GABSI Buleleng Mulai Seleksi Atlet, Targetkan Prestasi di PORPROV Bali 2027

BULELENG – Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (GABSI) Kabupaten Buleleng mulai mematangkan persiapan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) Bali 2027. Sejumlah atlet lintas generasi mengikuti pertandingan Pra-PORPROV Bridge yang digelar pada 17–18 Oktober 2026.

Ajang ini menjadi sarana evaluasi kemampuan sekaligus penjaringan atlet potensial untuk memperkuat tim Buleleng, yang akan berlaga di ajang olahraga tingkat provinsi tersebut dengan status sebagai tuan rumah.

Ketua Umum GABSI Kabupaten Buleleng, Drs. I Made Nuridja, M.Pd., mengatakan Pra-PORPROV merupakan tahapan penting untuk mengukur kemampuan atlet sekaligus menemukan bibit-bibit pemain potensial. Ia berharap proses pembinaan dan seleksi mampu menghasilkan atlet terbaik yang siap bersaing dan menyumbangkan medali emas bagi Buleleng pada PORPROV Bali 2027.

“Pertandingan Pra-PORPROV ini wajib dilaksanakan sebagai sarana untuk mengukur kemampuan atlet sekaligus mencari bibit-bibit pemain potensial yang akan dipersiapkan menghadapi PORPROV 2027,” ujarnya.

Pertandingan ini diikuti atlet dari berbagai klub dan wilayah di Kabupaten Buleleng, mulai Gerokgak hingga Tejakula, dengan melibatkan pemain junior hingga atlet elite. Kompetisi berlangsung selama dua hari dengan mempertandingkan kategori pasangan putra, pasangan putri, dan pasangan campuran (mixed pairs). Format round robin digunakan untuk memberikan kesempatan kepada setiap pasangan bertanding melawan pasangan peserta lainnya.

Selain persaingan antarpasangan, Pra-PORPROV kali ini juga menjadi gambaran keberlanjutan regenerasi atlet Bridge Buleleng. Salah satu momen menarik adalah pertemuan empat generasi pemain dalam satu meja pertandingan.

Pada hari pertama, I Made Nuridja, Putu Budiastana, Kadek Adnyana Wiyasa, dan Gede Raditya Manohara bertanding dalam satu meja. Pertemuan lintas generasi serupa kembali terjadi pada hari kedua dengan melibatkan Putu Budiastana, Gede Raditya Manohara, Ni Kadek Oppi Swandari, dan Putu Marselina Handayani.

Nuridja menegaskan, atlet yang masuk empat besar pada masing-masing kategori bersama atlet elite akan masuk tim bayangan untuk menjalani pembinaan dan seleksi lanjutan.

“Evaluasi dilakukan dengan mempertimbangkan konsistensi permainan, kemampuan teknis, kerja sama antarpasangan, serta kesiapan mental bertanding,” tegasnya. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *