Saab Mute Nagasepaha Bertahan di Tengah Pergeseran Generasi

BULELENG – Kerajinan saab mute di Desa Nagasepaha, Kecamatan Buleleng, masih bertahan di tengah perubahan zaman. Kerajinan yang dibuat dari daun lontar atau ental, kain beludru, dan mute ini tidak hanya digunakan untuk keperluan adat, tetapi juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Perbekel Desa Nagasepaha I Wayan Sumeken, S.Sos menyampaikan saab mute merupakan salah satu potensi budaya yang menjadi bagian dari identitas desa. Pemerintah desa terus mendorong agar kerajinan tersebut tetap berkembang dan dapat menjadi salah satu ikon Desa Nagasepaha.

“Ini ikon kita. Kami ingin saab mute bisa menjadi salah satu ikon Desa Nagasepaha dan terus dikembangkan sebagai warisan budaya tak benda,” ujarnya, saat ditemui diruang kerjanya, Rabu (30/9/2026).

Menurutnya, keterampilan membuat saab mute sudah diwariskan secara turun-temurun. Pada era 1990-an, hampir setiap perempuan di Desa Nagasepaha memiliki keterampilan membuat kerajinan tersebut.

Saat itu, membuat saab menjadi kegiatan yang banyak dilakukan ibu rumah tangga setelah menyelesaikan pekerjaan rumah dan mengasuh anak. Selain mengisi waktu luang, hasil kerajinan juga dapat membantu menambah pendapatan keluarga.

“Pada tahun 1990-an, hampir setiap perempuan di Desa Nagasepaha bisa membuat kerajinan saab. Selain mengisi waktu, hasilnya juga bisa membantu menambah ekonomi keluarga,” ungkap Sumeken.

Namun, jumlah pengerajin mulai berkurang setelah memasuki tahun 2000-an. Salah satu penyebabnya adalah semakin banyak generasi muda yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Lebih lanjut, Sumeken menambahkan jika dahulu sebagian besar masyarakat hanya menempuh pendidikan hingga SMP, kini semakin banyak anak-anak Desa Nagasepaha yang melanjutkan pendidikan hingga SMA bahkan perguruan tinggi.

Perubahan tersebut membuat pilihan pekerjaan generasi muda semakin beragam. Akibatnya, tidak banyak anak muda yang memilih meneruskan keterampilan membuat saab mute dari orang tua mereka.

Meski demikian, sejumlah warga masih bertahan menjadi pengerajin. Bagi mereka, membuat saab mute dapat dilakukan dari rumah sekaligus menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga.

“Yang masih bertahan biasanya mereka yang belum memiliki pekerjaan tetap. Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, mereka membuat saab mute untuk menambah pendapatan keluarga,” Imbuhnya

Pemerintah Desa Nagasepaha terus berupaya menjaga keberadaan saab mute dengan melakukan kerja sama dengan organisasi perangkat daerah (OPD), perguruan tinggi, dan pihak lain yang peduli terhadap pengembangan kerajinan lokal.

Dukungan yang diberikan antara lain melalui kajian, pelatihan, praktik pembuatan kerajinan, bantuan bahan, hingga pendampingan dalam pengelolaan usaha.

Sejumlah perguruan tinggi juga pernah melakukan penelitian terhadap saab mute. Kerajinan tersebut dinilai memiliki keunikan dan masih dapat dikembangkan menjadi berbagai produk.

Menurut Sumeken penggunaan saab mute juga tidak terbatas untuk kebutuhan adat dan keagamaan Hindu. Kerajinan tersebut dapat digunakan sebagai hiasan rumah, dekorasi dinding, hingga perlengkapan seperti tedung saji.

Untuk mengikuti kebutuhan pasar, pengerajin mulai melakukan inovasi pada motif dan desain. Meski demikian, ciri khas saab mute Nagasepaha tetap dipertahankan.

“Motifnya ada yang dikombinasikan oleh pengrajin untuk menyesuaikan kebutuhan pasar. Harganya juga relatif terjangkau, mulai Rp 25 ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung motif dan permintaan,” jelasnya.

Salah satu pengrajin saab mute, Kadek Puniantari, mulai membuat kerajinan tersebut sejak 2008. Saat itu, Puniantari merupakan ibu rumah tangga yang belum memiliki pekerjaan, ia kemudian belajar membuat saab mute sambil mengasuh anak.

“Saya mulai membuat saab mute sekitar 2008. Waktu itu sebagai ibu rumah tangga, saya belajar membuat saab mute sambil menjaga anak,” ujarnya.

Puniantari menggunakan daun lontar sebagai bahan utama, kemudian dipadukan dengan kain beludru dan mute. Dalam sehari, Pihaknya dapat menyelesaikan sekitar dua hingga tiga saab, tergantung motif dan jumlah pesanan.

Semakin rumit motif yang dibuat, semakin lama waktu yang dibutuhkan. Selain proses pembuatan, pengerajin juga menghadapi kendala kenaikan harga bahan baku.

“Kendalanya bahan baku karena harganya terus naik, sementara harga kerajinan masih tetap. Ada persaingan dengan produk dari tempat lain sehingga harga harus menyesuaikan,” ungkapnya.

Puniantari berharap semakin banyak masyarakat mengenal saab mute Nagasepaha. Dengan begitu, pasar kerajinan dapat semakin luas dan para pengrajin tetap dapat mempertahankan keterampilan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagi Desa Nagasepaha, saab mute bukan sekadar kerajinan untuk menambah pendapatan. Kerajinan tersebut juga merupakan bagian dari pengetahuan dan keterampilan masyarakat yang perlu dijaga agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *