* Oleh Umar Ibnu AlKhattab
PERAYAAN dua hari raya suci dua agama, Hindu dan Islam, akan dilaksanakan hampir secara bersamaan. Hari Raya Nyepi akan dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 2026 dan Hari Raya Idul Fitri akan dilaksanakan pada tanggal 20-21 Maret 2026.
Perayaan yang hampir bersamaan ini telah diantisipasi oleh pemerintah dan tokoh-tokoh agama di Bali melalui komunike bersama. Komunike bersama itu berisikan sejumlah syarat wajib bagi umat Islam yang akan mengumandangkan takbir di malam lebaran yang bersamaan dengan prosesi Nyepi yang dilakukan oleh umat Hindu.
Kendati menuai polemik, komunike bersama itu diyakini sebagai jalan keluar yang moderat, yakni tidak boleh menggunakan alat pengeras suara dan diupayakan agar dilakukan di rumah masing-masing.
Gubernur Bali, Wayan Koster (Pak Koster), sendiri sangat getol membangun konsolidasi dan koordinasi dengan para tokoh agama demi menjaga komunike bersama itu bisa berjalan dengan baik. Bahkan dalam komunikasinya dengan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Pak Koster telah menerima jaminan dari PP Muhammadiyah bahwa jamaah Muhammadiyah akan melakukan takbir dari rumah masing-masing.
Upaya Pak Koster ini memperlihatkan betapa pemerintah ingin agar semua perayaan hari suci berjalan dengan baik, tanpa ada gesekan yang mengancam keharmonisan Bali yang telah terbangun sejak lama.
Pertanyaan kita adalah bagaimana kita melihat variable ekonomi dalam perayaan kedua hari suci ini. Secara umum, baik Nyepi maupun Idul Fitri, adalah perayaan yang memiliki dampak ekonomi sangat besar. Artinya perputaran uang dalam masa perayaan itu sangat banyak yang memengaruhi ekosistem ekonomi.
Dalam konteks ekonomi Bali, masa sebelum Nyepi, misalnya, masyarakat Bali mempersiapkan ogoh-ogoh, total biaya pembuatan ogoh-ogoh bisa mencapai 5 juta hingga 20 juta rupiah lebih, mencakup sterofoam, besi, cat, kayu, kain, dan konsumsi.
Kita bisa menghitung berapa banyak ogoh-ogoh yang dibuat, dari bentuk yang sederhana hingga bentuk yang mendatangkan decak kagum. Belum lagi biaya pengadaan buah-buahan untuk rentang hari dari Sugihan hingga Nyepi, bumbu dapur, janur, daging babi, dan bunga.
Di luar itu ada biaya logistik bagi yang bukan umat Hindu, yakni kebutuhan selama aktivitas di luar rumah tidak diperbolehkan. Jika semua biaya itu dihitung, tentu sangat besar, dan yang terpenting adalah bahwa perputaran uang yang sangat besar itu tidak saja berada di segmen pelaku usaha besar, tetapi juga pada segmen menengah dan kecil, hampir semuanya merasakan nikmatnya “kue” perayaan Nyepi.
Di sisi lain, perputaran uang pada perayaan Idul Fitri juga tidak kalah besarnya. Kendati minoritas dengan persentase sekitar 10% hingga 12% dari total penduduk Bali, umat muslim di Bali tersebar di seluruh kabupaten/kota, dengan konsentrasi terbesar berada di Kota Denpasar, dengan jumlah kurang lebih 500 ribu orang, tentu saja mereka menyambut Idul Fitri dengan penuh “kemenangan”.
Mereka merayakannya dengan pakaian yang baru, kue-kue yang beraneka rasa dan bentuk, bersilaturahmi satu sama lain sambil menikmati suguhan opor ayam atau makanan lainnya, bermaaf-maafan sembari berbagi angpao untuk anak dan cucu, mengeluarkan zakat mal dan fitrah, termasuk mendatangi tempat-tempat wisata dan mengunjungi sanak saudara di kampung halamannya, semua itu membutuhkan biaya yang besar.
Jika masing-masing mengeluarkan biaya sebesar satu juta rupiah, terbayang berapa miliar yang berputar saat Idul Fitri berlangsung. Penerima manfaat tidak saja pemerintah karena mendapatkan pajak, tetapi juga pelaku ekonomi atas, menengah dan kecil. Dampak ekonomi sangat terasa, bahkan seorang sahabat tiba pada kesimpulan saat ia melihat antrian panjang mudik di Pelabuhan Gilimanuk, ekonomi Bali telah menggeliat menuju bangkit.
Hemat kita, baik Nyepi maupun Idul Fitri telah memberikan sebuah pemandangan yang optimistis tentang perekonomian Bali. Artinya perekonomian Bali sangat berkembang, dan itu relevan dengan capaian pertumbuhan ekonomi Bali tahun 2025 di mana ekonomi Bali tumbuh tinggi mencapai 5,82 persen. Sebuah capaian tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.
Demikian pula tingkat pengangguran terbuka turun drastis menjadi 1,45% dan angka kemiskinan turun menjadi 3,42%, dan juga pendapatan per kapita meningkat menjadi Rp72,66 juta, tumbuh 7,93% dari tahun 2024.
Secara keseluruhan, ekonomi Bali 2025 berkinerja positif dengan pertumbuhan yang melampaui target pembangunan dan menempatkan Bali di posisi tinggi secara nasional. Tidak heran jika perayaan Nyepi dan Idul Fitri kali ini sangat semarak, pawai ogoh-ogoh menggabungkan kreatifitas dan kesanggupan finansial.
Demikian pula antrian panjang di Pelabuhan Gilimanuk menunjukkan betapa besarnya antusiasme menyambut lebaran dan banyaknya biaya yang dikeluarkan.
Itulah sekedar ilustrasi batapa Nyepi dan Idul Fitri membawa dampak ekonomi yang sangat besar, dan apabila dikelola dengan baik tentu akan berakibat kepada tingginya angka pertumbuhan Bali di masa depan.
Dus dengan demikian bisa memperkecil jarak kesenjangan dan menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran di Bali.
Akhirnya, kita mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Nyepi kepada saudara, sahabat, dan kolega kita yang beragama Hindu dan selamat merayakan lebaran Idul Fitri kepada saudara, sahabat, dan kolega yang beragama Islam.
Kita berdoa kiranya baik Nyepi maupun Idul Fitri mampu membawa kedamaian bagi kita semua. Kita juga mendoakan para pemimpin kita di Bali agar mereka lebih punya kepedulian terhadap kita semua, dan kita harus meyakini bahwa perayaan Nyepi dan Idul Fitri yang nyaris bersamaan kali adalah berkah bagi kita.
Ini adalah anugerah terindah bagi kita agar kita bisa menghayati betapa pentingnya persatuan di antara kita dan perlunya moderasi beragama di tengah kehidupan kita. Dengan demikian, kehidupan sosial kita makin berkualitas di tengah tumbuhnya ekonomi Bali yang positif.
Wallahu a’alamu bish-shawab.
Yogyakarta, 19 Maret 2026.
*) Penulis adalah Pengamat Kebijakan Publik

