Ketika Syariat Bertemu Adat: Membedah Tradisi Lebaran dan Muludan di Pegayaman

* Oleh H. Muhammad Qosim, S.Pd.SD M.Pd

DESA Pegayaman yang terletak di Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, dikenal luas sebagai perkampungan Muslim yang memegang teguh nilai-nilai keislaman sekaligus merawat harmoni dengan budaya lokal.

Di desa ini, cara masyarakat menyambut hari-hari besar Islam—khususnya antara Hari Raya Idulfitri (Lebaran) dan Maulid Nabi Muhammad SAW—memiliki karakteristik yang sangat unik dan menarik untuk disimak.

Jika Idulfitri dijalankan sebagai murni ritual keagamaan yang bersih dari embel-embel adat khusus, maka peringatan Maulid Nabi justru dirayakan dengan kemegahan budaya, tradisi, serta akulturasi lokal yang kental.

Lebaran: Ibadah Murni Tanpa Embel-Embel Adat

Bagi masyarakat Desa Pegayaman, perayaan Hari Raya Idulfitri (Lebaran) berpusat pada esensi spiritualitas Islam itu sendiri. Pelaksanaannya merujuk langsung pada rukun Islam dan tuntunan syariat tanpa terikat oleh ritual tradisi adat tertentu yang bersifat lokal.

Fokus Ibadah Ritual: Rangkaian Lebaran dimulai dari malam takbiran, pelaksanaan Salat Idulfitri secara berjemaah di masjid, hingga pembayaran zakat fitrah.

Silaturahmi Universal: Selepas ibadah, kegiatan utama warga adalah saling bermaaf-maafan (halal bihalal), mempererat tali silaturahmi antar-keluarga, dan bertamu ke tetangga terdekat.

Sifat Perayaan: Sifatnya universal sebagaimana umat Islam di belahan dunia lain, di mana fokus utamanya adalah kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa, kembali ke fitrah, serta mengagungkan kebesaran Allah SWT tanpa melibatkan atribut budaya spesifik daerah.

Maulid Nabi: Perayaan Akbar yang Sarat Tradisi dan Akulturasi

Sebaliknya, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW (yang oleh warga setempat kerap disebut Muludan) di Desa Pegayaman adalah sebuah perayaan akbar yang sarat dengan kearifan lokal dan akulturasi budaya.

Tradisi ini telah dijaga secara turun-temurun selama ratusan tahun sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah sekaligus wujud pelestarian warisan leluhur.

Tradisi Sokok Base: Masyarakat membuat hiasan menyerupai pajegan yang disebut sokok atau sokok base, berisi rangkaian sirih, bunga, buah, dan telur yang dihias sedemikian rupa di atas dulang. Ini melambangkan rasa syukur atas kelahiran Nabi sekaligus hasil bumi.

Akulturasi Busana dan Kesenian: Dalam perayaan ini, grup kesenian lokal seperti Sekaa Burdah menampilkan atraksi dengan mengenakan atribut busana tradisional Bali (seperti udeng dan lancingan), serta melantunkan puji-pujian dengan langgam atau kidung bernuansa lokal.

Terdapat pula parade hadrah, seni bela diri pencak silat, hingga tarian tradisional yang digarap secara kolaboratif.

Gotong Royong Kolektif (Megaenan): Jauh hari sebelum hari H, warga bergotong royong mulai dari mencari bambu, menyiapkan janur (ambu), hingga tradisi megaenan (memasak bersama) di mana warga mengumpulkan sedekah untuk menyembelih sapi dan membagikannya dalam bentuk “berkat” kepada seluruh warga dan tamu.

Perbedaan cara merayakan Lebaran dan Maulid Nabi di Desa Pegayaman menunjukkan kedewasaan masyarakat dalam mengelola identitas keagamaan dan kebudayaan.

Lebaran dijalankan sebagai bentuk kepatuhan vertikal yang murni kepada Sang Pencipta, sementara Maulid Nabi dijadikan ruang ekspresi kultural untuk merawat persaudaraan, mengekspresikan cinta kasih kepada Nabi, sekaligus merawat harmoni hidup berdampingan di Pulau Dewata. []

*) Penulis adalah Tokoh Desa Pegayaman, Kepala MIN 2 Buleleng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *