‘KAMRATAN’, TRADISI KHAS LOLOAN YANG HANYA ADA DI BULAN SYAWAL

KAMRATAN adalah kegiatan halal bihalal secara massal yang dilakukan secara bersama-sama dengan kegiatan silaturrahmi mengunjungi rumah tetangga masing-masing yang masih berada di dalam satu kampung di dalam bulan Syawal. Tradisi ‘Kamratan’ di Loloan merupakan tradisi yang rutin dilaksanakan secara turun-temurun setiap bulan syawal.

Hal ini cukup unik karena bersilaturrahmi secara berjamaah, dengan berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnnya. Yang dikunjungi pertama kali adalah warga yang usianya paling tua, baru disusul ke rumah tokoh masyarakat yang usianya lebih muda dan atau mengunjungi tokoh-tokoh alim ulama yang ada. Tradisi ini cukup rutin dilaksanakan oleh masyarakat di Kampung Cempake, Kampung Selimut dan Kampung Pertukangan, Kelurahan Loloan Barat.

Waktu pelaksanaan ‘kamratan’ dimulai pada jam 7.00 wita sd jam 9.00 wita. Tradisi ini dimulai pada tanggal 2 Syawal sampai dengan tanggal 7 Syawal. Dalam tradisi ‘kamratan’ ini masyarakat bisa bersilaturrahmi secara serentak kepada seluruh warga. Selain bersilaturrahmi, ‘kamratan’ juga bertujuan untuk memberikan contoh kepada generasi muda agar memiliki adab menghormati kepada yang lebih tua.

Kegiatan ‘kamratan’, bukan silaturahim biasa. Karena setiap kali berada di rumah yang dikunjungi, diisi dengan kegiatan membaca tahlil dan dzikir secara singkat, yang ditutup dengan membaca do’a untuk keselamatan tuan rumah dan keluarganya, serta seluruh warga kampung.

Menurut penjelasan sesepuh Loloan Barat, H. Abdul Khalik, tradisi ‘kamratan’ di Loloan tergolong unik karena setelah selesai menikmati konsumsi, maka peserta ‘kamratan’ menyanyikan syair kuno Melayu, dibawah ini:

“Selamat pagi…wahai tuan rumah.

Itulah ucapan kami…barangkali kami ada yang bersalah,

Mintalah maaf dengan sungguh hati.

Mudah mudahan Alloh membalas…serta memurahkan rejeki.

Beberapa varian hidangan dari menu konsumsi dalam tradisi ‘kamratan, yaitu menu sarapan pagi  lontong lebaran yang khas sebagai menu pembuka yang disuguhkan kepada jamaah sebelum ‘kamratan’ dimulai dan juga nasi plecing’s sebagai suguhan makanan penutup. Dan tak lupa pula bungkusan atau oleh oleh yang disebut dengan “berkatan” berupa kue basah ataupun nasi plecing untuk dibawa pulang jamaah ‘kamratan’ ke rumah masing-masing. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *