- Dari Janger Menyali, Burdah Pegayaman, Barong Sai hingga Boneka Gendong Desa Les
BULELENG menyimpan pluralisme. Kehidupan masyarakatnya penuh ragam. Juga seni budayanya.
Ragam seni budaya di Bali utara tersebut akan menjadi bagian dalam Bala Gurnita Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Negeri Mpu Kuturan Singaraja, Duta Buleleng untuk Pawai Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 tahun 2025. Pawai atau peed aya PKB ke-47 tahun 2025 akan dilaksanakan pada 21 Juni 2025 nanti.
Sebelum ditampilkan di ajang resmi pembukaan PKB ke-47 tahun 2025 tersebut, konsep pawai Duta Buleleng ‘diuji-coba’ ditampilkan di Kampus STAHN Mpu Kuturan (sekarang Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan), Selasa (27/5/2025) sore, di hadapan Tim Pembina dari Provinsi Bali.
Diawali barisan pembawa papan nama didampingi pasangan Jegeg Bagus Buleleng. Pasangan ini memakai busana payas agung khas Buleleng. Payas (riasan) menggunakan ‘ksir’ di bagian pundak serta empak-empak dan bunga tunjung tutur.
Pusung songgeng (tata rambut khas Buleleng) di bagian belakang. Gemerlap pakaian Jegeg Bagus terlihat dari songket dan tenun endek sutra Mastuli yang digunakan. Ini semakin memperkokoh payas agung Jegeg Bagus Buleleng.


Barisan Uparengga berada di barisan kedua Pawai Duta Buleleng. Barisan ini membawa kober Singa Ambara Radja, kober Swastika, bandrangan, payung/tedung, dan lelontek. “Barisan ini kental dengan nuansa merah sebagai simbol keberanian Panji Sakti yang turun-temurun diwarisi oleh masyarakat Buleleng baik dalam kehidupan sosial budaya terutama khazanah keseniannya,” tutur Pimpinan Produksi Pawai PKB Duta Buleleng, I Putu Ardiyasa, di sela-sela pembinaan oleh Tim Provinsi Bali.
Wajah pluralisme Bali utara ditampilkan dalam barisan ketiga. Pada barisan ini ditampilkan kesenian Janger Menyali, Burdah Desa Pegayaman, Barong Sai Klenteng Ling Gwan Kiong di Pelabuhan Tua Buleleng, dan Boneka Gendong dari Desa Les. Barisan ini diiringi oleh dua orang patih yaitu Ki Dosot dan Ki Dumpyung sebagai penasehat yang senantiasa menjadi abdi setia.
Ditampilkan juga senjata sakti keris Ki Mundaran menjadi tanda keagungan seorang Panji Sakti di dalam memimpin Kerajaan Buleleng. “Buleleng sebagai daerah pesisir memang menyimpan
kehidupan plurarisme. Penuh dengan keragaman seni dan budaya,” tutur Ardiyasa.
Tari Kreasi Padeengan berjudul “Bungan Deeng” di barisan berikutnya, yang barisan garapan tematik. Deeng Buleleng biasanya dipergunakan khusus saat upacara Ngaben Utama pada rentetan acara “Pebaktian Keluarga“. Dimana semua keluarga yang masih dalam satu trah, wajib memberikan penghormatan terakhir kepada tetua yang di-aben.
“Keunikan tradisi Ngaben Utama di Buleleng adalah “Ngaturang Bungan Deeng”. Artinya jika keluarga bersangkutan mendapatkan “Pemeras” (biasanya setara cucu, cicit, kompyang), mereka wajib ngaturang/ngejot dengan ada sepasang deeng kepada keluarga yang melaksanakan upacara Ngaben,” jelas Ardiyasa. Garapan ini diiringi dengan Barungan Angklung Don Pitu Khas Buleleng.


Berikutnya adalah barisan Bandung Rangki dengan iringan tabuh kecil/madya. Garapan ini mengisahkan laku masyarakat Desa Pedawa saat memanen getah aren/jaka. Atau dalam bahasa Pedawa disebut ngalih nira/nuwakin, hingga diolah menjadi gula aren khas Pedawa di rumah Bandung Rangki.
Nira atau tuak dalam budaya masyarakat Pedawa merupakan produk pertanian yang sangat penting untuk kemudian diolah menjadi gula aren khas Pedawa. Pembuatan gula aren khas Pedawa biasanya dilakukan dalam rumah adat khas Pedawa yang dikenal dengan Rumah Adat Bandung Rangki.
Aktivitas memanen nira atau tuak ini merupakan laku yang sangat sakral bagi masyarakat Desa Pedawa. Bahkan ada sebuah kepercayaan untuk tidak boleh berbicara dan saling menyapa sepanjang perjalanan ketika membawa nira atau tuak menuju rumah Bandung Rangki.
“Jika melanggar pantangan tersebut, dipercaya sebagai bentuk tindakan tidak menghargai hasil pohon aren atau pohon jaka yang dipanen. Ditakutkan pohon jaka akan marah dan tidak mau lagi mengeluarkan getah atau tuaknya,” jelas Ardiyasa. Masyarakat Pedawa juga tidak berani untuk menebang pohon aren atau pohon jaka yang masih produktif.
“Untuk menghidupkan suasana pertunjukan dengan nuansa khas desa Pedawa, karya ini menghadirkan bentuk garapan kreasi dalam bentuk barungan madya. Terinspirasi dari pola-pola gamelan gong duwe yang ada di Pedawa, garapan barungan madya ini kemudian diimplementasikan dalam bantuk garapan gamelan gender batel blelengan,” jelasnya.
Untuk membangun suasana yang lebih sakral pada garapan ini juga diberikan sentuhan sasendonan atau vokal yang terinspirasi dari cengkok vokal kakidungan sakral yang ada di Desa Pedawa. Sebagai bentuk ciri khas kebudayaan Desa Pedawa yang sangat unik.
Dalam garapan ini juga dihadirkan reflika Rumah Adat Bandung Rangki khas Pedawa. Ciri khas rumah adat Bandung Rangki tersebut adalah tata arsitektur bangunan ini yang mebandung bersilang antara posisi api atau dapur dengan air atau gentong serta antara tempat tidur orang tua dengan tempat tidur anak.
“Selain itu yang menjadikan rumah ini unik, adalah karena rumah ini memiliki fungsi yang sangat lengkap mulai dari fungsi dapur, rumah tinggal, aktivitas keseharian atau pekerjaan hingga aktivitas ritual dapat dilakukan di dalamnya. Sebagai rumah adat, rumah Randung Rangki juga difungsikan sebagai tempat penyelenggaraan aktivitas-aktivitas ritual kepercayaan masyarakat Desa Pedawa,” tambahnya.
Aktivitas ritual tersebut yaitu Dewa Yadnya, Butha Yadnya, Manusa Yadnya, hingga Pitra Yadnya semua dapat diselesaikan hanya dalam satu bangunan rumah yaitu Rumah Adat Bandung Rangki khas Desa Pedawa. Rumah Adat Bandung Rangki juga merupakan representasi laku budaya masyarakat Desa Pedawa yang sangat menghargai pelestarian dan keberlanjutan alam.
“Nilai Rumah Adat Bandung Rangki dapat dilihat dari penggunaan material bangunan yang hanya menggunakan bahan alami yaitu Bambu dan Kayu yang tumbuh subur dan berlimpah di Desa Pedawa,” ujar Ardiyasa.
Setelah barisan Bandung Rangki, disusul barisan garapan tematik berjudul “Agra Bhuwana Raksa” atau “Penjaga Peradaban Hulu”. Garapan ini mengisahkan masyarakat Desa Pedawa yang menjalani ritus Saba Malunin. Sebuah ritus yang sudah menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) penanda kesuburan, kemakmuran, dan kedamaian masyrakat Pedawa yang ditujukan kepada Hyang Bhatara Lingsir.
“Atau dalam bahasa Pedawa disebut tegteg. Tegteg ring Pawongan, Palemahan lan Parhyangan. Sebuah tradisi kuno yang diwariskan hingga saat ini oleh masyarakat Pedawa sebagai bentuk laku ‘Penjaga Peradaban Hulu’ hingga tercapai Jagat Kerti.”
Sebagai barisan pamungkas dalam Bala Garnita STAH Negeri Mpu Kuturan (IMK), ditampilkan barisan gamelan Adi Mredangga. Adi Mredangga digunakan untuk mengiringi karya ini dengan mengedepankan karakter tabuh-tabuh Bali utara seperti lelonggoran dan sekatian.


Karya pawai Duta Buleleng digarap STAH Negeri Mpu Kuturan (IMK) tersebut mendapat apresiasi dari Tim Pembina Provinsi Bali. “Saya menyampaikan selamat kepada STAHN Mpu Kuturan atau Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan atas penampilan pawai tadi. Sungguh luar biasa. Konsep pawai sudah bagus,” kata salah seorang Tim Pembina Provinsi Bali, Prof. Dr. Wayan Dibia.
Ia menaruh harapan besar bahwa wakil atau duta dari Buleleng akan mampu menampilkan sesuatu yang sangat memukau bagi para penikmat pawai di pembukaan PKB ke-47 nanti. Prof. Dibia hanya memberi beberapa catatan. Misalnya jalan dari Jegeg Bagus Buleleng harus diperlembut, agar tidak kelihatan anggut-anggutnya.
“Teknik-teknik tari yang dilibatkan dalam pawai ini mohon dipertegas lagi. Tari janger, itu bisa ditambah masing-masing 6 pasang. Kalau hanya tiga, suara janger tidak kelihatan. Suasana janger kurang ceria,” kata dia.
Sementara untuk drama dalam garapan tematik, Prof. Dibia meminta agar ditekankan lagi apa yang mau ditonjolkan. “Karena tadi memang ramai, tapi yang mau ditonjolkan apa. Supaya pesan pokok yang mau ditampilkan tidak terkaburkan oleh keramaian yang ada di dalamnya,” ujar mantan Rektor ISI Denpasar (sekarang ISI Bali) ini.
Sementara pembina lainnya, I Gede Nala Antara, meminta agar waktu pawai lebih diperpendak. Ia menghitung dalam ‘uji coba’ tersebut, dari awal hingga akhir pawai menghabiskan waktu 17 menit. Padahal jatah waktu masing-masing peserta pawai nantinya 10 menit. Bisa ditoleransi hingga 15 menit. (bs)

