Untuk Keselamatan, Warga Pegayaman Gelar Doa “Tolak Bala’” di Lokasi Shortcut

BULELENG – Ratusan warga Desa Pegayaman, khususnya di Banjar Dinas Kubu, mengikuti doa “Tolak Bala” di lokasi shortcut, Rabu (30/9/2026). Doa “Tolak Bala” untuk diberikan kelancaran pelaksanaan proyek shortcut, dan untuk keselamatan bagi warga sekitarnya, termasuk para pekerja proyek.

Tolak Bala’ dipimpin Penghulu Imam Desa Pegayaman, H. Abdul Gofar Ismail. “Dengan Tolak Bala’ ini, mudah-mudahan kita semua diberikan keselamatan, diberikan kesehatan. Amin,” kata Guru Penghulu H. Abdul Gofar Ismail.

Di tengah terik mentari, di lokasi shortcut Banjar Dinas Kubu, ratusan warga Pegayaman menyambut dengan kata ‘amin’. Hadir juga mengikuti Tolak Bala’ para penglingsir, guru-guru dan tokoh-tokoh Pegayaman.

Warga membentuk formasi menghadap ke berbagai penjuru. Dipimpin Guru Penghulu Imam Desa Pegayaman, warga secara bersamaan melantunkan adzan. Lantunan adzan yang dikumandangkan secara bersama-sama bergema dan menggetarkan bukit-bukit di sekitarnya. Guru Penghulu kemudian melanjutkan dengan membaca doa tolak bala’.

Setelah berdoa di titik awal, warga kemudian melanjutkan ke titik berikutnya. Sambil berjalan menuju titik berikutnya, warga melantunkan kalimat tahlil “Lailaha illallahu”. Di titik berikutnya, warga yang dipimpin Guru Penghulu Imam Desa Pegayaman, juga melanjutkan dengan melantunkan adzan secara bersama-sama, dan kemudian doa tolak bala’. Demikian juga di titik-titik berikutnya.

Doa tolak bala’ terakhir dilaksanakan di Musholla Misbahul Busthan Banjar Dinas Kubu, Desa Pegayaman. Perjalanan dari titik awal hingga musholla, harus melalui jalan terjal, menanjak dan turun.

Tokoh dan Pemerhati Desa Pegayaman, Ketut Muhammad Suharto, menegaskan bahwa kegiatan Tolak Bala’ ini merupakan cara warga Pegayaman untuk terhindar dari bahaya dan untuk keselamatan.

“Alhamdulillah hari ini kalau istilah di Pegayaman dilaksanakan Tolak Bala’. Tolak Bala’ ini dilaksanakan terkait dengan masyarakat resah karena adanya kerauhan atau kesurupan anak-anak yang masih SD,” katanya.

Menurutnya, banyak warga yang melaporkan. Lantas dengan Adat Kepenghuluan Pegayaman,kepala desa melaksanakan Tolak Bala’ ini. Kegiatan ini juga bekerja sama dan didukung oleh pihak proyek.

“Tujuan dari pelaksanaan Tolak Bala’ ini adalah semata-mata untuk mendukung proyek ini agar berjalan dengan baik. Kami tidak pernah menolak proyek yang dibangun oleh pemerintah. Tolak Bala’ ini dilaksanakan justru dengan tujuan bagaimana proyek ini berjalan dengan baik. Tidak ada lagi kesurupan,” ujarnya.

Menurut Suharto, warga Pegayaman mendukung program pemerintah ini. Tolak Bala’ ini bukan berarti menolak program shortcut. “Tidak. Tetapi malah mendukung agar program ini berjalan dengan baik. Tidak ada lagi kesurupan-kesurupan,” tambahnya.

Suharto menegaskan, Tolak Bala’ tujuannya agar proyek shortcut berjalan dengan lancar. “Bukan berarti menolak proyek. Tapi bagaimana agar bisa berjalan dengan baik tanpa ada kesurupan. Warga enak, tanpa gangguan. Warga ingin agar proyek berjalan dengan baik, tanpa adanya risiko-risiko seperti kesurupan ini. Itulah tujuan Tolak Bala’ ini. Kami warga Pegayaman punya cara sendiri. Inilah adat kami di Pegayaman,” tadasnya. (bs)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *