DI Singaraja, Bali, hanya dengan Rp 3.000, Anda dapat menikmati ‘janda berhias’. Di bulan Ramadan, ‘janda-janda berhias’ ini banyak dijual orang, terutama di pasar atau warung-warung kaget Ramadhan yang ada di kota Singaraja.
Ya ‘janda berhias’ adalah nama sebuah kue atau jajanan. Dibuat dari bahan tepung beras, dicampur santan. Lantas diolah dan dibentuk sebentuk gelas mini atau sebentuk ember minil. Di tengah juga diisi daging sapi atau ayam yang dipotong kecil-kecil.
Setelah itu kue tersebut dikukus atau dibakar. Oh ya, di bagian atasnya ditaburi bawang merah goreng, seledri dan irisan lombok besar merah. Itu penambah keindahan tampakan kue dan sekaligus penambah rasa.
Beberapa pedagang di warung atau pasar kaget Ramadhan menjual kue janda dengan harga bervariasi. Sesuai ukuran kue tersebut. Ada yang menjual satu biji Rp 3.000, ada yang menjual Rp 2.000. Tentu saja yang harga Rp 2.000 ukurannya lebih kecil.


Pada bulan Ramadhan, pasar kaget bermunculan di kota tua Singaraja. Baik di Jl. Jeruk, Jalan Pattimura, Jalan Manggis, Jl. Salak, Jl. Hasanuddin dan di beberapa ruas jalan lainnya. Namun, yang paling ramai dikunjungi orang, termasuk warga Bali yang ingin mencicipi kuliner-kuliner yang khas Ramadhan. Di antaranya ya kue ‘janda berhias’.
Salah seorang pembuat kue ‘janda berhias’, Abdur Razak alias Jajak, warga Kampung Kajanan Singaraja, menuturkan, sudah sejak lama membuat kue ‘janda berhias’. Ia mengaku, di hari-hari biasa, sebenarnya ia juga membuat kue ‘janda berhias’. Biasanya ia titipkan di Warung Khodijah atau Warung Bik Juk, salah satu warung legendaris di kota Singaraja.
“Tapi tidak sebanyak di bulan Ramadhan. Kalau di bulan Ramadhan, saya titip di beberapa warung atau stand penjual takjil,” katanya.
Menurut Jajak, di bulan Ramadhan ia biasanya menerima banyak pesanan atau orderan untuk pelengkap menu buka puasa bersama. “Alhamdulillah, rezeki Allah SWT yang ngatur,” paparnya.
“Jadi selain dijual untuk umum dititipkan di pasar kaget Ramadhan, saya juga banyak menerima orderan. Kalau yang dititipkan biasanya kalau ada sisa dikembalikan. Alhamdulillah selama ini tidak pernah ada sisa atau dikembalikan,” tambah Jajak.
Ia mengatakan, dalam membuat kue ia selalu ingat pesan orangnya, yakni yang penting ada kejujuran. Bahan-bahannya atau proses pembuatannya. Jajak juga mengatakan, Laranta Bakery miliknya sudah memiliki sertifikat halal.
Di bawah lebel usaha “Laranta Bakery”, Jajak membuat kue ‘janda berhias’ bakar dan ‘janda berhias ‘kukus’. ‘Janda berhias’ kukus berwarna putih. Sedangkan ‘janda berhias’ bakar berwarna kuning. Menurutnya, tentu cita rasa kue ‘janda berhias’ bakar dan ‘janda berhias’ kukus berbeda. Namun, harga jualnya sama, Rp 3.000.
“Bahannya dari tepung beras, santan, margarine, dan daging sapi atau ayam yang dipotong kecil-kecil. Saya pakai daging sapi. Kalau ayam nggak kuat, cepat bau (basi, red). Kalau daging sapi kuat. Kalau ada sisa, bisa disimpan di kulkas sampai dua atau tiga hari tidak apa-apa. Tapi Alhamdulillah selama ini tidak pernah tersisa,” kata Jajak.
Di atas kue ‘janda berhias’ tersebut, lanjut dia, ditaburi irisan lombok merah besar, seledri, dan bawang merah goreng. “Taburan irisan lombok besar, seledri dan bawang goreng itu bikin tambah mengundang selera. Tambah enak,” jelasnya.


Kenapa dinamakan kue ‘janda berhias’? Jajak mengaku tidak tahu persis sejarahnya mengapa kue itu dinamakan ‘janda berhias’. Tapi, kata dia, kalau joke atau guyonannya, dulu orang-orang tua ketika ingin makan kue selalu minta ke anaknya untuk dibelikan kue pada seorang janda.
Dari sanalah akhirnya kue-kue yang dijual oleh janda tersebut popular atau disebut ‘kue janda berhias’. Kata ‘berhias’ bisa jadi diambil dari kebiasaan sang janda jika berjualan kue selalu berhias.
Seorang warga Singaraja, Kadek Yasmin, penasaran dengan kue ‘janda berhias’. Karena itu, ia lantas mencarinya di pasar kaget Ramadhan di Jl. Salak. Ia mengaku, di hari-hari biasa jarang menemukan kue ‘janda berhias’.
Ia kemudian membeli kue ‘janda berhias’, baik yang bakar maupun yang kukus. “Saya penasaran bagaimana rasa kue ini. Nanti saya coba saat sudah buka puasa,” ujarnya.
Ketika diceritakan kenapa dinamakan ‘kue janda berhias’ seperti disebutkan di atas, Yasmin tertawa kecil. “Oh gitu toh?!” (yum)

