Dosen Undiksha Kembangkan SI-Konseling Pro: Berbasis EEG dan Kearifan Lokal untuk Cegah Kekerasan pada Anak

BULELENG – Dosen Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) terus mendorong hilirisasi riset menjadi inovasi yang menjawab kebutuhan dunia pendidikan. Melalui Neuroharmony Laboratory, dikembangkan SI-Konseling Pro, sistem informasi konseling berbasis web yang memadukan teknologi Electroencephalography (EEG), kecerdasan buatan (AI), dan kearifan lokal Bali Tri Kaya Parisudha.

Inovasi ini dikembangkan melalui Program Hilirisasi Riset Strategis – Skema Pengujian Produk Tahun 2026 yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Tim diketuai Prof. Dr. Kadek Suranata, M.Pd., Kons., dan melibatkan Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) serta PD ABKIN Bali, dengan dukungan sejumlah instansi Pemerintah Kota Denpasar dan Kabupaten Buleleng.

Prof. Suranata mengatakan, SI-Konseling Pro dikembangkan untuk membawa hasil riset dosen lebih dekat dengan kebutuhan sekolah. Teknologi dalam sistem ini dirancang sebagai alat bantu bagi guru BK dalam melakukan skrining dan pendampingan siswa secara lebih terukur.

“Kami ingin riset dosen tidak berhenti sebagai publikasi atau prototipe, tetapi dapat dihilirkan menjadi inovasi yang benar-benar dimanfaatkan. Karena itu, kami memadukan EEG dan AI dengan pendekatan konseling serta nilai Tri Kaya Parisudha agar inovasi ini relevan dengan kebutuhan sekolah,” ujarnya, Senin (31/8/2026).

SI-Konseling Pro memiliki sejumlah fitur, antara lain asesmen DASS-21, konsultasi BK daring, pelaporan kasus kekerasan secara terstruktur dan anonim, serta analisis EEG untuk mendukung proses pre-konseling. Data EEG ditampilkan melalui dashboard untuk memberikan informasi tambahan terkait indikator konsentrasi dan regulasi emosi.

Dalam pengembangannya, tim juga mengintegrasikan nilai Tri Kaya Parisudha, yakni ajaran dalam kearifan Bali yang menekankan pentingnya menjaga keharmonisan pikiran (manacika), perkataan (wacika), dan perbuatan (kayika). Nilai tersebut dipadukan dengan pendekatan konseling untuk membantu siswa membangun pola pikir, komunikasi, dan perilaku yang lebih positif serta harmonis.

Pendekatan ini menjadi salah satu karakteristik SI-Konseling Pro karena teknologi modern yang digunakan tetap disesuaikan dengan konteks budaya lokal. Tim juga menggunakan baseline norma neurofisiologis dari 35 subjek di Bali sebagai salah satu acuan interpretasi agar pengembangan sistem lebih kontekstual.

Inovasi tersebut telah diuji di sejumlah sekolah mitra di Denpasar dan Singaraja. Tim mengumpulkan data baseline DASS-21 dari 400 siswa di delapan sekolah dan melakukan uji pre-post test pada 65 siswa.

“Harapannya, SI-Konseling Pro tidak berhenti sebagai prototipe, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi solusi yang memberikan manfaat nyata bagi sekolah, khususnya dalam memperkuat layanan konseling dan menciptakan lingkungan pendidikan yang aman bagi siswa,” lanjutnya.

Melalui inovasi tersebut, dosen Undiksha menunjukkan komitmen untuk menjadikan riset tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga solusi yang dapat diterapkan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Perpaduan teknologi dan kearifan lokal dalam SI-Konseling Pro menjadi salah satu upaya menghadirkan layanan konseling yang modern, humanis, dan sesuai dengan konteks Pendidikan. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *