KAMIS (10/11/2022), lampu pencahayaan di ruang Museum Soenda Ketjil nampak menyala. Museum yang berada di areal Pelabuhan Tua Buleleng itu dipenuhi anak muda. Menggunakan pakaian trendi masa kini, mereka menikmati musik dan lagu yang diputar dengan turntable atau pemutar piringan hitam.
Kedatangan mereka ke Museum Soenda Ketjil untuk menghadiri acara Senandung Padu Irama. Sebuah acara yang digelar oleh sekelompok anak muda yang tergabung dalam Hulutara. Acara digelar dari petang hingga malam hari.
Senandung Padu Irama dirangkaikan dengan peringatan Hari Pahlawan. Acara dikemas dalam bentuk gelar arsip rilisan piringan hitam dan kaset tua serta pemutaran musik dari piringan hitam dan kaset pita. Arsip yang dipamerkan produksi tahun 60-an hingga tahun 90-an. Total ada 50 buah piringan hitam dan 100 kaset pita.
Digelarnya Senandung Padu Irama tersebut berawal dari kesamaan ketertarikan tentang arsip rilisan fisik piringan hitam dan kaset pita yang dilanjutkan dengan penelurusan arsip. Arsip rilisan fisik ini banyak ditemukan di berbagai radio dan perorangan yang ada di Singaraja. Salah satunya, di RRI Singaraja banyak ditemukan rilisan fisik piringan hitam yang saat ini tidak termanfaatkan lagi. Hal inilah yang mendorong Hulutara untuk melaksanakan gelar arsip.
Aryawan, salah satu inisiator Hulutara, mengatakan, “Kita melihat ada arsip piringan hitam yang cukup banyak di RRI Singaraja, dan penting untuk disebarluaskan kepada anak-anak muda yang mempunyai ketertarikan tentang rilisan fisik. Hal inilah yang mendorong kami menggelar acara ini”.
Dalam pemilihan tempat pun, cukup banyak pertimbangan yang dilakukan. Akhirnya dipilih Museum Soenda Ketjil. Pemilihan museum ini, selain untuk menambah kesan vintage pada acara, juga untuk mengenalkan museum.
Banyak yang tidak mengetahui isi Museum Soenda Ketjil. Dengan acara gelar arsip rilisan fisik ini, Hulutara mencoba untuk mengenalkan dan mengaktifkan Museum Soenda Ketjil. “Museum ini sangat bangus dan mempunyai nilai historis yang kuat tentang Buleleng. Kami sangat bersyukur Dinas Kebudayaan Buleleng bersedia mendukung kami, dalam acara kali ini. Kami diijinkan untuk menggelar acara Senandung Padu Irama di tempat yang penuh histori ini,” jelas Aryawan.
Dalam acara yang dimulai dari pukul 17.30 hingga 21.30 Wita ini, para pengunjung disuguhkan gelar arsip rilisan fisik piringan hitam dan kaset pita. Selain itu, para pengunjung juga dapat mendengarkan musik dan lagu dengan menggunakan turntable dan tape kaset pita. Para pengunjung diijinkan untuk memilih musik dan lagu yang mereka ingin dengarkan. Selain itu, para pengunjung pun diajak untuk berdendang selayaknya konser musik private, dengan pemandu lagu.
Suasana hangat dan intim terlihat dari para pengunjung yang datang. Pengunjung sebagian besar adalah anak muda. Mereka mengaku baru pertama kali masuk ke Museum Soenda Ketjil. “Ini pertama kali masuk museum. Kalau tidak ada acara gelar arsip rilisan fisik ini, saya tidak akan datang ke sini. Ternyata tempatnya keren juga jika diaktifkan seperti ini. Mau-mau ya kita pasti melihat isi dari musem,” ucap Mulya Pradita, Frontman Pemuda Karaoke Sehat.
Senandung Padu Irama, salah satu program yang baru dibuat oleh Hulutara. Hulutara sendiri baru dibentuk pada awal tahun 2020. Kelompok ini dibentuk atas dasar keinginan menjelajah Bali Utara. Mereka berharap bisa mengenal lebih dalam Singaraja dari hulu sampai hilir.
Sebelum menginisiasi program Senandung Padu Irama, Hulutara diketahui telah melahirkan 2 program lain, yakni program kuliner bersama Dapur Bali Mula dan kunjungan ke Pagi Motley serta workshop penulisan lontar bersama Sugi Lanus. (*)

