat. Mereka kerja keras. Bahkan mereka bekerja dengan lapar karena tidak makan. Ini fakta. Saya perintahkan harus jadi. Miris. Sementara pemerintah setempat belum maksimal, belum fokus. Bagaimana mungkin rakyatnya terus mengalami kekurangan air bersih. Dan ini bertahun-tahun terjadi,” ujarnya.

Saat ini dia menegaskan, program unggulan di NTT adalah air bersih. Logikanya adalah bahwa kalau ada penduduk, kalau ada pemukiman di wilayah itu pasti ada sumber air. Namun sumber air itu bisa dekat, bisa jauh. Kalau air jauh dia bisa kurang sehat, kurang minum air, apalagi mau membangun pertanian.

“Tugas kami adalah mendekatkan air tersebut. Program kami di Kodam IX Udayana adalah mendekatkan air untuk rakyat NTT. Saya yakinkan anggota bahwa air harus merata di NTT, dimana pun. Kalau dulunya NTT diplesetkan ‘nanti Tuhan tolong’, maka sekarang saya ingin mengubahnya. NTT itu akronim dari, ‘Nah Tentara Tolong’. Air harus dekat dengan rakyat. Kalau pemerintah daerah tidak kerja, kami yang kerja. Kalau tidak bantu, ya, jangan ganggu,” ujarnya.

Saat ini sudah ada pemetaan titik air atau sumber air yang belum digarap dengan baik, sementara warga sekitarnya kekurangan air. Hasil pemetaan itu ada 94 titik di NTT. Ini baru data sementara. Pemetaan terus dilakukan. Dan mungkin akan terus bertambah. Dari 94 titik tersebut, yang sudah dipasang pompa sebanyak sebanyak 19 titik.

“Saat ini sudah menghasilkan 2 juta liter air per hari dari total pompa hidram yang sudah diaktifkan dan sudah ada belasan ribu warga yang sudah menikmati air bersih,” urainya. Sementara pompa hidram yang masih dalam proses pengerjaan sebanyak 10 pompa yang terdiri dari 8 titik di NTT dan 2 titik di NTB.

Seluruh pompa hidram dikerjakan sendiri oleh anggota dari Kodim di masing-masing wilayah. Pipa, besi rangka, bak primer, bak sekunder dibeli secara swadaya. Pengerjaan oleh anggota TNI. “Kasihan anggota saya. Mereka kerja dengan lapar. Makanya, tolonglah, para bupati, atau siapapun yang berwenang di daerah, perhatikan makanan anak buah saya saat kerja tuh. Kita pasang air gratis bagi warga,” ujarnya.

Saat ini di masing-masing Kodim di NTT sudah merekrut tenaga untuk dilatih mengerjakan pompa hidram, memasang dan merawat. Rata-rata per pompa menghabiskan sekitar Rp 50 juta sampai Rp 100 juta. Selama ini banyak bantuan dari teman-teman, orang kaya, public figure.

“Kami sedikit merendah, minta bantuan, kalau ada yang bisa beli tas seharga 50 juta, kita bilang, tasnya jangan dibeli dulu, kasih uang ke kami bangun air di NTT. Ternyata bisa juga,” ujarnya.

Ia meminta kepada para Dandim, Danrem, Danramil agar lebih giat lagi, mampu mempresentasikan proyek besar ini kepada jaringan, CSR, BUMN, BUMD, swasta dan seterusnya. “Idenya sebenarnya bahwa kondisi ini ada di seluruh Indonesia. Selama ini banyak Kodim, Danramil kurang presentasi, kurang promosi. Banyak dana CSR yang tidak efektif. Kasih kami Rp 150 miliar saja, kami bisa bikin 1.000 titik pompa air di NTT. Menunggu pemerintah terlalu lama. Rakyat sudah sengsara,” tandasnya. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *