BULELENG – Partisipasi generasi muda dalam berbagai kegiatan organisasi, baik di lingkungan kampus, luar kampus, maupun masyarakat, menjadi perhatian serius. Fenomena ini dinilai tidak sekadar mencerminkan berkurangnya minat berorganisasi, tetapi juga berpotensi menghambat pembentukan kualitas sumber daya manusia (SDM) serta memicu sikap apatis terhadap persoalan sosial dan politik.
Anggota Bidang Sosial Kemasyarakatan PC KMHDI Buleleng, I Gede Putrayasa, Senin (28/9/2026), mengatakan, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena keterlibatan anak muda dalam organisasi merupakan bagian penting dari proses pembentukan karakter dan kapasitas kepemimpinan.
“Saya melihat partisipasi generasi muda dalam ruang-ruang organisasi saat ini memang perlu menjadi perhatian bersama. Banyak anak muda yang mulai menjauh dari kegiatan kolektif, padahal organisasi merupakan ruang penting untuk belajar, berproses, membangun relasi, sekaligus melatih diri menghadapi berbagai persoalan di tengah masyarakat. Kalau ruang-ruang seperti ini terus ditinggalkan, tentu akan berpengaruh terhadap kesiapan generasi muda dalam menghadapi tantangan di masa depan,” ucap Putrayasa.
Menurut Putrayasa, organisasi bukan sekadar tempat berkumpul atau menjalankan program kerja. Organisasi merupakan ruang pembelajaran yang memberikan pengalaman nyata bagi anak muda untuk mengembangkan kemampuan berpikir, berkomunikasi, bekerja sama, dan menyelesaikan persoalan secara kolektif.
Pengalaman yang diperoleh selama berorganisasi menjadi bekal penting ketika generasi muda nantinya terjun langsung ke masyarakat. Sebab, tidak seluruh kemampuan tersebut dapat diperoleh melalui pendidikan formal di ruang kelas.
“Pengalaman adalah salah satu guru terbaik. Di organisasi, kita belajar bagaimana menyampaikan pendapat, menerima kritik, menghargai perbedaan pandangan, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap keputusan tersebut. Hal-hal seperti ini tidak selalu bisa kita dapatkan hanya melalui pembelajaran formal,” ujarnya.
Putrayasa juga menyoroti pentingnya kaderisasi dalam organisasi. Menurutnya, proses kaderisasi bukan hanya bertujuan mempertahankan keberlangsungan organisasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menyiapkan SDM yang memiliki kapasitas dan kepekaan sosial.
“Kaderisasi harus dipandang sebagai proses investasi sumber daya manusia. Organisasi harus mampu melahirkan kader yang tidak hanya aktif secara internal, tetapi juga memiliki kemampuan untuk membaca persoalan dan memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat,” tegasnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa rendahnya keterlibatan anak muda dalam organisasi berpotensi membuat ruang diskusi dan pertukaran gagasan semakin menyempit. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat berdampak pada menurunnya kepedulian terhadap berbagai persoalan sosial dan kebijakan publik.
“Ketika anak muda mulai menjauh dari ruang diskusi, kita harus melihat dampaknya dalam jangka panjang. Jangan sampai mereka menjadi generasi yang hanya menerima informasi tanpa memiliki keberanian untuk bertanya, mengkritisi, dan memahami persoalan yang terjadi di sekitarnya.” jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi ironi ketika generasi muda selalu disebut sebagai agen perubahan. Sebab, kemampuan untuk menjadi agen perubahan membutuhkan proses panjang yang salah satunya dapat dibangun melalui pengalaman berorganisasi.
Ia pun menilai persoalan rendahnya partisipasi anak muda tidak bisa hanya diselesaikan dengan menyalahkan generasi muda. Organisasi juga perlu melakukan evaluasi terhadap pola kaderisasi, metode pendekatan, serta kegiatan agar lebih relevan dengan kebutuhan generasi saat ini.
“Kita tidak bisa hanya mengatakan anak muda sekarang apatis atau tidak mau berorganisasi. Organisasi juga harus melakukan introspeksi. Kita harus bertanya apakah pola yang kita gunakan masih relevan, apakah ruang yang kita berikan cukup terbuka, dan apakah anak muda mendapatkan pengalaman yang benar-benar bermakna,” tambahnya.
Putrayasa mendorong agar organisasi kepemudaan mampu menghadirkan ruang yang lebih terbuka, kreatif, dan relevan sehingga generasi muda memiliki alasan kuat untuk terlibat.
“Anak muda membutuhkan ruang untuk bertumbuh, menyampaikan gagasan, dan mengambil peran. Kalau organisasi mampu memberikan ruang tersebut, saya yakin partisipasi akan tumbuh kembali. Yang penting adalah bagaimana kita membuat organisasi menjadi tempat yang memberikan pengalaman dan manfaat nyata bagi anggotanya,” jelasnya.
Ia berharap generasi muda tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik maupun kepentingan pribadi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.
“Menjadi generasi muda bukan hanya tentang menunggu masa depan. Kita memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan masa depan itu sejak sekarang. Salah satu caranya adalah dengan berani terlibat, belajar bersama, dan mengambil bagian dalam persoalan yang ada di masyarakat,” pungkasnya. (bs)

