Cerita Kampung dan Tokoh Muslim di Buleleng Barat-Bali (1)
Pada Sabtu (20/5/2023), Koordinator Forum Pemerhati Sejarah Islam (FPSI) Buleleng, Amoeng Abdurrahman, dan anggota FPSI Ketut Muhammad Suharto, Dodi Irianto dan Yahya Umar mengunjungi tokoh masyarakat Muslim Sumberkima, H. Ibnu Amal, di Banjar Dinas Mandarsari, Desa Sumberkima, Kecamatan Gerokgak, Bali. Pertemuan mendiskusikan sejarah dan perkembangan masyarakat Muslim di Sumberkima. Hasilnya ditulis dalam beberapa laporan, dimulai dari laporan pertama ini.
TOKOH-TOKOH Bugis Mandar merupakan orang-orang pertama (awal) yang merabas hutan belantara yang kini bernama Sumberkima. Tidak ada catatan pasti, tahun berapa tokoh-tokoh Bugis Mandar ini datang ke Sumberkima.
H. Ibnu Amal, salah seorang keturunan dari salah satu tokoh-tokoh awal perabas hutan Sumberkima, mengaku tidak punya catatan kapan nenek moyangnya datang ke Sumberkima. Namun, kedatangan mereka bisa diperkirakan dari cerita berikut ini.

Menurut H. Ibnu Amal, saat itu ada enam orang tokoh Bugis Mandar yang datang ke Sumberkima. Mereka dari Bugis Mandar. Nama-nama tokoh tersebut yakni Kannai Moti, Daeng Siajang, Puwak Caco, Daeng Siki, H. Kokkong (H. Paing), dan Muhiddin.
Kenapa 6 orang yang masih dalam satu keluarga tersebut datang ke Sumberkima? H. Ibnu Amal menceritakan, ada kisah yang membuat malu nenek moyangnya. Suatu ketika ada anggota keluarga perempuan dilamar orang. Namun, lamaran itu ditolak oleh keluarganya. Karena ditolak, justru si perempuan lari (pulang) ke rumah yang laki-laki (si pelamar).
Tentu saja keluarga dari nenek moyang H. Ibnu Amal merasa malu atas kejadian itu. Karena itu, mereka (keluarga ini) sepakat untuk meninggalkan kampung halaman di Sulawesi. Tujuan pertama keluarga ini adalah kepulauan kecil yang masih ada di kawasan Sulawesi. Namun, di sana tidak lama. Keluarga ini kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Pulau Sepeken di Madura.

Di Sepeken mereka tinggal hanya beberapa bulan. Dari Pulau Sepeken, mereka kemudian berlayar lagi melanjutkan perjalanannya. Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah pesisir yang sekarang dinamakan Sumberkima. (Konon nama Sumberkima berasal kata sumber mata air tawar di pinggir pantai dan kima atau kerang).
Sesampai di Sumberkima, para petualang dari Mandar ini tertarik dengan tanah di daerah ini. Mulailah mereka merabas hutan. “Habis merabas mereka kembali ke perahu. Begitu seterusnya,” tutur H. Ibnu Amal, yang punya nama kecil Benu Amang ini.
Nenek moyang H. Ibnu Amal merabas hutan hingga ke atas, mendekati bukit. “Waktu itu tidak ada penduduk di daerah ini. Yang banyak adalah binatang liar dan buas, seperti macan, buaya, kijang dan lain-lain,” kata H. Ibnu Amal.

Setelah berhasil merabas hutan, para tokoh awal Sumberkima ini kemudian mendirikan rumah. Rumah yang didirikan adalah rumah-rumah panggung khas Bugis Mandar. Bahannya dari dari kayu bakau yang banyak tumbuh di pesisir pantai Sumberkima. Beberapa rumah panggung masih berdiri sampai saat ini.
“Macan-macan banyak berteduh di bawah rumah panggung nenek moyang kami. Ada hal yang dilarang keras dilakukan oleh penghuni rumah panggung agar macan-macan tidak marah dan buas. Yakni membuang lombok. Kalau ada yang membuang lombok, macan-macan akan marah dan buas,” cerita H. Ilmu Amal. (bs)
Bersambung………..

