BULELENG – Pemuda Pelopor Buleleng, M. Syahrizal Aldi, melakukan edukasi dan mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami berbasis moderasi beragama di Desa Pengastulan, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali. Kegiatan ini dilakukan sejak 2023 hingga 2025 ini.
“Dengan kegiatan ini diharapkan masyarakat Desa Pengastulan dan sekitarnya, khususnya para pemuda, menjadi lebih mempersiapkan diri dan lebih tangguh menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami dengan mengedepankan nilai-nilai toleransi dan saling menghargai satu sama lainnya,” kata Aldi, Sabtu (17/5/2025).
Ia menjelaskan, kegiatan edukasi dan mitigasi semacam itu akan terus dilakukan secara berkala sehingga dapat membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya pemahaman terhadap mitigasi bencana yang memuat nilai-nilai moderasi beragama.

Menurut Aldi, yang juga seorang guru atau pengajar di MI Al Huda Pengastulan ini, kegiatan tersebut tidak hanya menyasar pemuda di Desa Pengastulan saja, namun juga pemuda se-Kecamatan Seririt yang terwadahi dalam Komunitas Aksara (Apresiasi Kesenian Seririt Raya). Selain itu, Aldi juga melakukan kegiatan kepeloporan ini di beberapa lembaga pendidikan se-Kecamatan Seririt, seperti SMAN 1 Seririt, SMA Saraswati Seririt, MI Al Huda Pengastulan, dan PKBM Al Huda.
Kenapa dilakukan di Desa Pengastulan dan sekitarnya? Menurut Aldi, berdasarkan histori dan beberapa informasi dari masyarakat Desa Pengastulan, pada tahun 1976 desa ini pernah diterpa gempa bumi dahsyat dengan kekuatan 6,2 Skala Richter yang pusatnya berada di daratan. Gempa bumi saat itu menelan banyak korban jiwa dan merusak berbagai infrastruktur yang ada.
“Dari informasi yang saya terima, para korban yang meninggal kebanyakan diakibatkan tertindih tiang besar, tembok-tembok, dan bangunan,” jelasnya.
Dipaparkan Aldi, saat itu gempa terjadi pada sore hari ketika masyarakat sedang melakukan aktivitas seperti biasa. Selain itu, masyarakat saat itu juga masih belum memiliki pengetahuan terkait kesiapsiagaan terhadap bencana gempa bumi. Gempa bumi tersebut menjadi gempa pertama yang menyebabkan trauma berat bagi masyarakat Desa Pengastulan yang tidak dapat dilupakan.
Aldi juga menjelaskan, pada 2019, desa ini juga pernah mengalami gempa bumi dengan kekuatan 5,1 Skala Richter dengan pusat gempa berada di lautan. Waktu itu, masyarakat panik dan keluar rumah. Gempa terjadi dua kali, namun tidak banyak menimbulkan banyak kerusakan infrastruktur.
“Pada waktu itu, ada oknum dari masyarakat yang menyatakan bahwa gempa tersebut akan menyebabkan terjadinya tsunami di Desa Pengastulan, sehingga banyak masyarakat yang lari naik ke daratan yang lebih tinggi. Karena keterbatasan informasi dan pengetahuan, masyarakat menjadi sangat panik dan langsung lari ke tempat yang lebih tinggi secara beramai-ramai,” ujar Aldi.
Di sisi lain, Aldi melihat, masyarakat di Desa Pengastulan saat ini sangat mengabaikan adanya potensi bencana gempa bumi. Hal itu terlihat ketika bencana terjadi, banyak warga yang panik dan tidak mengetahui prosedur keselamatan semacam apa yang perlu dilakukan untuk menyelamatkan diri.
“Hal inilah yang membuat saya merasa khawatir. Bahwa di Desa Pengastulan masih terdapat masyarakat yang minim pengetahuan, khususnya para pemuda terkait mitigasi bencana, misalnya gempa bumi dan tsunami,” jelasnya.

Menurut Aldi, masyarakat hanya menjadikan mitigasi bencana sebagai studi literatur saja dan belum ada kegiatan pendidikan mitigasi bencana kepada para pemuda. Pengetahuan dan simulasi mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami tidak banyak dimiliki masyarakat di Desa Pengastulan, terutama para pemuda yang menjadi generasi penerus desa. “Sehingga perlu adanya peningkatan kapasitas pengetahuan terkait mitigasi bencana gempabumi dan tsunami ini,” tandasnya.
Dijelaskan Aldi, di Kecamatan Seririt, secara umum, masyarakatnyat beragama Islam, Hindu, dan Kristen. Khusus di Desa Pengastulan terdiri dari masyarakat yang beragama Islam dan Hindu. Menurutnya, segala aspek keagamaan dilakukan dengan saling menghargai dan toleransi satu sama lain.
Namun, kata dia, para pemuda di Desa Pengastulan masih melakukan aktivitas kegiatan umum hanya sebatas di lingkungan per banjar saja, antara pemuda Islam dan Hindu masih terpisah per banjar. Hal ini dikarenakan kurangnya koordinasi dan kerjasama antar pemuda Hindu dan Muslim dalam melakukan kegiatan tersebut.
Dengan adanya konsep moderasi beragama, Aldi berinisiasi merangkul para pemuda di Desa Pengastulan, baik yang beragama Islam maupun yang beragama Hindu, juga merangkul Sekaa Teruna Teruni (STT) untuk diberikan edukasi dan simulasi mitigasi bencana gempa dan tsunami berbasis moderasi beragama.
“Saya yakin hal ini dapat memperkuat dan meningkatkan rasa saling tolong-menolong dan gotong-royong masyarakat di Desa Pengastulan dalam mempersiapkan diri menghadapi bencana alam. Akan tercipta rasa saling membangun dan membantu antarumat beragama ketika ada bencana datang,” tandasnya.

Salah seorang peserta, Disma Maulidia, dari Desa Pengastulan mengatakan, edukasi dan simulasi mitigasi bencana yang disampaikan Aldi sangat bermanfaat. “ Kegiatan ini memberikan ilmu dan edukasi yang sangat bermanfaat bagi para pemuda di Desa Pengastulan. Kami jadi bisa memahami bagaimana dan mengetahui kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana, dari cepat, tepat dan tanggap jika terjadi gempa bumi,” katanya.
Ia menjadi lebih tahu bagaimana cara evakuasi diri saat terjadi bencana, apakah bencana gempa bumi dan atau tsunami. (bs)

