Mantan Peneliti BPTP Bali Temukan Formula Probiotik Baru

DENPASAR – Mantan Peneliti Balai Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali, Suprio Guntoro, telah berhasil menemukan formula baru untuk memproduksi probiotik untuk unggas (ayam atau itik) pedaging.

Sebelumnya, awal tahun 2026 lalu, Guntoro, menemukan formula untuk produksi probiotik untuk ternak Ruminansia besar, yakni untuk sapi perah. Lewat seorang Widyaiswara (Ir. Dwita) dan beberapa PPL, probiotik baru temuannya yang dinamai “Super Probio” itu telah diuji coba pada 10 ekor sapi perah yang sedang laktasi milik para peternak di Kelurahan Pujon, Kota Batu-Malang.

Hasilnya cukup menyenangkan para petani, rata-rata produksi susu sapi yang memperoleh asupan “Super Probio” itu meningkat 1,5 – 2 liter per ekor per hari.
Lantas dilakukan uji coba ulang pada bulan Juni – Agustus lalu pada 15 ekor induk sapi perah yang sedang laktasi milik para peternak Desa Toyomerto, Kota Batu. Hasilnya konsisten, bahkan lebih baik. Rata-rata produksi susu sapi perah tersebut meningkat 3 – 4 liter per ekor per hari.

Pada bulan Maret lalu, risetnya untuk mendapatkan formula probiotik baru untuk unggas dimulai, dan berhasil mendapatkannya akhir bulan Juni. Dan langsung dicoba pada ayam pedaging di Tabanan awal Agustus lalu, dan hasilnya positif.

Ditemui saat berada di Bale Banjar Wanasari, Desa Sulangai, Kecamatan Petang, Rabu (12/8/2026), Guntoro mengakui, bhwa formula probiotik temuannya yang dinamai “Hyper Probio” ini, berbeda dengan probiotik- probiotik hasil temuan sebelumnya.
“Produk probiotik sebelumnya saya buat dengan menggunakan 1 spesies mikroba sebagai agen hayati, tapi untuk “Hyper Probio” saya gunakan 2 spesies untuk agen hayati. Masing-masing berupa “Lacgovacillus aciddophilus, yang kami isolasi dari cairan intestinum (uzus balus) di bagian ujung belakang, yakni di bagian ileum. Serta Bifidobacterium animalis, yang kami isolasi dari cocon (usus besar) sapi perah, sejenis mikroba dari usus Ruminansia yang paling beradaptasi di saluran pencernsan non- ruminansia (unggas), meskipun harus melewati masa adaptasi yang cukup panjang,” jelas Guntoro.

“Semua ini saya usahakan, mengingat probiotik ini akan diadu kualitasnya dengan probiotik dari AS, dari perusahaan indutri terkemuka di dunia, yakni NASA. Saya tahu, ini bukan kelasku untuk saya lawan. Tapi demi menjaga semangat “nasionalisme” dan kebangsaan teman-teman, khususnya para distributor pakan. Walau dalam hati saya sendiri merasa skeptis. Jangankan untuk menang. Untuk sama saja, amat sulit. Tapi meski kalah, janganlah selisih angkanya terlalu besar. Karena itu berbagai upaya saya kerjakan, berbagai cara saya usahakan sesuai dengan kenampuan dan kapasitas saya,” tambah Guntoro.

Setelah probiotik jadi, kata dia, dan segalanya telah siap maka uji coba pun dilakukan di Desa Sulangai, Kecamatan Petang. “Sebagai pelaksana di lapangan, saya percayakan sepenuhnya kepada sahabatku, seorang peternak ayam, Wayan Duniarta. Dengan pertimbangan, orangnya jujur, apa adanya dan terus-terang. Disamping itu, beliau tinggal di Desa Sulangai, sehingga memungkinkan untuk mengawasi secara intensif. Lagi pula dia adalah peternak yang tekun dan banyak pengalaman. Sehingga bila ada sesuatu yang aneh, beliau bisa bertindak secara cepat dan tepat. Maka, segalanya saya percayakan padanya,” papar Guntoro.

Saat uji coba dimulai, ia hanya memantau dari jauh, via HP. “Karena saya sudah bisa memprediksi, teknologi saya ini bukan lawannya produk NASA. Meski tanpa saya minta Pak Wayan selalu menelpon saya setiap malam untuk menyampaikan kondisi ayamnya,” jelasnya.
“Wah… Pak Gun. Ada yang aneh. Meskipun suhu udara di Sulangai sangat ekstrem, sangat dingin. Ayam tetap sehat dan lincah semua. Mereka hidup menyebar, tidak bergerombol di dekat lampu. (Artinya tidak ada yang merasa kedinginan). Ayam di tetangga saya kena snot (pilek berat). Kematian sudah mencapai 8 persen Pak. Ayam kita hingga malam ini masih sehat semua. Ayam yang mendapat probiotik NASA sudah mati 5 ekor, dari 100 ekor.”

“Itu info dari Pak Wayan, pada suatu malam. Terus ayam yang mendapat “Hyper Probio” sudah ada yang mati berapa ekor,” tanya Guntoro kepada Wayan Duniarta.

“Syukurlah Pak. Yang diberi “Hyper Probio” hingga malam ini belum ada yang mati. Jangankan mati, yang sakit satupun tidak ada,” tegas Pak Wayan.

Waktupun terus berjalan. Pada akhir minggu I, sesuai prediksi Guntoro, penggunaan probiotik buatan NASA, memang luar biasa. Ayam yang mendapat probiotik NASA tak tertandingi. Beratnya jauh di atas ayam-ayam yang mendapat probiotik produksi Nasional, termasuk “Hyper Probio”.

“Saya memaklumi, memang NASA, bukan lawan saya.
Namun yang mengejutkan saya, pada akhir minggu, ayam yang mendapat “Hyper Probio” mampu menyamai berat ayam-ayam yang mendapat probiotik NASA. Saya lega, namun dalam hati masih setengah tidak percaya, jangan-jangan ada salah timbang atau timbangannya yang tidak benar,” katanya.

Paginya, Guntoro menelpon Pak Wayan Duniarta, meminta untuk menera timbangan yang dipakai. Ia juga berpesan agar setelah timbangan ditera, dilakukan penimbangan ulang pada ayam-ayam tersebut.

“Saya ingatkan Pak Wayan agar melakukan penimbangan dengan lebih hati-hati. Setelah timbangan ditera dan dilakukan penimbangan ulang, hasilnya tidak berubah,” katanya.

Pada pertengahan minggu ke-4, atau umur ayam 30 hari, Pak Wayan melakukan penimbangan ayam. Hasilnya sungguh menakjubkan. Menurut Guntoro, ayam yang mendapat “Hyper Probio” mencapai bobot badan tertinggi dan berbeda “significant” dibandingkan ayam yang memperoleh probiotik NASA, apalagi dibanding yang probiotik prduksi nasional.

Kata Guntoro, pada umur 30 hari, ayam kontrol (tanpa mendapat probiotik, rata- rata beratnya 1.3 kg atau 1.300 – 1.400 gram. Sedang yang mendapat probiotik produk nasional rata-rata beratnya, 1.440 – 1.520 gam. Sedangkan yang mendapat probiotik NASA beratnya mencapai 1.660 -1.720 gram.

Lantas berapa berat ayam yang mendapat “Hyper Probio”? “Saya membaca kiriman data dari Pak Wayan dengan hati gemetar. Rata-rata beratnya 2.050 – 2.200 gram,” kata Guntoro.
“Pak Yan ini seriuskah? Jangan bohong, jangan guyon. Laporkan apa adanya. Jangan bohongi saya,” tegas Guntoro kepada Wayan Duniarta.

Wayan Duniarta tertawa ngakak. “Apakah saya pernah berbohong kepada Pak Gun? Ini serius Pak. Saya berani bersumpah. Ini saya sampaikan apa adanya. Kalau saya berbohong dengan Pak Gun, apa untungnya saya?” sergah Pak Wayan.

“Saya diam sejenak. Menarik nafas panjang. Lalu saya sujud syukur. Berterimakasih kepafa Allah yang telah meridhoi usaha kami,” ujar Guntoro.
“Salahnya Pak Gun jarang ke Sulangai. Jadi gak lihat langsung ayamnya. Tapi biar Bapak lebih yakin, sebentar saya share foto ayamnya,” Guntoro menirukan kata Wayan Duniarta. (bs)

Ket. Foto:

Kanan : Ayam umur 40 hari yang mendapat “Hyper Probio”

Kiri : Ayam umur 30 hari yang mendapat “Hyper Probio”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *