Sinergi Pendidikan Berbasis Lingkungan: MIN 2 Buleleng Lakukan Studi Tiru dan Penguatan Ekoteologi di MI Al-Hidayah Bedugul

TABANAN – Semangat memperkuat kesadaran lingkungan dan jiwa kewirausahaan bagi tenaga pendidik terus digelorakan. Pada hari kedua pelaksanaan workshop Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Ekoteologi, jajaran Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Buleleng menggelar kegiatan luar ruang (outdoor activity) serta capacity building yang inspiratif.

Kegiatan ini diisi dengan agenda studi tiru serta membangun sinergi strategis bersama MI Al-Hidayah Bedugul, sebuah lembaga pendidikan yang telah lama dikenal luas sebagai madrasah agro eco-eduwisata.

Rombongan MIN 2 Buleleng tiba di lokasi dan disambut dengan hangat secara langsung oleh Kepala MI Al-Hidayah, Sukbandi, S.Pd., M.Pd. Penyambutan dan sesi pemaparan program unggulan tersebut dilangsungkan secara terbuka di laboratorium alam MI Al-Hidayah, yang menawarkan suasana asri pegunungan Bedugul yang sejuk dan menyegarkan.

Dalam sesi pemaparan, Sukbandi menjelaskan secara komprehensif mengenai konsep pendidikan terpadu yang memadukan pariwisata edukasi, pertanian berkelanjutan, dan nilai-nilai religius. Usai pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan jelajah alam menyusuri enam unit laboratorium alam atau ruang kelas outdoor yang dimiliki oleh MI Al-Hidayah.

Di titik-titik inilah para GTK MIN 2 Buleleng melihat langsung bagaimana alam difungsikan sebagai ruang belajar tanpa batas.

Pembelajaran Nyata: Dari Ketahanan Pangan hingga Kewirausahaan

Salah satu daya tarik utama dari konsep agro eco-eduwisata di MI Al-Hidayah adalah metode pembelajaran aplikatif yang diberikan langsung kepada para peserta didik. Di sini, para siswa tidak hanya belajar teori di dalam kelas, tetapi diajarkan secara langsung mengenai sistem pertanian dan ketahanan pangan secara utuh.

“Siswa diajarkan seluruh siklus pertanian, mulai dari teknik menanam yang benar, perawatan tanaman, proses pemanenan, hingga bagaimana menikmati dan mengolah hasil panen tersebut,” ujar salah satu pengajar saat mendampingi rombongan.

Tidak berhenti sampai di situ, proses pembelajaran ini juga diintegrasikan dengan penanaman jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) sejak dini. Siswa dibekali mental mandiri dan produktif agar kelak mampu melihat peluang ekonomi dari hasil bumi.

Yang tak kalah penting, setiap tahapan pengelolaan hasil pertanian tersebut selalu dibarengi dengan pemahaman mendalam tentang ekoteologi—sebuah pendekatan teologis yang memandang pelestarian alam dan rasa syukur atas hasil bumi sebagai bagian dari nilai-nilai keimanan dan ibadah.

Komitmen MIN 2 Buleleng Wujudkan “Panca Cinta” dan Sekolah Adiwiyata
Kegiatan studi tiru ini merupakan wujud nyata implementasi nilai “Panca Cinta”, khususnya cinta lingkungan, yang diusung oleh MIN 2 Buleleng.

Kepala MIN 2 Buleleng, H. Muhammad Qosim, S.Pd.SD., M.Pd., yang memimpin langsung rombongan, mengaku sangat terkesan dengan inovasi dan konsistensi yang ditunjukkan oleh MI Al-Hidayah.

“Ini adalah program yang luar biasa inspiratif. Kami sangat terkesan dan berencana untuk mengadopsi program luar biasa ini di MIN 2 Buleleng,” ungkap H. Muhammad Qosim dengan penuh antusias.

Menurutnya, langkah adopsi ini sangat sejalan dan memperkuat posisi MIN 2 Buleleng sebagai Sekolah Adiwiyata yang telah ditetapkan secara resmi oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng.

Melalui sinergi lintas madrasah ini, MIN 2 Buleleng bertekad untuk semakin mantap dalam membangun pilar kewirausahaan mandiri serta memperkuat ketahanan pangan berbasis madrasah di masa depan.

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama di tengah kebun sayur laboratorium alam MI Al-Hidayah, menandai eratnya jalinan persaudaraan dan komitmen bersama antardua madrasah dalam mencetak generasi bangsa yang cinta lingkungan, religius, dan berdaya saing tinggi. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *