#Orang Pegayaman Itu Berasal dari Blambangan

PADA hari Senin, 20 September 2021, dimulai perjalanan saya mencari jejak sejarah Pegayaman. Pada saat itu, saya mendapat kesempatan menghadiri undangan seminar tentang validasi manuskrip tulisan-tulisan kuno tentang sejarah dari perjalanan dakwah Islam di Bali.
Seminar tersebut dilaksanakan di Hotel Aston Banyuwangi, 20 – 22 September 2021. Pelaksana dari kegiatan tersebut adalah Puslitbang Semarang. Ini adalah kegiatan validasi data yang kedua setelah sebelumnya dilaksanakan di Denpasar setahun yang lalu itu (2019).
Alhamdulillah, pada kesempatan itu saya sebagai penulis sangat banyak mendapatkan data-data tentang keterkaitan antara Desa Pegayaman dengan Kerajaan Blambangan Banyuwangi, Jawa Timur. Keterkaitan tersebut dilihat dari peninggalan-peninggalan yang ada. Di antara peninggalan-peninggalan yang ada dan selama ini berkembang, adanya satu suku yaitu Suku Osing.
Di dalam Suku Osing ini, aktivitas budayanya hampir bersamaan dengan budaya yang berkembang di Pegayaman. Contohnya, dalam dialek Osing sangat berbeda dengan yang lainnya. Ada penekanan-penekanan dan tambahan kata yang menjadikan ciri khas dari Suku Osing untuk di Banyuwangi. Bila dikaitkan dengan Desa Pegayaman, dalam kehidupan sehari-harinya aksen dialek warga Pegayaman sangat berbeda dengan bahasa yang ada di Bali. Di Pegayaman ada juga tambahan-tambahan kata dan penekanan-penekanan khusus dalam praktiknya.
Di Suku Osing, saya temukan juga ada kesenian burdah yang disebut dengan Burdah Gemblung. Kesenian burdah ini menggunakan rebana besar yang terbuat dari bungkil kelapa. Irama-iramanya yang menyesuaikan dengan irama-irama yang ada, kalau saya rasakan hampir mirip dengan gending Bali. Ini bisa jadi karena Osing ini terkait dengan Blambangan, yang merupakan jajahan Bali pada saat zaman Kerajaan Blambangan dulu. Otomatis semua budaya yang berkembang di Blambangan itu juga adalah budaya Bali.
Dalam kesenian burdah ini bila ditarik benang merahnya dengan Desa Pegayaman yang ada di Bali, ada satu korelasi yang sangat dekat. Hampir mirip, baik alat burdahnya, yaitu rebananya. Juga irama-iramanya yang mengikuti situasi kondisi di mana burdah itu berjalan dan berkembang. Seperti burdah yang ada di Pegayaman, tembangannya mengikuti situasi dan kondisi yang ada di Bali, dengan ciri khas iramanya itu mirip dengan kidung Bali, pakaiannya pakaian Bali, akan tetapi yang dibaca adalah Al Barzanji.
Budaya lain yang ada di Osing adalah endog-endogan. Dari cerita para penulis yang ada di Blambangan, endog-endogan seperti juga yang dilaksanakan di Pegayaman ketika bulan Maulid, yaitu namanya sokok taluh. Endog-endogan dan sokok taluh ini ada kesamaannya. Yakni telur yang ditusuk katik yang dibuat dari bambu kemudian diisi bunga. Lantas katik ditancapkan di pohon pisang atau gedebong kemudian diarak keliling kampung itu seperti yang juga berlaku di Pegayaman.
Itulah yang saya temukan dalam perjalanan mencari bukti sejarah Pegayaman. Kesimpulan sementara, Pegayaman itu sama dengan suku Osing dan berasal dari Blambangan. Satu bukti pertama yang bisa disimpulkan, bila dilihat dari situasi dan kondisi, termasuk dari adat budaya yang berkembang bahwa Pegayaman itu berasal dari Blambangan.
Yang menarik juga, di Suku Osing masih ada dan berkembang Hamad i Muhammad. Di Dusun Gelagah, suku Osing memperagakan Hamad i Muhammad menjadi drama singkat.
Hal itu saya temukan kesamaannya dengan kidung Hamad i Muhammad di Desa Padangbulia, desa tetangga Pegayaman. Di Padangbulia, yang beragama Hindu, kidung Hamad i Muhammad dibaca setiap hari raya Hindu tetap setiap tahunnya. Di sana, ada satu cerita bahwa Gayaman datang yang pertama itu dari Blambangan. (bs)

