BULELENG – Setra Adat Buleleng di Jalan Gajah Mada Singaraja tidak seram lagi. Setra ditata dengan cantik dan bersih.
Ke depan, selain difungsikan sebagai setra, Setra Adat Buleleng, juga akan disulap menjadi objek wisata kota. Karena itu, secara fisik setra ditata dan dipercantik. Sementara cerita-cerita perjuangan yang terjadi di Setra Adat Buleleng di zaman Jepang dan Belanda akan dibangkitkan menjadi wisata sejarah.

Hal itu diungkapkan Kelian Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna, di sela-sela jalan santai dan penyemprotan eco enzyme di kawasan Setra Adat Buleleng, Minggu (10/10) pagi.
“Atas arahan dari panglingsir (Panglingsir Tridatu, Made Rimbawa-red) tadi, bagaimana setra ini nantinya bisa dimanfaatkan dari bidang pariwisata. Kami bersama prajuru adat, saba desa, satgas gotong royong, pokdarwis yang kita ajak untuk mengenal Setra Adat Buleleng yang baru kita rapikan sedikit demi sedikit. Supaya bersih, nyaman, berguna bagi masyarakat,” paparnya.
Menurut Sutrisna, sesuai dengan koordinasi 14 banjar adat yang ada di wewidangan Desa Adat Buleleng disepakati bahwa nanti wewidangan ini dilaksanakan oleh pengelola setra. “Pengelola setra nanti mencoba mendesain kembali apa yang menjadi keinginan kita bersama. Yaitu Setra Adat Buleleng dijadikan sebagai tempat wisata,” ujar Sutrisna.
Diungkapkan, Setra Adat Buleleng memiliki kisah historis di masa perjuangan, baik di zaman Jepang maupun Belanda. Dalam sejarahnya, pohon kepuh yang ada di Setra Adat Buleleng dulu ada rumah pemantauan. “Gerilyawan-gerilyawan yang ada di Buleleng ini melakukan pemantauan kapal-kapal yang ada di pesisir pantai melalui pohon kepuh ini. Karena itu, dulu dibuatkanlah rumah pohon di atas pohon kepuh ini,” jelasnya.
Kata dia, dari rumah pohon tersebut para gerilyawan memantau kapal-kapal yang ada di laut. Apabila ada kapal, maka akan dibunyikan sirene. Kemudian gerilyawan menyebar dan bersembunyi.
“Ini akan kami buat ceritanya melalui Pokdarwis Lila Cita Ulangun yang sudah kita bentuk. Mudah-mudahan teman-teman yang tergabung dalam Lila Cita Ulangun ini bisa menjabarkan konsep wisata yang ada di Desa Adat Buleleng. Dari depan setra ini ada relief Bima Swarga. Dalam relief ini kita buat semacam cerita secara tertulis. Kemudian masuk ke setra ada rumah pohon dan di dalam rumah pohon kita juga bercerita,” tambahnya.
Selain itu, lanjut Kelian Adat Buleleng, 14 banjar adat yang ada di wewidangan ini, akan dibuatkan gumuk yang cukup unik. Menurutnya, saat ini di bagian timur Setra Adat Buleleng ada satu gumuk peninggalan zaman Belanda. “Dia beragama Kristen. Oleh karena itu, kami akan mencari ceritanya kok sampai orang Belanda ini ada di Setra Adat Buleleng ini. Cerita ini cukup unik yang kita coba buatkan. Ini bisa membantu Pemkab Buleleng menambah daya tarik wisata lagi. Tapi bersifat religius,” katanya.
Menurutnya, keberadaan Setra Adat Buleleng bisa dijadikan paket city tour di wewidangan Desa Adat Buleleng. “Kita memiliki objek wisata yang cukup banyak untuk city tour. Pertama, dari utara ada Pelabuhan Buleleng, tempat perjuangan para pejuang di Buleleng. Ada Museum Sunda Kecil. Kemudian ke arah selatan lagi ada Masjid Agung Jamik. Di situ ada peninggalan Alquran yang cukup tua ditulis di zaman Kerajaan Buleleng dulu,” terangnya.
Ke selatan lagi, kata Sutrisna, ada Setra Adat Buleleng. Lalu ada Puri Kanginan dan Puri Kawanan. “Itu cukup luas. Di sekitar itu ada pancoran desa, ada juga Museum Buleleng dan Gedong Kirtya. Ke selatan lagi nanti ada rumah Nyoman Rai Srimben, ibunda Bung Karno,” lanjutnya.
“Jadi wewidangan Desa Adat Buleleng penuh cerita historis yang bisa dibanggakan di bidang pariwisata. Ini yang kita gali dan kita bangkitkan city tour yang ada di Desa Adat Buleleng. Ini suatu ikon kalau berbicara wisata, ini yang mempunyai suatu nilai di bidang pariwisata,” tandasnya. (bs)

