Menghidupkan Tradisi, Merajut Kebersamaan: Semangat Gotong Royong Maulid Nabi di Desa Pegayaman

* ​Oleh H. Muhammad Qosim, S.Pd.SD M.Pd

DESA Pegayaman di Kabupaten Buleleng, Bali, dikenal luas sebagai sebuah perkampungan muslim yang sarat akan harmoni dan pelestarian budaya lokal. Setiap kali tiba bulan Rabiul Awwal, denyut nadi desa ini seakan berdetak lebih cepat.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pegayaman bukan sekadar ritual keagamaan tahunan, tetapi sebuah perayaan akbar yang menghidupkan kembali akar adat istiadat dan memperkokoh tali persaudaraan melalui semangat gotong royong yang luar biasa.

​Gotong Royong Menyiapkan “Ambu” dan Bambu

​Persiapan Maulid di Pegayaman melibatkan seluruh elemen masyarakat jauh hari sebelum hari H. Warga secara bahu-membahu turun tangan menyiapkan perlengkapan tradisional.

Kaum pria biasanya bergotong royong mencari dan menebang bambu yang nantinya digunakan untuk berbagai keperluan dekorasi serta penunjang acara.

​Warga lainnya sibuk menyiapkan ambu (janur kuning) yang akan menjadi berbagai hiasan tradisional yang sarat makna filosofis, menghiasi setiap sudut desa sebagai lambang penyambutan hari lahir Sang Nabi dengan penuh suka cita.

​Tradisi Sadaqah Maulid dan Pembelian Sapi

​Salah satu pilar utama kesuksesan perayaan ini adalah tradisi pengumpulan sadaqah maulid. Warga desa dengan keikhlasan tinggi menyisihkan rezeki mereka untuk dikumpulkan secara kolektif.

​Pembelian Sapi: Dana yang terkumpul dari sadaqah warga belikan sapi.

Memasak Bersama: Daging sapi tersebut nantinya disembelih dan dimasak bersama-sama dalam porsi besar oleh warga.

​Berkat Maulid: Hasil masakan ini kemudian dibungkus dan dibagikan sebagai berkat (suvenir makanan khas Maulid) kepada seluruh warga dan para tamu yang hadir.

​Malam “Megaenan”: Malam Keakraban Ulama, Umara, dan Masyarakat

​Puncak kehangatan tradisi Pegayaman terlihat pada malam menjelang hari H yang dikenal dengan istilah Megaenan (malam memasak). Suasana malam di desa ini menjadi sangat magis dan penuh berkah karena bertemunya tiga unsur penting: para ulama, umara (pemerintah/pemuka adat), dan masyarakat umum.

​Mereka berkumpul menjadi satu di rumah Penghulu Desa Pegayaman sambil mengawasi proses memasak hidangan maulid. Yang membuat malam Megaenan semakin istimewa adalah lantunan Burdah Pegayaman yang dikumandangkan secara bergantian semalam suntuk.

Suara pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang diiringi rebana menggema di udara malam, menciptakan ketenangan batin sekaligus mempererat ikatan emosional antarwarga.

​Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Pegayaman membuktikan bahwa tradisi lokal dan nilai-nilai Islam dapat berpadu secara harmonis.

Semangat gotong royong, keikhlasan bersedekah, serta kebersamaan dalam alunan Burdah menjadikan perayaan ini warisan budaya luhur yang terus terjaga dari generasi ke generasi. []

*) Penulis adalah Tokoh Desa Pegayaman, Kepala MIN 2 Buleleng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *