Usai dibuka bersama oleh Gubernur Bali Wayan Koster, Ketua DPRD Provinsi Bali Dewa Made Mahayadnya, Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra, Wakil Bupati Gede Supriatna, Ketua DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya, Kapolres Buleleng AKBP Ruzi Gusman, Dandim 1609/Buleleng Letkol Inf Achmad Setyawan Syah, dan Kajari Edi Irsan Kurniawan dengan pemukulan cengceng, pertunjukan diawali dengan menampilkan keberagaman etnis yang ada di Bali Utara oleh Sanggar Seni Manik Uttara.
Penampilan kedua diisi oleh Sanggar Seni Sari Kencana Desa Musi Kecamatan Gerokgak dengan judul Embas Sang Putra. Fragmen tari ini mengisahkan pertemuan Dalem Sagening dengan Ni Luh Pasek, orangtua dari Anglurah Ki Barak Panji Sakti.
Penampilan ketiga dari Sanggar Seni Rare Mekar dan Werdhi Kumara Kecamatan Tejakula yang menceritakan keseharian Anglurah Ki Barak Panji Sakti. Selain fragmen tari, ditunjukkan pula parade busana adat medeeng , busana khas Desa Sembiran, Tari Baris, dan kesenian wayang wong.
Fragmen tari selanjutnya diisi Kecamatan Busungbiu. Menceritakan saat Anglurah Ki Barak Panji Sakti diutus ke Denbukit. Kecamatan Busungbiu juga menampilkan kesenian tari sakral Rejang Kraman yang ditarikan lima tahun sekali sebagai rasa syukur atas panen yang berhasil.
Kisah Anglurah Ki Barak Panji Sakti bertemu raksasa Panji Landung dibawakan oleh Kecamatan Kubutambahan. Kecamatan ini juga menampilkan busana deeng perempuan, dan kesenian Gambuh dari Desa Bila.
Penampilan dari Kecamatan Seririt membawakan kisah Anglurah Ki Barak Panji Sakti saat menyelamatkan kapal karam milik saudagar Cina. Dilanjutkan dengan penampilan dari kecamatan Banjar dengan kisah Ki Barak saat dinobatkan menjadi Raja Buleleng. Kecamatan Sukasada menampilkan fragmentari Ki Barak Panji Sakti saat menyusun strategi untuk menyerbu kerajaan Blambangan. Dikisahkan Ki Barak Panji Sakti bersama para prajuritnya menggunakan strategi yang disebut megoak-goakan.
Berpindah ke Kecamatan Sawan, fragmen tari yang dibawakan mengisahkan Gugurnya Pangeran Danudhresta putra tunggal Ki Barak Panji Sakti saat melawan Raja Blambangan.
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menyampaikan parade budaya ini digelar untuk menyegarkan ingatan masyarakat tentang sejarah lahirnya Kota Singaraja. Ini juga sebagai ruang berkesenian bagi seniman-seniman tradisional di Buleleng. “Kita akan merangsang para yowana untuk kegiatan-kegiatan seperti ini,” ungkapnya.
Parade budaya dari masing-masing kecamatan juga menampilkan ke-khasan gebogan, uparengga, serta busana adat medeeng. Pawai ditutup dengan fragmen tari dari Kecamatan Buleleng yang mengisahkan Kejayaan Kerajaan Buleleng. Pementasan ini mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari penonton.
Turut hadir menyaksikan parade budaya Anggota DPRD Provinsi Bali Kadek Setiawan dan I Gede Kusuma Putra, Ketua dan Sekretaris TP PKK Ny. Wardhany Sutjidra dan Ny. Hermawati Supriatna, Ketua Gatriwara Ny. Luh Parmiti Arya, Ketua DWP Ny. Dewi Suyasa, Wakil Ketua dan anggota DPRD Buleleng, pimpinan perangkat daerah, pimpinan BUMD, dan undangan lainnya. (bs)

